Toleransi Dimulai dari Keluarga Sendiri

toleransi agama bali

Menyenangkan sekali obrolan Minggu pagi di group WhatsApp keluarga kami.

Topik obrolan hangat kami dua hari lalu adalah tentang agama, religiositas, dan semacamnya. Tema itu tidak ditentukan tapi muncul begitu saja setelah ada yang curhat tentang orang-orang yang kabur tanpa mencuci piring atau bantu bersih-bersih setelah ikut pengajian. Continue reading “Toleransi Dimulai dari Keluarga Sendiri”

Pura, antara Sakral vs Komersial

Apakah pura boleh menjadi tempat yang dikunjungi turis? Atau untuk sembahyang saja?

Polemik itu muncul setelah Gubernur Bali mengusulkan agar ada larangan bagi turis yang akan berkunjung ke pura. Pernyataan ini muncul setelah sebelumnya Parisadha Hindu Dharma Indonesia (PHDI) Continue reading “Pura, antara Sakral vs Komersial”

Maka, Pencapaian Apa Lagi yang Kau Dustakan?

Sekali-kali, mari sok religius. Mumpung momentumnya juga pas. 🙂

Judul di atas merupakan gubahan dari ayat dalam Al-Quran. Seingatku sih dia bertebaran di beberapa surat. Bunyi tepat ayat tersebut adalah, “Maka nikmat Tuhanmu yang mana lagi yang kau dustakan?”.

Continue reading “Maka, Pencapaian Apa Lagi yang Kau Dustakan?”

Pesan Keragaman dari Kota Perbatasan

Di Cilacap, pastor dan suster berdiskusi akrab dengan ustadz dan kyai. Menyenangkan dan menenangkan sekali.

Ketika wajah beringas melawan liyan semakin sering terlihat di media massa, ada baiknya kita menoleh ke Cilacap. Kota kecil di Jawa Tengah yang berbatasan dengan Jawa Barat ini menyajikan wajah di mana keragaman terlihat sebagai kekuatan.

Continue reading “Pesan Keragaman dari Kota Perbatasan”