Perlukah Komunitas Blogger Dilegalformalkan?

Tuteh menyeretku untuk ikut membahas topik dilematis ini.

Blogger yang tinggal di Ende, Flores, Nusa Tenggara Timur (NTT) itu tiba-tiba mention aku di twitnya Minggu lalu. Padahal, aku masih capek sepulang dari Kintamani usai ikut kerja bakti menanam pohon rame-rame di lereng Gunung Batur.

Continue reading “Perlukah Komunitas Blogger Dilegalformalkan?”

Hati-hati dengan Distorsi Informasi

Lelaki itu maju ke depan kerumunan lalu berteriak.

“Kalau tidak ada tujuan buruk, untuk apa kita menyembunyikan tempat latihan kita?” teriak lelaki berpakaian biasa itu. Lalu, dia kembali ke dalam kerumunan. Masuk. Tak ada yang tahu bahwa dia bukan warga biasa.

Continue reading “Hati-hati dengan Distorsi Informasi”

Blogger, Dari Komunitas Menuju Komoditas

Tak ada lagi gegap gempita Pesta Blogger seperti tahun-tahun sebelumnya.

Padahal, setiap tahun sejak 2007 lalu, kopi darat akbar blogger se-Indonesia ini selalu digelar. Tak hanya dipusatkan di Jakarta pada satu hari tapi juga ada rangkaian kegiatan di kota-kota lain di Sulawesi, Sumatera, Kalimantan, juga Bali.

Continue reading “Blogger, Dari Komunitas Menuju Komoditas”

Santai Berpakaian Adalah Kebebasan

Obrolan dengan seorang teman lewat linimasa mengingatkanku pada zaman kuliah.

Saat itu, sebagian dosen suka sinis padaku gara-gara berpakaianku. Ada yang suka nyentil-nyentil tapi ada pula yang sampai ngomong sangat jelas, “Kalau mau ikut kelas saya, tolong jangan pakai sandal ya.”

Continue reading “Santai Berpakaian Adalah Kebebasan”

Konsumen adalah Raja? Lupakan Saja!

Sehari sebelum berangkat, penerbangan dari Ende ke Denpasar dibatalkan. Mati cang!

Maka, paniklah aku. Sambil jalan-jalan di Desa Bena, Kecamatan Jerebu’u, Kabupaten Ngada, Nusa Tenggara Timur (NTT), aku pun meminta sopir kami mencarikan tiket balik ke Bali dengan maskapai lain. Kami menelpon petugas di Ende, berjarak sekitar 4 jam perjalanan dari Ngada, agar dapat tiket tersebut.

Continue reading “Konsumen adalah Raja? Lupakan Saja!”

Waspadai Disfungsi Ereksi, eh, Informasi

Terlalu banyak tahu, kadang justru menakutkan. Atau, bisa jadi membuat cemburu.

Ketakutan itu akan terjadi kalau terlalu banyak informasi yang kita tahu, bahkan melebihi kapasitas informasi yang seharusnya cukup kita konsumsi. Bahasa gaulnya, kepo. Parahnya lagi kalau informasi itu tentang sesuatu yang memang menakutkan.

Continue reading “Waspadai Disfungsi Ereksi, eh, Informasi”

Genre Baru itu Bernama Jurnalisme Warga

Objektivitas dalam jurnalisme itu omong kosong!

Tidak ada satu pun wartawan atau media yang bisa menulis dengan objektif. Dia pasti telah terpengaruh banyak hal ketika menulis. Dua wartawan bisa saja menulis topik sama persis. Tapi, pemilihan narasumber atau sudut pandang (angle) keduanya akan sangat berbeda.

Continue reading “Genre Baru itu Bernama Jurnalisme Warga”

Di Dunia Maya, Kita Bisa Berjaya. Nyatanya?

Bulu kudukku merinding disko ketika melihat Eric Schmidt.

Tentu saja ini lebay. Tapi, begitulah adanya. Rasanya amat excited ketika melihat Pemimpin Eksekutif Google itu hadir di ruang pertemuan Grand Hyatt, Nusa Dua pekan lalu.

Continue reading “Di Dunia Maya, Kita Bisa Berjaya. Nyatanya?”

Refleksi Empat Hari Mbebek Hillary

Setelah empat hari jadi embedded blogger kunjungan Hillary Clinton di Bali, inilah saatnya membuat refleksi.

Pertama, aku jadi tahu bagaimana rasanya jadi embedded journalist. Meskipun Kedutaan Besar (Kedubes) Amerika mengundangku sebagai embedded blogger, tetap saja tanggung jawabku selama ikut mereka tak jauh beda dengan pekerjaanku selama ini, jurnalis.

Continue reading “Refleksi Empat Hari Mbebek Hillary”