Berguru pada Alam di Eco Camp

0 , , Permalink 0


Gemericik air terdengar begitu dekat di telinga.

Pagi baru saja mulai. Sisa-sisa embun masih membasahi rumput dan daun-daun. Sinar matahari masih terhalang rimbun pohon-pohon. Udara masih dingin menusuk tulang.

Pagi itu, sekitar pukul 6, belasan anak muda 20an tahun, diam dalam hening. Mereka membentuk lingkaran. Dalam diam, mereka mendengarkan suara alam. Memejamkan mata agar telinga lebih peka.

Seorang pemandu berdiri di tengah-tengah mereka. “Pejamkan mata. Dengarkan suara alam. Rasakan udara dalam diri kita..,” katanya.

Dalam diam dan mata terpejam, telinga dan pikiran memang terasa lebih tajam. Maka, suara burung, gemericik air, hingga desau angin pun terasa lebih akrab.

Meditasi pagi menjadi ritual tiap hari di Eco Camp, Bandung. Begitu pula ketika aku di sana selama tiga hari, 31 Juli – 2 Agustus 2015. Aku diundang memfasilitasi pelatihan jurnalisme warga untuk relawan Earth Hour WWF Indonesia dari 12 kota.

Selama tiga hari pelatihan, para peserta melakukan meditasi pagi dua kali. Pada hari terakhir tidak ada karena harus siap-siap cabut dari tempat di Bandung bagian utara itu.

Meditasi di Eco Camp, menurutku, agak berbeda dengan meditasi pada umumnya. Biasanya, meditasi dilakukan untuk mengolah napas atau tubuh. Namun, di Eco Camp, meditasi lebih banyak untuk mendengarkan suara alam. “Agar kita bisa lebih memahami dan belajar dari alam,” kata Shierly Megawati, pengelola Eco Camp.

Karena itu, ada hal-hal unik dalam meditasi di Eco Camp. Misalnya memeluk pohon atau mencium bumi. Bisa sekadar merasakan apa yang keduanya rasakan atau juga mengucapkan terima kasih.

Benar juga. Karena mereka semua hidup dan menghidupi kita, berapa kali sih dalam sehari kita coba sesekali mengucapkan terima kasih kepada mereka?

Tapi, meditasi hanya salah satu cara untuk berterima kasih dan menyayangi bumi. Eco Camp punya banyak cara lain dalam bentuk lebih praktis.

Eco Camp berdiri sejak 2002 namun baru resmi disahkan pada Januari 2015.

Tempat ini berada di kawasan Bandung utara. Hanya berjarak sekitar 500 meter dari Taman Hutan Raya Djuanda. Kawasannya relatif sejuk dengan suhu masih berkisar belasan derajat Celcius.

Di lahan seluas 6.000 meter persegi ada aula, kamar menginap, dapur, tempat bermain, kebun sayur, dan kantor operasional Eco Camp. Semua dikelola dengan prinsip ramah lingkungan dan berkelanjutan. Ada tujuh prinsip dalam mengelola Eco Camp yang bertujuan untuk mewujudkan cita-cita Eco Camp, “Manusia berkualitas. Merawat Bumi dan berguru pada Bumi.”

Prinsip yang disebut Tujuh Kesadaran Baru Hidup Ekologis itu sifatnya abstrak semua: sederhana, hemat, peduli, semangat berbagi, kebermaknaan, bermartabat, dan green science.

Namun, di Eco Camp, tujuh prinsip tak hanya sekadar catatan di atas kertas. Mereka mempraktikkannya dalam aksi.

Aku lihat sendiri, misalnya, mereka menggunakan listrik tenaga matahari, mengolah air limbah untuk memelihara kebun, menerapkan pertanian organik, mendaur ulang sampah, hingga membuat bangunan ramah lingkungan. Makanan pun vegetarian.

Eco Camp kemudian menjadi tempat belajar bagi banyak orang. Komunitas Earth Hour WWF Indonesia hanya salah satunya. Ada pelajar, mahasiswa, komunitas guru, dan lebih dari 6.000 orang pernah belajar di tempat ini.

Kami semua belajar bahwa menyayangi Bumi tak sekadar basa-basi. Harus dalam aksi.

No Comments Yet.

Leave a Reply

Your email address will not be published.