Menggunakan Mading sebagai Media Sekolah

9 , , Permalink 0

Oleh Anton Muhajir

Mengenal Mading
Sejak zaman bahuela, manusia sudah senang menyampaikan informasi satu sama lain. Selain untuk bertukar kabar, informasi yang disampaikan itu bisa sekaligus untuk menunjukkan keberadaan. Pada zaman batu, misalnya, manusia sudah menggunakan dinding-dinding gua untuk menyampaikan informasi tersebut. Ini barang kali yang bisa jadi rujukan sejarah awal mula majalah dinding dalam versi bahuela. 🙂

Lewat mading ala manusia zaman batu itu pula kita bisa mencatat bagaimana peradaban manusia pada saat itu. Kita bisa melihat bagaimana hubungan antara manusia dengan alam termasuk hewan dan tumbuhan, juga manusia dengan manusia itu sendiri. Kita bisa melihat kebudayaan manusia pada masa itu lewat lukisan di dinding gua itu. Begitulah, informasi itu sekaligus sebagai dokumentasi tentang kebudayaan mereka.

Kalau manusia pada zaman batu mengenal relief atau lukisan di dinding gua sebagai media informasi, maka murid-murid sekolah sekarang mengenal mading. Fungsinya tak jauh-jauh beda, sebagai media informasi sekaligus untuk berekspresi. Mading juga bagian dari sebuah media.

Media adalah sarana untuk menghubungkan antara pemberi informasi dengan konsumen informasi. Lewat media ini pembaca akan tahu tentang apa-apa yang terjadi di luar dirinya. Jenis media ini macam-macam. Ada media elektronik, media cetak, media online, dan seterusnya. Mading hanya salah satu bentuk media tersebut. Berdasarkan bentuknya, mading bisa masuk kategori media cetak.

Seperti namanya, majalah dinding, mading berupa majalah yang ditempel di dinding. *Ya iyalah. 🙂 Tulisan maupun ilustrasi itu berada dalam sebuah media datar dan biasanya ditempel di dinding.

Majalah mempunya ciri terbitan yang lebih berkala panjang, misalnya mingguan atau bulanan atau malah empat bulanan. Selain waktu terbit yang lebih panjang, isi majalah juga secara umum lebih tematis atau berdasarkan tema tertentu. Misalnya temanya tentang mencari sekolah baru, berteman di zaman virtual, dan seterusnya.

Akibatnya, pengelolaan mading pun lebih mirip pengelolaan majalah dibanding pengelolaan koran. Misal dari sisi materi yang akan dipublikasikan. Kalau di koran, materinya lebih banyak berupa berita-berita yang terbaru (aktual) sedangkan di majalah unsur kebaruan itu tidak terlalu penting.

Ciri
Secara sederhana, ciri-ciri mading adalah sebagai berikut:
1. Dikelola Bersama
Seperti media cetak pada umumnya, pengelolaan mading terdiri dari tiga tahap penting yaitu perencanaan, produksi, dan evaluasi. Perencanaan ini meliputi perencanaan tema dan desain. Sedangkan produksi antara lain pengumpulan informasi (riset, reportase, dan wawancara), penulisan (termasuk editing), dan desain mulai dari layout, foto, dan ilustrasi. Adapun evaluasi bisa berupa evaluasi proses, redaksional, dan desain mading.

Untuk mengelola dengan baik, tim mading harus terdiri dari orang-orang yang bertugas untuk masing-masing proses yaitu Manajemen, Redaksi, dan Desain. Itu sih idealnya. Kalau kepepet dan kurang orang ya bisa saja saling merangkapi.

2. Terbit lebih Lama
Mading dikelola oleh sebuah tim dengan kala waktu terbit yang lebih lama. Biasanya jarak antar edisi bisa mingguan, bulanan, atau berapa bulan tertentu. Waktu terbit ini disesuikan dengan kemampuan masing-masing tim yang biasanya dipengaruhi banyak faktor. Di sekolah sih ya tergantung jadwal sekolah, jadwal pacaran, dan paling penting mood. ? Sebab karena sifatnya yang non komersial dan sebagai sarana belajar, banyak pengelola mading yang mengerjakannya tidak terlalu kaku pada waktu.

3. Ada Rubrikasi
Sebagai sebuah media, mading juga memiki rubrikasi. Ibarat rumah, rubrik adalah pembagian ruangan agar fungsional dan estetis. Di mading pun begitu. Semua informasi yang disampaikan dalam mading dibagi dalam beberapa rubrik sehingga memudahkan pembaca untuk membaca informasi yang disampaikan.

4. Materi Tahan Lama
Kalau koran ditujukan untuk menyampaikan berita-berita yang sangat cepat berubah, maka mading lebih banyak memuat informasi yang lebih awet (timeless). Ini dilakukan karena kala terbit mading yang agak lama sehingga perlu informasi yang tidak cepat basi. Kalau informasi yang disampaikan cepat basi, seperti peristiwa, maka mading akan ketinggalan dengan media lain. Selain materi yang disampaikan, gaya tulisan di mading juga mempertimbangkan keawetan ini. Dalam sebuah mading, gaya bahasa yang dipakai haruslah lebih populer dan santai.

