Mengkhawatirkan Masa Depan Lingkungan Bali

0 , , Permalink 0
Bali Waste

Taksu Bali Sampai Kapan. Kartun oleh Gus Dark.

Apa yang kalian bayangkan tentang masa depan pulau kalian?

Coba ajukan pertanyaan itu ke beberapa anak muda (di) Bali, terutama daerah selatan. Bisa jadi, jawaban mereka akan senada: masa depan pulau ini mengkhawatirkan.

Setidaknya begitulah pengalamanku. Bisa jadi karena aku salah gaul sehingga mendapat jawaban senada. Bisa jadi memang begitulah adanya.

Kalau toh aku salah gaul sehingga mendapat jawaban pesimis, menurutku, masa depan lingkungan Bali memang mengkhawatirkan. Dari hulu ke hilir, masalahnya terlalu kompleks. Ruwet.

Mari mulai dari hal yang terlihat secara kasat mata, lingkungan.

Lihatlah di hulu, bagian paling tinggi Bali seperti Batur dan Bedugul. Danau-danau di dua tempat tersebut dari tahun ke tahun terus bertambah dangkal. Secara kasat mata sangat mudah terlihat.

Danau Batur di Kintamani, misalnya, tinggi permukaan airnya terus turun. Pinggiran danau makin penuh oleh aktivitas pertanian maupun perikanan. Parahnya lagi, para petani dan peternak ikan tersebut menggunakan bahan-bahan kimia. Air danau yang sebenarnya dianggap suci pun kian tercemari bahan kimia.

Petani di sekitar Danau Batur sudah lama terkenal sebagai pengguna bahan kimia beracun sangat masif. Mereka sendiri mengakui begitu. Dengan sadar menebar racun pestisida atau herbisida untuk sayur-sayur mereka, termasuk untuk air danau di sana.

Salah satu teman, Dek Didi yang berasal dari Songan, desa di samping Danau Batur, menceritakan bagaimana ketika dia kecil dengan asyiknya mengambil air sepulang sekolah untuk dipakai mandi atau konsumsi. Kini dia tak berani lagi, seperti juga umumnya warga di sana.

Mari lihat angkanya. Menurut Badan Lingkungan Hidup (BLH) Bangli, saat ini kedalaman Danau Batur hanya sekitar 80 meter. Padahal, 60 tahun lalu sekitar 200 meter.

Apa konsekuensinya? Selain berkurangnya jumlah air jelas kian terancamnya kehidupan di sana. Padahal, danau-danau tersebut tak hanya penting secara ekologis tapi juga spiritual.

Dari hulu, mari ke hilir.

Lihatlah di ujung selatan Bali. Tebing-tebing yang secara alami menjadi dinding dan pelindung pulau Bali kian banyak digerogoti. Lihat di daerah seperti Sawangan dan Ungasan. Tebing-tebing setinggi kira-kira 30 meter itu dikeruk demi membangun hotel atau vila milik investor yang ironisnya tidak dari Bali.

Salah satu tempat yang sangat terasa perubahannya tersebut misalnya di Bukit Timbis, Ungasan. Tempat ini berada di atas pantai yang baru populer akhir-akhir ini, Pandawa. Dulu, tempat ini menjadi titik bagi para penikmat olahraga paragliding. Kini, lokasi tersebut sudah dikeruk untuk hotel dan vila.

Padahal, itu tadi, tebing-tebing di selatan ini merupakan benteng Pulau Bali dari hantaman ganasnya gelombang Laut Selatan. Oh ya, di sisi selatan Bali juga terdapat patahan yang potensial mengakibatkan gempa dan… tsunami.

Di kota-kota juga begitu. Hotel-hotel terus dibangun dengan menyingkirkan sawah atau tanah terbuka di tengah kota. Tak peduli lokasi di pemukiman sekali pun. Ketika kota-kota besar di Indonesia seperti Surabaya dan Bandung makin aktif membangun ruang hijau terbuka bagi warganya, di Denpasar justru sebaliknya. Ruang terbuka sekecil apapun langsung jadi lokasi hotel.

Pariwisata memang menjadi simalakama bagi pulau ini. Di satu sisi dia memberikan dampak positif yang amat banyak ke Bali: pembangunan infrastruktur, peningkatan taraf hidup, popularitas, dan lain-lain. Namun, di sisi lain pembangunan yang tak terkendali membuat banyak dampak negatif lainnya seperti alih fungsi lahan, pencemaran lingkungan, dan seterusnya.

Tak ada yang salah dengan pembangunan. Pulau ini tak mungkin disamakan dengan kondisinya 30-50 tahun silam. Tanpa pembangunan (pariwisata), Bali tak akan sebagus dan semenarik saat ini.

Namun, pembangunan tetap harus memerhatikan daya dukung daerahnya. Jika tidak, maka Bali justru akan tenggelam.

No Comments Yet.

Leave a Reply

Your email address will not be published.