Rebutan Eksklusif Corby: Wani Piro?

0 , , Permalink 0

media_and_corbyBegitu tertangkap, Schapelle Corby langsung menjadi selebriti. 

Mantan pelajar sekolah kecantikan di Brisbane, Australia tersebut ditangkap pada 8 Oktober 2014 ketika membawa 4,2 ganja masuk Bali. Di persidangan, hakim menyatakan Corby terbukti  bersalah. Dia divonis penjara 20 tahun.

Singkatnya, melalui berbagi upaya hukum maupun diplomasi antar-negara, Corby hanya menjalani sekitar 9 tahun penjara di Lembaga Pemasyarakatan Denpasar di Kerobokan, Kuta, Bali. Begitu keluar Senin lalu, Corby kembali jadi kejaran media-media Australia.

Ketika saya masih bekerja untuk salah satu media Australia, Corby ini selalu jadi semacam perlombaan bagi media-media negeri tetangga tersebut. Tak boleh ada satu pun berita terlewat jika sudah meyangkut Corby.

Kali ini pun, Corby jadi perlombaan bagi media Australia, termasuk untuk membeli cerita eksklusifnya. Menurut portal berita news.com.au, Channel 7 adalah media yang akhirnya memenang perlombaan tersebut.

Menurut news, Channel 7 sudah membeli cerita eksklusif Corby seharga 5 juta dollar Australia. Kalau dirupiahkan sekitar Rp 53,9 miliar. Lebih dari cukup untuk membeli 10 vila eksklusif di Canggu, Kuta Utara. Harga versi Kompas, Channel 7 membeli wawancara eksklusif lebih rendah dari itu, 1,8 juta dollar AS atau sekitar Rp 21 miliar.

Berapapun nilainya, yang jelas Corby mendapatkan keuntungan sangat besar dari penjualan ceritanya tersebut.

Penjualan cerita eksklusif ala Corby ini menimbulkan diskusi baru, etiskah dia menjual berita tersebut?

Bahkan dua pejabat tinggi nagara Kanguru pun turut berkomentar. Perdana Menteri Tony Abbott menyatakan Corby tidak akan diizinkan mendapatkan keuntungan finansial dari kisah kriminalitasnya. Adapun Menteri Keuangan Joe Hockey ngetwit bahwa Corby bisa mengirimkan pesan yang keliru (lewat wawancara eksklusif tersebut).

Tapi, cerita jual beli cerita eksklusif dari narasumber terhadap media ini tak hanya dilakukan Corby. Zaman saya masih jadi wartawan baik-baik, bekerja tetap di media bukan menulis lepas seperti sekarang, praktik itu biasa terjadi. Beberapa narasumber kasus terorisme sengaja memasang tarif ketika ada media hendak wawancara eksklusif.

Saya sendiri mengalami, bayar Rp 2 juta untuk akses eksklusif teman saya di satu media, dalam kasus terorisme. Si teman itu nyamar jadi anggota tim pengacara agar bisa bertemu teroris paling terkenal tersebut pada saat itu.

Tentu saja si teroris mendapatkan keuntungan finansial dari tindakan jual beli cerita tersebut. Tapi, saya sendiri lebih yakin kalau duit hasil jual beli itu lari ke kantong pengacaranya sendiri, bukan si teroris tersebut.

Kembali ke pertanyaan semula, etiskah para pelaku tindak kriminal tersebut menjual cerita eksklusif mereka?

Menurut saya, secara etika sih tidak karena mereka memetik keuntungan dari cerita kriminal yang mereka lakukan. Sudah berbuat kriminal, merugikan orang, dinyatakan bersalah, masuk penjara, eh, dengan santainya menjual cerita tersebut ke media.

Sayangnya sih etika tersebut hanya etika. Menurut aturan, tindakan mereka itu sah-sah saja. Pertama karena mereka memang bukan pejabat publik. Tak ada kewajiban bagi mereka untuk melayani wawancara media. Mereka bebas menolak atas nama privasi.

Kedua mereka mungkin sadar bahwa media juga memetik keuntungan dari cerita-cerita tentang si pelaku, Corby atau teroris. Karena itu, biar impas, maka mereka pun memasang tarif ke media, “Wani piro?”

Nah, kalau menurutmu sendiri bagaimana? Etiskah mereka?

Foto dari Twitter.

No Comments Yet.

Leave a Reply

Your email address will not be published.