Pan Belog pun ingkar janji. Selesai Nyepi lalu dengan sangat yakin dia bilang akan rajin cerita tentang hal-hal yang dia alami padaku. Kalau tidak salah sih dia bilang cerita itu pengennya dimuat setiap Sabtu atau Minggu di blogku atau di balebengong.net. Ternyata pekan ini dia telat. Padahal, dia sudah merasa diri seperti Goenawan Mohamad yang punya Catatan Pinggir tiap edisi di Majalah Tempo. Atau, ya setidaknya, sama dengan Sudira alias Aridus penulis tetap rubrik Obrolan Bale Banjar di Bali Post Minggu yang obrolannya lebih mirip obrolan mahasiswa S3 daripada di bale banjar karena saking tinggi dan beratnya tulisan di sana. Hehe..
But, ya begitulah. Pan Belog bisanya hanya mencela orang. Padahal dia sendiri nulis pun enggan, atau jangan-jangan malah tidak bisa sama sekali. Hihihi..
“Tidak mau tidaklah berarti tidak bisa,” kelitnya.

