Mengawasi Pemilu Lewat Dunia Maya

hasil-pilpres

Nama Ainun Najib tiba-tiba melejit, setidaknya di dunia maya.

Bukan. Ini bukan budayawan yang akrab dipanggil Cak Nun, seperti dugaan salah satu pendukung Prabowo – Hatta. Ainun Najib kali ini adalah anak muda kelahiran Gresik, Jawa Timur.

Dia orang di balik situs KawalPemilu.org.

Website itu menjadi rujukan mengenai hasil pemilu presiden 9 Juli lalu. Di sana, ada perkembangan terbaru mengenai jumlah para pemilih lengkap di tiap tempat pemungutan suara (TPS) di seluruh Indonesia.

Ya, di tiap TPS di seluruh Indonesia.

Aku sendiri sudah coba mencocokkan data dari dua TPS yang aku ikuti proses penghitungannya. Datanya sama persis, termasuk ketika aku bandingkan dengan data di website resmi Komisi Pemilihan Umum (KPU).

Banyak yang mengapresiasi Ainun dengan inisiatifnya tersebut sebagai upaya keren untuk mengawal penghitungan hasil Piplres. Namun, banyak pula yang sinis dan menuduh misalnya website itu menguntungkan Jokowi – Jusuf Kalla. Padahal ya tidak.

Website KawalPemilu.org dibuat dan dikelola banyak orang. Ada pendukung Jokowi ataupun Prabowo. Ada pula 700-an relawan yang bekerja semata untuk mengawal proses penghitungan suara.

Dan itulah seninya, kerelawanan. Kebersamaan.

KawalPemilu.org menerapkan konsep crowdsourcing, dikerjakan secara suka rela oleh banyak orang. Ini hal yang sangat biasa di internet. Dalam praktik sehari-hari, orang sudah akrab dengan Wikipedia, ensiklopedia daring yang jadi rujukan paling mutakhir dan mudah saat ini.

Prinsip dalam crowdsourcing sebenarnya sama seperti prinsip di internet pada umumnya, tiap orang memiliki kesempatan sama. Meskipun demikian, tetap ada mekanisne penapisan atau filtering. Semacam cek dan ricek apakah data yang disampaikan itu sudah benar.

Tapi, crowdsourcing ini pun tak hanya monopoli KawalPemilu.org. Begitu pula dengan pengawasan terhadap Pilpres kali ini. Pengawasan terjadi sejak masa kampanye hingga selesai penghitungan.

Video tentang keberpihakan panitia pemungutan suara di Hongkong terhadap salah satu calon, misalnya, sudah beredar di dunia maya begitu kekacauan terjadi di sana. Pengunggah videonya amatir. Hasilnya juga agak buram dan goyang. Tidak profesional. Tapi, justru dari video amatir itu kita bisa melihat bagaimana kecurangan terjadi.

Video kecurangan yang diunggah ke YouTube itu bisa jadi bukti bagaimana tiap warga dengan ponsel dan akses internet bisa mengawal proses ini.

Pada saat penghitungan dari TPS hingga final pun pengawasan itu dengan mudah dilakukan. Ketika masih menghitung di TPS, warga bisa memotretnya dengan ponsel dan segera menyebarluaskannya lewat media sosial seperti Twitter dan Facebook.

Ketika dalam perhitungan di tingkat lanjut, KPU menerbitkan hasil penghitungan di website. Tiap orang bisa melihat dan membandingkan dengan data yang mereka miliki. Semua terbuka. Semua bisa terlibat.

Teknologi informasi membuat pilpres kali ini membuktikan tiap warga bisa jadi pengawas dan pengawal proses. Dari awal sampai akhir. Ah, terima kasih teknologi..

No Comments Yet.

Leave a Reply

Your email address will not be published.