Waspadai Disfungsi Ereksi, eh, Informasi

8 , , Permalink 0

Terlalu banyak tahu, kadang justru menakutkan. Atau, bisa jadi membuat cemburu.

Ketakutan itu akan terjadi kalau terlalu banyak informasi yang kita tahu, bahkan melebihi kapasitas informasi yang seharusnya cukup kita konsumsi. Bahasa gaulnya, kepo. Parahnya lagi kalau informasi itu tentang sesuatu yang memang menakutkan.

Oke. Inilah contohnya. Jika tiap hari kita mengonsumsi media yang isinya hanya berdarah-darah, maka bayangan kejahatan itu pula yang akan mewarnai hari-hari kita. Sebab, itulah yang kita tahu melalui media massa.

Jakarta, misalnya, tentu berwajah ganda. Tak hanya penuh amarah tapi juga keramahan warganya. Cuma, karena selama ini aku lebih banyak mendapatkan informasi Jakarta itu kota penuh masalah, maka kalau ke kota ini bawaannya malas. Terbayang yang buruk-buruk saja: macet, bentrokan, banjir, dan seterusnya.

Tentu itu tidak fair. Jakarta punya Kota Tua yang lumayanlah buat mengenang kota-kota di Eropa. Jakarta juga banyak tempat asik untuk diskusi atau gahol ala abegeh. Cuma, karena informasi tentang ini kurang, maka bayangan-bayangan jelek tentang kota ini pun lebih banyak di kepalaku.

Ereksi
Konsumsi informasi berlebihan tentang kejahatan di sebuah kota justru menyisakan memori yang tak bagus tentang kota tersebut. Dan, itulah disfungsi ereksi, eh, disfungsi informasi. Ini istilah agak ngawur. Cuma biar kelihatan keren saja, sih.

Salah satu fungsi informasi adalah pencerahan selain juga memberi pengetahuan. Tapi, pada faktanya justru ketika kita terlalu banyak tahu, informasi justru memberikan ketakutan yang tentu saja lebay itu tadi.

Ada ilustrasi lain. Setiap kali baca koran lokal, seperti Denpost dan Radar Bali, aku merasa di Bali ini isinya juga tiap hari penuh kejahatan: perampokan, pembunuhan, penipuan, dan lain-lain.

Kenapa pikiran Bali penuh kejahatan itu muncul? Karena itulah yang ada di koran. Hidup jadi terasa kurang tenang.

Karena itu pula, sudah hampir lima tahun ini aku berhenti langganan koran lokal, termasuk Bali Post dan Radar Bali. Malas kalau pagi-pagi sambil minum lalu disuguhi berita-berita kriminal. Perasaan lebih banyak berita lebih penting deh daripada kejahatan-kejahatan itu.

Dan, setelah tidak berlangganan koran penuh berita kriminal dan konflik itu, hidup kok jadi terasa lebih tenang.

Romantika
Dari contoh-contoh serius bin gawat, disfungsi informasi ini juga bisa terjadi pada urusan amat personal, romantika. Misal, kita lagi naksir berat sama seseorang dan pengen pedekate. Maka, berselancarlah kita di antara jutaan informasi di dunia maya. Kita jadi stalker, tukang intip semua tentang dia.

Semua informasi kita cari tentang orang tersebut: nama lengkap, ulang tahun, hobi, makanan kesukaan, mas lalu, dan seterusnya. Kadang malah tentang hal-hal amat personal, berapa kali pacaran atau… sudah punya pacar apa belum.

Enaknya lagi, dengan kekuatan teknologi informasi saat ini, semua informasi yang kadang tak sepenuhnya kita butuhkan itu justru tersedia.

Dan, begitu kita tahu bahwa dia sudah punya pacar atau pasangan, suami ataupun istri, maka saat itu pula kita langsung putus asa. Merasa tak bisa lagi menjangkaunya. Atau, paling tidak lalu muncul cemburu ketika tahu tentang masa lalunya bersama pasangan.

Kalau sudah pada tahap ini, maka itulah tidak enaknya kita tahu tentang dia. Informasi yang seharusnya mencerahkan itu tadi malah berfungsi sebaliknya, membunuh semangat. Kasihan deh, Elu.

Ilustrasi asal comot dari sini. Tak terlalu nyambung sebenarnya. 🙂

8 Comments
  • imadewira
    October 7, 2011

    Masuk akal sekali pak, tapi bukankah pada dasarnya manusia memiliki rasa ingin tahu, dan rasa ingin tahu ini sepertinya secara tidak sadar membuat kita mengkonsumsi berbagai informasi dan berita walaupun mungkin sebenarnya tidak diperlukan oleh otak kita.

    ReplyReply

    [Reply]

    a! Reply:

    begitulah. dan, kadang2 malah bikin gak enak sendiri. kuncinya, konsumsilah seperlunya. 🙂

    ReplyReply

    [Reply]

  • iPul dg.Gassing
    October 7, 2011

    ya..ya..ya..
    make sense
    terlalu banyak informasi malah bikin kita jadi mikir macam2

    jadi, sebenarnya yang penting adalah filter ya..
    filter, mana informasi yg penting dan mana yang gak penting

    ReplyReply

    [Reply]

    a! Reply:

    sayangnya sih karena saking mudahnya mengakses informasi, kita kadang ga bisa filter mana yg penting dan mana yg tidak. 🙂

    ReplyReply

    [Reply]

  • giewahyudi
    October 8, 2011

    Judulnya nendang dan bikin penasaran..
    Bener kata Daeng Ipul, kita perlu rokok filter, eh!

    ReplyReply

    [Reply]

    a! Reply:

    hahaha. ini pasti perokok filter.

    ReplyReply

    [Reply]

  • Dian
    October 8, 2011

    Emang mendingan ga tau sih bang daripada tau trus malah galau sendiri *eh 😀

    ReplyReply

    [Reply]

    a! Reply:

    ada pengalaman pribadi ya, mbak? boleh kok dishare di sini. hehehe..

    ReplyReply

    [Reply]

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *