Berguru Gayeng pada Cah Andong

Kebiasaan memang berubah seiring waktu. Begitu juga aku.

Ini pada zaman masih aktif di Pers Mahasiswa (Persma) Akademika Universitas Udayana Bali. Kalau berkunjung ke satu kota, maka aku mampir ke Persma di kota itu. Misalnya ke Jogja, maka wajib hukumnya mampir di Balairung dan Bulaksumur, dua media milik mahasiswa Universitas Gajah Mada (UGM) Jogja. Atau nebeng tidur di sekretariat Himmah, majalah mahasiswa Universitas Islam Indonesia (UII) Jogja.

Ke Lombok mampir Media, nama majalah teman-teman Universitas Mataram. Ke Malang mampir Indikator, milik mahasiswa Fakultas Ekonomi Universitas Brawijaya Malang. Dan seterusnya..

Continue reading “Berguru Gayeng pada Cah Andong”

Menghentikan Waktu yang Sudah Berlalu

Tentu saja setiap orang ingin jadi abadi. Atau setidaknya dikenang oleh orang lain. Atau, paling mentok, mengenang tentang dirinya sendiri. Banyak caranya. Orang zaman batu, pada zaman bahuela membuat coretan-coretan di dinding gua untuk mengenang sesuatu. Ada pula yang membuat arca, artefak, atau malah yang paling gila popularitas alias megalomania ya bikin semacam piramida, Taj Mahal, candi borobudur, dan seterusnya.

Waktu berlalu. Manusia toh tetap saja ingin mencoba menghentikan waktu itu, meski dia tidak mampu. Maka, manusia kemudian menemukan cara lain. Misalnya dengan gambar, foto, atau tulisan. Manusia tidak bisa menghentikan waktu. Tapi dia bisa mengabadikan kenangan dengan cara itu.

Continue reading “Menghentikan Waktu yang Sudah Berlalu”

Hapuskan Pasal Pengekang Kebebasan Informasi!


April lalu Dewan Perwakilan Rakyat (DPR) mengesahkan Undang-undang Informasi dan Transaksi Elektronik (ITE). Selain mengatur masalah transaksi elektronik, UU No 11 tahun 2008 ini juga mengatur ketentuan tentang informasi di dunia maya. Aturan-aturan itu rentan mengancam kebebasan berekspresi terutama pada Pasal 27 ayat (1), Pasal 27 ayat (3), Pasal 28 ayat (2), dan Pasal 31 ayat (3).

Pasal-pasal tersebut pada umumnya memuat aturan-aturan warisan pasal karet (haatzai artikelen), karena bersifat lentur, subjektif, dan sangat tergantung interpretasi pengguna UU ITE ini. Selain itu, materi pada pasal-pasal tersebut juga bertentangan dengan hak asasi manusia (HAM) terutama tentang kebebasan informasi dan kebebasan berekspresi maupun UUD 1945 tentang kebebasan berpendapat. Sebab setiap pengguna informasi, termasuk blogger di dalamnya, bisa diancam hukuman penjara kapan saja.

Continue reading “Hapuskan Pasal Pengekang Kebebasan Informasi!”

Perusakan atas Nama Pembangunan

Minggu-minggu ini berita tentang perusakan lingkungan di Bali terus menggangguku. Di danau Buyan, Bedugul banyak villa sedang di bangun. Padahal Buyan adalah salah satu dari empat danau terbesar di Bali yang tidak hanya mengaliri sawah-sawah di sekitarnya. Buyan juga tempat di mana petani Bali Hindu menghaturkan sembah pada penguasa air.

Lalu di Wongaya Betan, Tabanan juga baru saja diletakkan batu pertama pembangunan villa atas nama pariwisata. Villa yang katanya untuk terapi spiritual itu dibangun di kawasan hijau. Tidak hanya tempat petani bercocok tanam, tapi juga tempat masyarakat Bali menggantungkan sumber pangan selain Jatiluwih.

Continue reading “Perusakan atas Nama Pembangunan”

Kopdar Mini ala BBC

Kalau nurut jadwal, Bali Blogger Community (BBC) sebenarnya punya agenda rutin kopi darat (kopdar) tiap dua bulan sekali. Karena terakhir kali kami semua ketemuan Februari lalu pas launching BBC, maka seharusnya April ini ada agenda kopdar. Aku sih memang menunggu saja ada teman yang mau berinisiatif ngundang kumpul dan makan-makan. Sayangnya, ternyata bulan ini tidak ada juga undangan dari pihak berwenang. 🙂

Untunglah, minggu ini aku bisa juga kopdaran dengan beberapa teman BBC di Bandung. Di sela-sela pelatihan menulis yang diadakan Komisi Penanggulangan AIDS (KPA) Nasional, aku berniat ketemu dengan beberapa teman di kota sejuk ini. Dan, senangnya lagi, dua teman BBC di Bandung, Aprillia dan Eka, mau juga diajak ketemuan.

