Bijak Memilih dan Memilah Serakan Informasi

1 , , Permalink 0

BLUR_110117_003 “Gempa” susulan pun terjadi di linimasa.

Begitu gempa 8,5 Richter mengguncang kawasan barat Sumatera, termasuk Daerah Istimewa Aceh dan Sumatera Utara dua hari lalu, informasi di Twitter pun berseliweran. Seperti biasa, gempa di linimasa ini membuat warga lebih panik dibanding gempa sesungguhnya.

Aku sendiri pernah merasakannya ketika ada gempa di Bali selatan Oktober 2011 lalu. Pas aku lagi di Flores, Bali kena gempa. Lalu di Twitter pun informasi berseliweran. Karena hanya baca di Twitter, ketakutanku kok amat terasa. Padahal ya tak segawat yang ada di linimasa.

Begitu pula ketika gempa terjadi lagi di Aceh dan Sumut kali ini. Informasi di linimasa terasa lebih gawat dibanding di lapangan. Bahkan, ada pula beberapa informasi yang dibuat gawat demi mengejar sensasi.

Informasi tentang gempa dan bencana hanya salah satu dari informasi yang berseliweran di dunia maya. Nyaris tiap detik informasi itu menyerbu kita tiada henti dengan tema beragam.

Maka, tugas kita kemudian adalah memilah dan memilih informasi mana yang bisa dipercaya dan mana yang tidak. Salah satu panduan memercayai informasi itu adalah buku Blur, karya Bill Kovach dan Tom Rosenstiel. Setahuku belum ada terjemahan ke dalam Bahasa Indonesia dari buku terbitan Bloomsbury, Amerika Serikat ini.

Dalam buku setebal 240 halaman, dua begawan jurnalisme dari Amerika Serikat itu memberi enam pertanyaan skeptis ketika mengonsumsi informasi. Pertama, apa jenis informasi yang kita peroleh? Kedua, apakah informasi tersebut lengkap? Jika tidak, apa yang hilang? Ketiga, siapa atau apa sumber informasi dalam berita tersebut dan kenapa kita bisa memercayainya?

Keempat, adakah bukti-bukti yang disampaikan dalam berita tersebut dan apakah sudah diuji oleh penulisnya? Kelima, apakah kira-kira penjelasan atau pemahaman berbeda dari berita tersebut? Terakhir, adakah yang bisa saya pelajari dari berita tersebut.

Langkah ini memang panjang. Tapi, untuk mendapatkan informasi akurat, kita memang tak bisa terburu-buru. Kita bisa terjebak dalam arus informasi yang kian cepat. Dan, sayangnya, kecepatan ini sering kali berbanding terbalik dengan ketepatan.

Kecepatan informasi ini paling gampang terjadi di internet dan televisi. Nah, kita sebaiknya memilah jenis informasi apa yang kita konsumsi tersebut. Bedakan mana jargon, mana iklan, mana berita.

Debat kusir seperti tiap malam dan disiarkan secara langsung di TV One adalah contoh jenis informasi yang tak bisa dipercaya begitu saja. Sebab, informasi itu belum diverifikasi. Kovach dan Rosenstiel memberikan contoh. Para politisi paling suka acara live begini karena mereka bisa ngecap apa saja tanpa ada verifikasi terhadap apa yang mereka katakan saat itu.

Jadi, konsumen media yang sebaiknya tak menelan mentah-mentah informasi tersebut.

Begitu pula dengan berseliwerannya informasi di internet, baik melalui website, blog, jejaring sosial, dan seterusnya. Tanpa pemilihan dan pemilahan yang bijak, konsumen akan mudah percaya kepada informasi tersebut.

Karena itu, di bagian akhir buku ini, Kovach dan Rosenstiel menawarkan bagaimana masa depan jurnalisme di tengah gegap gempita arus informasi. Menurutku sih bagian terpenting dari pesan keduanya adalah kian berkurangnya peran jurnalis dan sebaliknya, kian kuatnya peran warga.

Anggapan jurnalis sebagai penjaga gawang, bertugas memilih dan menyampaikan informasi itu kian usang. Pers hanya salah satu dari penjaga gawang. Di tengah serbuan arus informasi, warga kini dengan mudah mendapatkan informasi dari mana saja lewat cara apa saja. Maka, jurnalis harus lebih melibatkan warga dalam prosesnya. Warga tak hanya jadi konsumen tapi juga produsen sekaligus penjaga gawang.

Keterangan: foto disalin tempel dari Bruce Guthrie Photo.

1 Comment
  • areximut
    May 1, 2012

    kekuatan linimasa di era digital sudah mulai terasa, semoga memberikan dampak positif bagi manusia 🙂

    ReplyReply

    [Reply]

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *