Ironi Popularitas yang Tiada Batas

3 , , , Permalink 0

“Masalahnya, aku tak bisa membohongi kalian.”

Maka, penulis surat wasiat itu, Kurt Cobain, pun memilih bunuh diri. Dia menembak dirinya sendiri pada 5 April 1994 silam. Di samping mayatnya yang kaku, Kobain meninggalkan catatan bunuh diri yang dia tulis dengan tangan.

The fact is, I can’t fool you, any of you. It simply isn’t fair to you, or to me. The worst crime can think of would be to pull people off by faking it, pretending as if I’m having one 100% fun.”

Begitu salah satu bagian dari catatan Cobain menjelang bunuh diri. Catatan ini kemudian jadi pembuka kotak pandora betapa sepi hidup salah satu musisi paling berpengaruh pada awal 1990-an ini.

Padahal, pemilik nama panjang Kurt Donald Cobain itu tengah di puncak popularitas. Band yang dia dirikan, Nirvana, salah satu band terpopuler di panggung musik dunia. Ketika itu, Nirvana telah menjual 25 juta album di Amerika dan 50 juta album di seluruh dunia, salah satu penjualan terbesar yang pernah dicapai musisi dunia.

Masih muda, karena baru berumur 27 tahun. Populer. Kaya. Dipuja-puja. Namun, Cobain tak menikmati semua pencapaiannya.

Tak cuma Cobain. Beberapa selebritis dunia pun memilih bunuh diri atau pernah mencoba bunuh diri ketika mereka sedang di puncak popularitas. Michael Jackson, Whitney Houston, dan seterusnya menambah panjang daftar selebritis yang justru terbebani oleh popularitas.

Kalau tak bunuh diri, maka ada pula yang kemudian dibunuh penggemarnya. John Lenon termasuk di antaranya.

Popularitas itu tak cuma milik selebritis. Ada pula politisi yang kemudian mati ketika mereka di puncak popularitasnya. John F Kennedy dan Mahatma Gandhi hanya dua di antaranya.

Ironisnya, ketika popularitas adalah beban bagi sebagian orang, pada saat yang sama, jutaan orang lain sedang memburu popularitas itu. Orang-orang awam berlomba dengan segala cara agar bisa dikenal banyak orang, entah dalam skala kecil ataupun paling besar.

Maka, ajang pencarian bakat seperti Indonesian Idol masih selalu diikuti ribuan anak muda yang bermimpi jadi selebritis. Ada pula yang mati-matian berusaha agar terkenal dengan cara mengunggah video ke internet.

Jejaring sosial, seperti Facebook dan Twitter pun kini menjadi salah satu tangga mencapai popularitas itu. Pengguna Twitter pun sepenuh hati berburu follower. Ketika baru punya 10 follower, maka ingin 100. Ketika punya 100, ingin 1.000, lalu, 10 ribu, 100 ribu, sejuta follower, dan seterusnya. Kita tak pernah puas dengan apa yang kita miliki. Sebab, rasa puas itu tak berbatas.

Dan, ketika semakin bertambah follower maka kita semakin merasa hebat. Merasa derajat pun kain terangkat. Seolah-olah jumlah follower bisa menjadi penanda seberapa tinggi kastamu di dunia maya.

Padahal, popularitas itu berbanding terbalik dengan privasi. Semakin populer kita, maka semakin hilang privasi yang kita miliki. Orang memburu tanda tangan artis, minta foto bersama politisi, dan seterusnya. Pada awalnya menyenangkan. Namun, lama-lama dia akan jadi beban.

Kita kemudian kehilangan privasi, dan parahnya lagi, kepribadian. Kita jadi manusia penuh pura-pura demi memuaskan orang lain. Demi terlihat sempurna. Saat itulah kemudian kita akan sadar, popularitas kemudian seperti bumerang berisi belati. Dia berbalik. Menusuk kita sendiri..

Keterangan: ilustrasi diambil dari sini.

3 Comments
  • adiarta
    April 18, 2012

    untungnya saya sudah berhenti mengejar popularitas di dunia maya (tapi nggak pensiun).. kalo nggak, ujung-ujungnya saya bisa kehilangan kepribadian, atau malah bunuh diri, hehehe…
    tapi memang itulah adanya manusia, takaran kepuasannya tidak bisa diukur…

  • putri astiti
    April 22, 2012

    sangat setuju

  • Herman Lalu
    May 3, 2012

    ..semua adalah perjuangan dan pencarian jati diri, sampai kita tahu bahwa yang kita perjuangkan dan cari bukan terletak di luar, tapi di dalam: di dasar batin dan hati kita!

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *