Waspada, Kita Mungkin Korban Selanjutnya

0 , Permalink 0

KTP atas nama Adnan Abuzar yang dipakai untuk menipu.

Laki-laki paruh baya itu memandang dengan penuh selidik.

Aku merasakan semacam kecurigaan dari matanya ketika aku bertanya padanya: “Pak Adnan Abuzarnya ada?” Bukannya menjawab, dia justru bertanya balik, “Bapak dari mana?”.

“Saya dari Denpasar. Mencari Pak Adnan Abuzar. Katanya di sini alamatnya.”

“Urusan apa?” dia terus menyelidik. Aku lihat wajahnya terasa akrab, tetapi aku lupa pernah ketemu di mana.

Aku, yang siang itu mencari, justru kemudian menjelaskan ke dia. Sejak bulan lalu, aku mencari laki-laki bernama Adnan Abuzar. Berdasarkan salinan kartu tanda penduduk (KTP) yang aku dapat, alamatnya di Jl Diponegoro No 102 Lingkungan Pande, Semarapura Kelod Kangin, Klungkung.

Di alamat itulah aku bertanya.

“Bapak pasti kena tipu. Tidak ada orang bernama Adnan Abuzar di sini. Itu alamat saya dia pakai untuk menipu,” si bapak itu berkata dengan yakin.

Aku perhatikan lagi wajahnya. Ternyata dia memang orang yang fotonya ada di salinan KTP yang aku dapat. “Kalau bapak tidak percaya, ini saya lihatin KTP asli saya..”

Dia masuk sebentar lalu kembali ke toko yang menjual ponsel, parfum, dan kain itu. Dia keluar di tempat jualan dengan membawa KTP miliknya. Benar saja. KTP yang kemudian dia perlihatkan ternyata persis sama dengan salinan yang aku dapat.

Bedanya cuma satu: nama. Di salinan yang aku dapat, nama yang tertera adalah Adnan Abuzar. Di KTP asli tertulis nama pemilik sebenarnya, Ali Saad Nabhan. Dengan seizinnya, aku pun memotret KTP itu, termasuk fotonya.

Bahkan, dengan ramah dia juga menceritakan kepadaku tentang bagaimana dia menjadi korban penipuan tersebut termasuk mengizinkanku untuk menulisnya.

Ali Saad Nabhan pemilik KTP yang digunakan orang mengaku bernama Adnan Abuzar untuk menipu.

Sebulan sebelumnya, aku mendapat pesan dari tetangga di kampung halaman, Lamongan. Si tetangga itu memintaku untuk memeriksa alamat di KTP atas nama Adnan Abuzar. Dia mendapatkan KTP itu dari si Adnan itu sendiri.

Tetangga itu juga mengatakan bahwa alamat tersebut tak hanya tempat tinggal tapi juga ruang pamer (showroom) dan tempat jual beli sepeda motor bernama Mustika Motorshop.

Si tetangga ini mengaku telah bertransaksi dengan Adnan Abuzar untuk membeli sepeda motor Honda Vario 150. Dia bahkan sudah membayar Rp 14 juta ke rekening atas nama orang tersebut. Melalui WhatsApp, tetangga ini melampirkan bukti pembayaran.

Dari awal, sejak mendapat pesan itu, aku sudah yakin kalau ini penipuan. Firasat saja: jual beli lewat online, pembayaran Rp 14 juta di depan, alamat tak jelas.

Untuk memastikannya, aku tetap mencari orang bernama Adnan Abuzar ini di alamat sebagaimana di KTP. Namun, ketika aku mencari Mustika Motorshop bulan lalu, aku hanya menemukan toko parfum. Tidak ada toko sepeda motor. Aku makin curiga.

Setelah datang kedua kalinya, barulah aku kemudian ketemu dengan pemilik KTP yang asli, Pak Ali itu tadi. Ternyata benar, nama Adnan Abuzar itu memang dipakai penipu.

Bagaimana kemudian KTP Pak Ali ini bisa dipakai?

Dia mengaku pada awalnya dia juga hampir jadi korban. Kejadiannya sudah agak lama, sekitar lima tahun lalu. Waktu itu dia hampir bertransaksi melalui situs jual beli untuk membeli ponsel. Harganya di bawah harga pasar. Dia tergiur.

Si penjual telepon, yang kemungkinan besar adalah pengguna nama Adnan Abuzar, kemudian meminta Pak Ali untuk mengirimkan salinan KTP sebagai tanda keseriusan. Dengan polosnya, si bapak kelahiran Surabaya mengirim foto KTP-nya.

Transaksi itu kemudian batal karena calon penjual tidak menindaklanjuti tetapi KTP Pak Ali sudah kadung terkirim.

Eh, sejak kira-kira dua tahun terakhir, ternyata kemudian Pak Ali mendapatkan akibat kecerobohannya mengirim foto KTP ke orang lain yang tidak dia kenal secara personal itu. KTP itu dipakai untuk menipu!

Untuk lebih meyakinkan korban, si pelaku penipuan ini juga mengambil foto-foto pribadi Pak Ali dari akun Facebook-nya. Dua foto yang dikirim tetanggaku, yang dia peroleh dari penipu, ternyata foto Pak Ali saat umrah dan bertemu salah satu penceramah terkenal.

Pak Ali mengaku sebelumnya sudah ada setidaknya tiga orang datang mencari orang bernama Adnan Abuzar itu ke alamatnya. Semuanya dari luar Bali, seperti Madura dan Banyuwangi. Ada yang baru mau bertransaksi dan kemudian ke Bali untuk memastikan tetapi ada pula yang sudah telanjur membayar sampai Rp 20 juta.

“Saya kasihan, Pak. Jauh-jauh mereka ke sini ternyata ditipu. Pake alamat saya lagi,” katanya.

Aku sempat cek di Internet juga dengan kata kunci “Adnan Abuzar” itu. Eh, ternyata ada juga yang sudah pernah tertipu dan menuliskan ceritanya.

Pak Ali sendiri mengaku sudah pernah lapor ke Polres Klungkung dengan alasan namanya digunakan untuk menipu. Namun, ya begitulah. Laporan itu pun tidak jelas sampai mana tindak lanjutnya.

Tinggal kini dia yang jadi sasaran pencarian para korban.

No Comments Yet.

Leave a Reply

Your email address will not be published.