5. Tampilan
Ciri yang paling membedakan antara mading dengan media lainnya adalah bentuknya. Pada dasarnya, mading berada pada sebuah bidang datar yang ditempel di dinding. Bidang datar ini bisa berupa papan, stereoform, dan seterusnya. Namun dalam perkembangannya, bidang dua dimensi ini makin bergeser ke arah tiga dimensi. Ada misalnya mading yang meniru bentuk bangunan, logo, benda, dan seterusnya. Menurut saya sih bentuk-bentuk itu tetap diperkenankan selama tidak menghilangkan fungsi paling penting dari sebuah media, penyedia informasi.

Fungsi
Yap. Fungsi paling penting dari mading adalah sebagai penyedia informasi. Tentu saja. Tapi apa gunanya informasi yang disampaikan tersebut. Inilah fungsi informasi yang disampaikan tersebut:

1. Pengetahuan
Informasi yang disampaikan dalam sebuah mading adalah pendidikan sekaligus pengetahuan untuk orang lain. Melalui informasi di mading, pembaca akan tahu tentang sesuatu yang ada di luar dirinya. Misalnya saja semula dia tidak tahu tentang cara membuat blog atau membuat akun Facebook, maka dia akan tahu tentang blog dan Facebook kalau pengelola mading menulis tentang hal tersebut.

2. Penilaian
Melalui sebuah mading, kita bisa menyampaikan penilaian terhadap sesuatu. Penilaian itu bisa berupa kritik, pujian, cacian, dan seterusnya. Dalam banyak kasus sih fungsi kritik ini sangat penting. Sebab biasanya kalau mengkritik lewat media, kita lebih lepas dan bebas dibandingkan kalau secara verbal. Kritik ini tak hanya dari pihak pengelola mading tapi juga pembacanya.

3. Hiburan
Selain untuk berbagi pengetahuan dan penilaian, mading juga berfungsi untuk memberikan hiburan. Di mading perlu ada rubrik khusus yang menyampaikan informasi terkait dengan sesuatu yang menghibur atau bersifat santai. Misalnya kartun, berita ringan, dan semacamnya. Dengan demikian pembaca tidak akan jenuh kalau membaca informasi di mading.

4. Publikasi dan Dokumentasi
Seperti halnya media lain mading berfungsi untuk mempublikasikan sekaligus mendokumentasikan tulisan. Melalui mading kita bisa menyampaikan informasi pada publik sesuai dengan target pembaca mading tersebut. Kalau pembaca utama mading tersebut adalah teman-teman di sekolah, maka publik yang dimaksud adalah teman-teman di sekolah. Di sisi lain informasi yang kita sampaikan tersebut juga bisa jadi alat dokumentasi tentang sesuatu yang kita tulis.

5. Ekspresi
Ini sebenarnya lebih tepat untuk teman-teman desainer. Sebab mading juga bisa menjadi media yang asik untuk mengeskpresikan selera desainer terkait dengan sesuatu. Misalnya desainer itu suka hal-hal berbau gothic, bisa saja madingnya itu menggunakan desain yang identik dengan gothic. Kalau suka dengan yang natural, bisa saja madingnya lebih bersifat recycle, dan seterusnya.

Kualitas
Mading adalah salah satu meda yang nilainya tidak bisa diukur secara pasti. Dia bukan lomba lari cepat yang gampang dilihat siapa pemenangnya. Meski demikian ada nilai-nilai umum yang bisa dan biasa digunakan untuk menilai kualitas sebuah mading. Nilai umum itu saya bagi antara materi dan desain.

Materi dalam mading seperti halnya berita pada umumnya dinilai dari tema, angle, kedalaman, narasumber, gaya tulisan, dan ejaan.

1. Tema
Menarik tidaknya tulisan ditentukan dari tema. Tulisan yang menarik tentu kalau temanya sesuai dengan target pembaca. Misalnya untuk pelajar yang rata-rata masih ABG, tema yang disenangi biasanya tentang romantika, sekolah, trend, dan seterusnya. Meski demikian, bisa juga tema tulisannya tentang hal-hal lain di luar masalah ABG namun disesuaikan dengan pembaca. Misalnya tentang pemilu namun yang nyambung dengan kepentingan pelajar.

2. Angle
Sudut pandang (angle) akan menentukan bagus tidaknya sebuah tulisan. Angle adalah kemampuan penulis untuk melihat satu masalah dari sudut tertentu. Misalnya nih tentang maraknya remaja mengakses materi pornografi di internet. Sudut pandang yang bisa digunakan mungkin dari biaya mengakses internet, gaya hidup, ketidakpercayaan remaja pada orang tua, dan seterusnya. Sudut pandang yang tidak biasa akan makin menarik orang untuk membaca sebuah tulisan.

3. Kedalaman
Tulisan yang bagus memenuhi semua unsur berita seperti what, where, when, who, why, dan how. Kalau bisa memenuhi semua unsur itu maka tulisan itu makin bagus. Selain kelengkapan klasik itu, kedalaman berita juga dinilai dari sejauh mana kita bisa mengungkapkan masing-masing dari enam unsur itu dalam tulisan. Misalnya pada unsur siapa, tentu akan lebih bagus kalau penulis bisa mengungkapkan lebih detail tentang prestasi, keluarga, pacar, dan seterusnya tentang siapa itu daripada hanya bahwa siapa itu adalah seorang pelajar.

4. Narasumber
Pemilihan narasumber dalam penulisan menentukan kualitas sebuah tulisan. Narasumber yang bagus ini bisa dilihat dari kualitas dan kapasitasnya. Kualitas itu misalnya pengetahuan dia tentang masalah yang kita tanyakan. Makin dia tahu tentu makin bagus. Sedangkan kapasitas dinilai dari kesesuaian dia dengan tema tulisan. Kalau menulis tentang internet, tentu lebih bagus wawancara seorang blogger daripada wawancara dengan pedagang bakso.

5. Gaya Tulisan dan Ejaan
Karena mading lebih mendekati sifat majalah daripada koran, tentu gaya tulisan yang lebih tepat adalah tulisan feature bukan straight news. Bentuk feature misalnya tidaklah terpaku pada peristiwa semata tapi ada apa di balik peristiwa. Penulisannya pun dibuat lebih santai dan pendek-pendek kalimatnya daripada yang panjang dan penuh.

Selain itu ejaan juga jadi faktor penting untuk menilai kualitas sebuah tulisan. Pastikan apakah kata yang digunakan sudah benar ejaannya. Cek lagi apakah ada tanda baca yang kurang tepat dalam tulisan. Cek dan ricek ini bisa dilakukan dengan saling silang antar teman.

6. Rubrikasi
Keberagaman materi tulisan sangat penting untuk membuat mading jadi menarik atau tidak. Makin sedikit rubrik sebuah mading, akan makin terasa monoton dan membosankan. Karena itu perlu ada keragaman materi mading. Misalnya ada yang berat ada yang ringan. Ada yang serius ada yang santai. Dan seterusnya. Rubrikasi ini juga harus mempertimbangan proporsi. Laporan utama tentu harus mendapat tempat paling banyak di dalam mading. Sebaliknya, materi yang bersifat hiburan tentu lebih sedikit dibandingkan materi serius.

7. Desain
Saya tidak mengerti desain. Tapi saya sering kali tertarik melihat sesuatu yang tertata dengan rapi. Misalnya sambungan antar warna yang tidak terlalu kontras. Penataan yang jelas alurnya. Desain itu ibarat wajah seseorang. Tidak harus cantik untuk tampil menarik kan. Asal mengenakan pakaian yang tepat, alias tidak saltum, tampilan seseorang bisa menarik kok.

Penutup
Mading, seperti halnya ilmu teknis lain, adalah soal kebiasaan. Bisa saja Anda punya teori berlimpah soal mading, tapi tanpa praktik itu tak berarti apa-apa. Karena itu rajin-rajinlah membuat mading. Kalau tidak, ngeblog juga bisa. Soal blog, kapan-kapan kita lanjutkan lagi. 🙂 [#]

Makalah disampaikan pada Workshop Mading Degenk Magazine Minggu (21/6/09) di Denpasar.

Anton Muhajir, Wartawan Lepas, Blogger, dan aktif di Lembaga Pengembangan Media Jurnalisme dan Informasi Sloka Institute

9 Comments
  • .gungws
    June 21, 2009

    presentasi tadi siang..^^
    makasi ya sudah mau ebrbagi..maap jikalau ada kekurangan
    oia, dicariin sama kang Ayip tadi,mas….

    ReplyReply

    [Reply]

  • Tina
    August 6, 2009

    thanx buat informasi’a ya…
    sangat berguna sekali buat saya sebagai calon guru.

    ReplyReply

    [Reply]

  • Nasir
    October 10, 2009

    salam kenal….
    thank buat infonya
    saya adalah peminat dalam jurnalistik..
    kira2 kalau ikut dalm forum ini webnya/blognya/facebooknya

    ReplyReply

    [Reply]

  • Haseo
    February 15, 2010

    Wah, makasih men, kalau bisa, dikasih contoh gambar mading yo!!

    ReplyReply

    [Reply]

  • christian
    March 25, 2010

    thanks ya ats informnya…
    maju tersu dunia majalah dinding..

    ReplyReply

    [Reply]

  • ima
    April 26, 2011

    makasih banget infonya……

    ReplyReply

    [Reply]

  • Desi Amalinatus Sofiah
    November 2, 2012

    makasih bgt infonya…jadi tambah semangat bwt majuin mading sekolah deh…

    ReplyReply

    [Reply]

  • tamami
    January 1, 2013

    sip, terima kasih. seandainya bisa ketemu sama pak anton.

    ReplyReply

    [Reply]

  • winda
    January 9, 2013

    baguzzzz

    ReplyReply

    [Reply]

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *