Rezeki Berjuta dari Makanan Desa

Sambil mudik, makan-makan tetap harus jalan. Karena itu, mudik Lebaran tahun ini kami gunakan juga untuk cari makanan khas di sekitar desa. Lamongan punya banyak makanan khas. Kalau di Bali sih yang paling banyak ya Sari Laut Lamongan. Tak hanya di Bali. Aku yakin di tiap kota ada warung tenda khas yang kadang-kadang merusak pemandangan kota ini. Hehe..

Aku dan Bunda pun mencuri waktu satu hari untuk mencari makanan-makanan khas desa ini. Sebenarnya mungkin tidak benar-benar khas. Bisa jadi ada juga di tempat lain namun dengan nama beda. Oke. Kalau gitu aku sebut saja sebagai makanan paling terkenal di daerahku.

Continue reading “Rezeki Berjuta dari Makanan Desa”

Tentang Desa di Persimpangan Jalan

Berjarak sekitar 2 km dari pesisir utara Jawa membuat kampung halamanku, Mencorek, sangat panas. Dibanding Denpasar, tempat tinggalku sekarang, desa di bagian utara Kabupaten Lamongan ini jauh lebih panas. Tak heran, pas aku mudik pekan lalu, tanah di sawah sebelah rumahku sampai retak. Oktober ini lagi panas-panasnya.

Kalau siang, meski semua pintu sudah dibuka, kami masih pakai kipas. Pas aku main ke beberapa rumah, ternyata hampir semua rumah punya kipas angin. Barang ini seperti jadi salah satu barang wajib, selain TV, di tiap rumah.

Continue reading “Tentang Desa di Persimpangan Jalan”

Perjalanan Panjang ke Kampung Halaman

Baiklah. Mari kita mulai lagi menulis semua cerita. Meski bawaan liburan masih saja terasa, jadi ada alasan untuk males nulis, menulis toh tetep harus dilakukan. Kalau tidak, semuanya akan menguap begitu saja.

Sebagai awalan, aku nulis soal mudik pas Lebaran kemarin saja. Pertama soal perjalanan saja dulu. Besok-besok lanjut soal kampung halaman, potensi ekonomi, petani garam, dan tradisi Kupatan.

Continue reading “Perjalanan Panjang ke Kampung Halaman”

Blog Sweet Blog

Setelah seminggu menikmati candu bernama keluarga besar di Lamongan, Kamis kemarin kami tiba kembali di rumah kecil kami di Subak Dalem, Denpasar. Bukannya istirahat, pas nyampe rumah kami langsung ngebut bersih-bersih rumah. Nyapu, nyuci baju, dan seterusnya.

Lalu seharian tadi kami ke Pekarangan, Karangasem. Ada ngaben dadong di kampung. Karena besok pagi Bunda ada kerjaan di Denpasar, maka sorenya kami langsung balik ke Denpasar.

Continue reading “Blog Sweet Blog”

Locals divided on golf resort plan

Anton Muhajir, The Jakarta Post, Denpasar | Sat, 10/04/2008 11:34 AM | Bali

Bias Putih is a 300 meter-long strip of white sandy beach flanked by two lush hills in Bugbug village, Karangasem, some two and a half hours drive east of the island’s capital Denpasar.

Its scenic beauty and unspoiled shoreline have drawn an increasing number of visitors, foreign as well as domestic, in the last couple of years.

“Many foreign visitors praised the beach for its deep, crystal blue water,” a local I Gusti Ngurah Cakra said.

Continue reading “Locals divided on golf resort plan”

Mari Berbagi di Hari nan Fitri

Pesta udah usai. Capek juga hari ini. Barusan keluarga besar rame-rame datang untuk merayakan Idul Fitri di rumah. Padahal mereka juga sedangg sibuk mempersiapkan ngaben dadong di Karangasem 10 Oktober nanti. Tapi ternyata sore ini semua pada bela-belain ke rumah kami.

Maka, rumah kecil kami pun riuh oleh ketawa-ketiwi. Tentu saja sambil menikmati camilan dan makanan khas Lebaran. Ada kue ringan dari Pasar Badung seperti krupuk dan astor. Tak lupa menu khas Lebaran: opor, eh, kare ayam dan rawon.

Continue reading “Mari Berbagi di Hari nan Fitri”

Tongkol Panggang Pantai Serangan

Lama tidak nulis soal makanan, maka ketika kemarin petang aku makan di Serangan, sepertinya itu bisa jadi tulisan menarik.

Makanan ini langsung membuatku ngiler karena menunya ikan laut. Lokasinya persis di pinggi pantai Serangan di bagian selatan, daerah yang biasa dipakai surfing. Ada ikan tongkol, barongan, dan beberapa jenis lagi yang aku tak tahu namanya. Semua ikan itu disajikan setelah dipanggang. Sori, tidak ada pilihan olahan lain.

Continue reading “Tongkol Panggang Pantai Serangan”

Pengecut, Lempar Komentar Sembunyi Identitas

Lima komentar masuk di blogku dengan bunyi yang sama.

80 % Bloger omong kosong semua!!!!!!  ndak bermutu!!!!….

Panas juga hatiku pas baca komentar itu. Apalagi sepertinya pengirimnya memang punya perhatian khusus ke tulisanku. Semua yang dikomentari adalah tulisan terkait jurnalisme. Misalnya soal amplop bagi wartawan, pekerjaan sebagai wartawan lepas, dan seterusnya.

Continue reading “Pengecut, Lempar Komentar Sembunyi Identitas”

Muslim village, Balinese culture

Anton Muhajir, Contributor, Buleleng | Thu, 09/25/2008 1:07 PM | Surfing Bali

Night descended slowly on Pegayaman, a village nestled in a hilly region in the southern part of Buleleng. The quiet ambience was gradually filled with the noise of people getting ready to break their fast.

Groups of children walked along the village’s dusty main road. In their hands were plastic bags filled with cakes and fruits. They chatted animatedly as they delivered the plastic bags to the homes of their relatives and neighbors.

Continue reading “Muslim village, Balinese culture”

Happy Birthday, Our Beloved Bani

Tak ada kue ulang tahun yang mewah malam ini. Karena krisis keuangan internasional yang sedang terjadi di negara adi daya Amrik sana juga ternyata berimbas ke ekonomi mikro keluarga kami. Hehehe..

Kami membatalkan beberapa rencana. Pertama, niat untuk beli hutan hitam alias black forest di Tante Ninok tidak jadi. Maaf, ya, Tante. Kapan-kapan deh Bani beli kue ultah di Tante sekalian kapling hutan hitam di sana. Lumayan kan untuk mencegah dampak climate change pada keluarga. Hwahahaha..

Continue reading “Happy Birthday, Our Beloved Bani”