Continue reading “Kopdar Mini ala BBC”

Aku Makin Terasing dari Tulisanku

Bunda benar. Makin hari, aku makin merasa tulisan-tulisanku di blog memang makin tidak asik. Aku sendiri menyadari itu. Tiga atau empat tulisanku terakhir di blog memang seperti sesuatu yang lahir tidak dari hati. Aku menulisnya sekadar biar ada tulisan di blog. Tulisanku hanya karena biar ada, bukan karena aku benar-benar ingin menulisnya.

Aku lalu ingat kutipan Thomas Carlyle di buku kado pernikahan temanku, I Ngurah Suryawan. “Jika sebuah buku lahir dari hati, ia akan berusaha menjangkau banyak hati yang lain.” Buku hanya sebuah idiom. Dia bisa juga berupa tulisan, masakan, ucapan, dan apa saja. Jika sesuatu itu memang sesuatu yang tulus, muncul dari hati, maka akan terasa bagaimana sesuatu itu mengalir. Lalu meraih hati yang lain untuk larut di dalamnya.

Continue reading “Aku Makin Terasing dari Tulisanku”

Fitna Lebih Kejam Daripada YouTube

Ya, ya. Akhirnya aku tidak tahan juga untuk tidak menulis soal masalah ini meski sudah banyak banget blog yang menulisnya. Soalnya kalau dibiarkan memang pikiran ini lama-lama jadi mbenjol keluar. Takutnya lalu jidatku tambah jadi lengar dan longor. Hahaha..

Kali ini soal blokir beberapa situs yang memuat film Fitna, yang dianggap melecehkan Islam. Hmm, kalau sudah soal agama memang repot. Makanya tidak usah beragama. *Padahal aku sendiri tidak berani untuk tidak beragama. 😉

Continue reading “Fitna Lebih Kejam Daripada YouTube”

Blogku pun Naik Kasta

Padahal ada beberapa ide untuk nulis seperti pemblokiran YouTube, penggunaan blog oleh para calon gubernur Bali, dan printil-printil lain. Cuma kok moodnya belum dapet. Maka nulis ini sajalah..

Setelah sempat dag dig dug ketika ngoprek di bawah bimbingan Om Asn, akhirnya blogku bisa juga naik kasta. Hehehe.. Jadi inilah perubahan keempat dari blogku ini. Awalnya di jirovun.blogspot.com lalu berubah (1) rumahtulisan.blogspot.com, (2) rumahtulisan.wordpress.com, (3) rumahtulisan.com, dan (4) rumahtulisan.com pakai WordPress 2.5.

Continue reading “Blogku pun Naik Kasta”

Ancaman di Balik UU ITE

Setelah kemarin aku nulis sedikit materi, apresiasi, dan pertanyaan seputar Undang-undang Informasi dan Transaksi Elektronik (ITE), maka sekarang waktunya ngomong soal terakhir, ancaman UU ITE pada blogger.

Tiga hal yang menjadi perhatianku adalah soal ancaman hukuman penjara bagi blogger, ancaman terhadap kebebasan berpendapat, dan penyeragaman informasi oleh negara. Bagi sebagian orang, ancaman ini mungkin dianggap berlebihan. Tapi menurutku sah-sah saja. Kalau sudah ada aturan, negara atau seseorang jadi punya alasan untuk membawa persoalan ini ke tingkat hukum.

Continue reading “Ancaman di Balik UU ITE”

Teknologi Ini Telah Mengubah Kami

Ada yang lucu pas aku main ke rumah Bli Pande Kamis kemarin. Aku, Wawan, Novan, Bunda, Bani, dan Bayu menjenguk anaknya Bli Pande yang lahir Selasa lalu. Pas aku tanya siapa nama anaknya, Bli Pande yang juga anggota Bali Blogger Community (BBC) ini menjawab dengan yakin, “Baca saja di blog.”

Sekitar seminggu lalu, jawaban yang sama juga dibilang sama Bunda ketika aku tanya soal cerita hari itu. Kami memang biasa ngobrol saling cerita apa yang terjadi hari itu pas malam menjelang tidur. Waktu itu Bunda baru saja habis pasang alat kontrasepsi untuk mengatur kehamilan. Pas aku tanya, dengan yakin dia menjawab, “Baca saja di blog.”

Dua jawaban ini seperti nonjok aku pas di muka sambil bilang, “Rasain Lu!” Hehe.

Continue reading “Teknologi Ini Telah Mengubah Kami”