Tiga Menu Andalan Lombok

0 , , Permalink 0

Perjalanan ke Lombok kali ini lebih lengkap dengan berburu periboga.

Maka, selama di sini pun aku benar-benar berniat dari awal, harus menikmati menu-menu khas Lombok, seperti ayam bakar taliwang dan sate bulayak. Ternyata, kemudian ada menu khas yang juga aku baru tahu, bebalung.

Yowis. Empat hari di Lombok pun aku manfaatkan untuk menikmati menu-menu khas pulau ini. Mari menikmatinya.

Ayam Taliwang
Menu ini sih bisa disebut sebagai maskot periboga Lombok. Maka, menu ini dengan mudah ditemukan di penjuru Lombok, terutama Lombok Barat.

Setahuku, taliwang sendiri berasal dari nama desa di Sumbawa Barat, Nusa Tenggara Barat juga. Karena saking terkenalnya menu dari desa ini, maka lama-lama ayam bakar itu disebut ayam bakar taliwang.

Tanpa referensi cukup tentang ayam taliwang enak di Mataram, aku coba saja warung yang paling dekat dengan Lombok Garden, hotel di mana aku menginap. Persis di depannya ada warung tenda menjual aneka menu khas Lombok ini, terutama ayam taliwang.

Menu ayam taliwang berupa ayam kampung berukuran kecil. Dia dibakar dengan lumuran bumbu. Rasanya gurih dan pedas.

Seekor ayam bakar taliwang disajikan bersama plecing kangkung dan sambal beberuk yang berisi irisan terong hijau dan tomat. Jika kurang pedas, ada dua jenis sambal lagi. Semuanya berbahan kacang. Jadi terasa gurihnya.

Harga seporsi ayam bakar taliwang ini dengan nasi dan teh hangat sekitar Rp 30.000. Pas buat mengobati kangennya lidah pada pedas gurihnya ayam taliwang. Apalagi kalau makan pas malam di antara gerimis hujan. Nendang gurindang..

Sate Bulayak
Kenangan terakhir tentang sate khas Lombok ini adalah ketika aku ke sini sekitar dua tahun lalu. Waktu itu sambil buka puasa di kawasan Jl Ngurah Rai Mataram. Karena itu, kali ini pun aku benar-benar pengen mampir ke kawasan tersebut sambil menikmati suasana malam di Mataram.

Sayangnya, selama di sana hujan terus tiap malam. Maka, batallah menikmati sate bulayak di sini.

Tapi, ternyata kali ini aku bisa menikmati lebih asyik lagi, langsung di daerah asalnya, Narmada. Tempat ini pula yang aku ingat ketika pertama kali menikmati sate ini sekitar sepuluh tahun lalu. Jaraknya sekitar 10 km dari Mataram.

Sate bulayak Narmada ini berupa irisan daging kecil-kecil, ayam ataupun sapi. Dibanding sate di Denpasar, misalnya, irisan daging sate bulayak ini lebih kecil.

Nah, yang membuat beda dari sate ini adalah menu pasangannya, bulayak. Menu ini seperti  lontong tapi bungkusnya dengan daun enau atau kelapa. Kalau di kampung kelahiranku sana ada namanya lepet. Bentuknya mirip tapi beda isi. Lepet ini pakai bahan ketan sedangkan bulayak dari beras.

Bulayak ini juga ada di Bali. Namanya saja agak beda, belayak. Setahuku khas Karangasem. Dari sejarah sih dua tempat ini memang nyambung. Narmada ini dulunya termasuk wilayah kekuasaan Kerajaan Karangasem pada zaman kolonial.

Seni makan sate bulayak ini adalah karena harus mengupas bulayaknya, cocolin ke bumbu kacang sate, masukin ke mulut, lalu tambah lagi dengan sate. Yakin deh. Tak ada seni makan serupa di tempat lain. Apalagi ini bersantapnya di Taman Narmada yang dingin. Makin mak jaan.

Aku lupa harganya satu per satu. Tapi, pas makan berempat plus minum sih tak sampai Rp 100.000. Ini belum termasuk tiket masuk kawasan Taman Narmada. Sebab, warung-warung sate bulayak khas Narmada ini memang ada dalam kawasan pemandian tersebut.

Bebalung
Ini menu yang baru aku kenal. Sebelumnya aku sama sekali tak pernah mendengar apalagi membayangkan. Tapi, ternyata enak banget. Seger..

Bebalung ini berupa iga sapi yang dimasak dengan kuah asam. Dari dagingnya sih dia mirip konro bakar khas Makassar. Tapi, dari kuahnya lebih mirip garangasem kalau di Jawa Timur, kuah dengan bumbu asam bening. *ngusap iler dulu..

Menu khas Lombok ini ada di Warung Klebet Jl HOS Cokroaminoto Mataram. Jam bukanya, kata teman-teman yang traktir dan nemenin makan saat itu, hanya sampai sekitar pukul 2 sore.

Daging sapi yang nempel pada iga ini empuk. Tak alot sama sekali. Dia disajikan di dalam kuah asam yang, hmmm, memang segar. Agak kecut tapi gurih. Slurp..

Ketika aku makan di sana 13 Januari lalu, ada sekitar 10 pengunjung lain. Berarti ya lumayan ramai. Padahal sudah lewat jam makan siang. Tapi, tempatnya asyik meski agak panas.

Harganya? Aku tidak tahu. Maaf. Soalnya ditraktir. Jadinya enaknya sampai bikin lupa tanya dan mikir. ūüôā

0 Comments

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *