
Aku sedang terlalu malas untuk menulis serius.
Maka, baiklah. Aku tulis ngasal saja cerita jalan-jalan bersama Satori, Bani, dan Bunda ke Gili akhir pekan lalu. Jalan-jalannya pas libur panjang Nyepi.
maka, menulislah untuk berbagi, agar ceritamu abadi.

Aku sedang terlalu malas untuk menulis serius.
Maka, baiklah. Aku tulis ngasal saja cerita jalan-jalan bersama Satori, Bani, dan Bunda ke Gili akhir pekan lalu. Jalan-jalannya pas libur panjang Nyepi.

Ah, kenapa pula aku lupa untuk menulis ini?
Tentang ulang tahun Satori, anak kedua kami, tiga hari lalu. Ini ulang tahun dia yang kedua. Kami merayakan di rumah saja. Continue reading “Gitar untuk Ulang Tahun Satori”
“Ayah, aku mimpi buruk sekali tadi.”
Bani memulai obrolan pagi ini. Kami duduk di sofa ruang tamu sekitar pukul 6 pagi. Dia baru bangun tidur, cuci muka, lalu duduk di sampingku. Aku lagi baca koran.
Continue reading “Pertemuan Rahasia Bani dan Teman-temannya”
Niat kami tak berjalan dengan baik.
Petugas penjaga di pintu masuk Candi Borobudur tak mengizinkan kami membawa brownies. Padahal kue manis itu maunya kami jadikan sebagai kue ulang tahun
Hari ini mungkin mewakili perjalanan kami.
Pukul 8 pagi Bunda duluan keluar. Dia liputan tentang anak-anak autis di wantilan DPRD Bali. Aku giliran momong Satori, yang kini berumur enam bulan. Karena hari Minggu, maka Bani juga di rumah. Libur sekolah. Pengasuh keduanya tak masuk.
Continue reading “Tetaplah Menjadi Matahari Kami, Bani dan Satori”
Kami setengah putus asa. Hampir saja membatalkannya.
Bani menangis sampai meronta-ronta. Padahal dia sudah telentang di kasur serta membuka sarung dan celana. Dia siap disunat.
Continue reading “Merayakan Sunatnya Bani dan Aqiqah Satori”