Tak perlu antre sama sekali.
Kami bisa langsung mendapatkan pelayanan dari bidan Ni Wayan Darsini ketika sampai di rumahnya Kamis sore lalu. Padahal, kalau di dokter anak, kami harus antre setidaknya satu jam.
maka, menulislah untuk berbagi, agar ceritamu abadi.
Tak perlu antre sama sekali.
Kami bisa langsung mendapatkan pelayanan dari bidan Ni Wayan Darsini ketika sampai di rumahnya Kamis sore lalu. Padahal, kalau di dokter anak, kami harus antre setidaknya satu jam.
Sepucuk surat protes menyambutku begitu sampai rumah.
Bani memberikan surat itu begitu aku membuka pintu rumah sekitar pukul 8.30 malam pas baru pulang kerja. Hari ini tak hanya jam kerja seperti biasa, pukul 8 pagi sampai 5 sore, aku juga ada wawancara untuk riset soal jurnalisme warga di Bali.
Semula, narasumber dari Asosiasi Pengusaha Jasa Internet Indonesia (APJII) Bali tersebut bilang bisa wawancara pukul 4.30 Wita. Eh, ndilalah ternyata dia molor sampai sekitar pukul 6 petang baru bisa. Apa boleh buat. Daripada batal.
Kami percaya nama adalah doa. Begitu pula nama anak-anak kami.
Doa kami sederhana saja. Semoga anak-anak kami bisa menjadi anak-anak yang berani dan adil. Tak hanya dalam pikiran tapi juga tulisan dan tindakan. Maka, begitulah kami memberi identitas pada keduanya, Bani Nawalapatra dan Satori Nawalapatra.
Refleksi usai mendampingi istri melahirkan lewat water birth.
Mendampingi istri melahirkan ini merupakan pengalaman pertamaku. Pada kelahiran anak pertama kami, Bani Nawalapatra, aku tak terlalu banyak mendampingi. Salah satunya karena proses kelahirannya lewat operasi sesar.
Continue reading “Water Birth, Melawan Mitos Memelihara Kesakralan”
Mendadak jantungku berdegup lebih kencang karena takut.
Ketakutan berlebihan itu justru datang ketika dokter bilang bayi kami sudah sepertiga keluar. Aku tak tahu persis apa maksud sepertiga ini. Tapi, aku bayangkan bayi kami sudah keluar kepalanya sementara dua pertiga badannya masih dalam rahim.
Diam-diam ada tradisi baru di keluarga besar kami, menulis.
Keluarga besar ini adalah aku, saudara-saudara, sepupu-sepupu, dan keturunannya. Kami biasa menyebut keluarga besar ini Bani Taqrib, mengacu pada nama kakek kami, Taqrib.
Kakek nenek kami melahirkan lima anak. Empat di antaranya masih hidup. Mereka tinggal di desa di pesisir Lamongan, Jawa Timur di mana hampir semua di antara kami lahir. Ibuku anak tertua di antara mereka.
Lahir di kampung sama, kini para sepupu ini menyebar di banyak tempat. Mesir, Singapura, Batam, Bengkalis, Jakarta, Malang, Surabaya, dan Bali. Ada yang kuliah, kerja, atau memang sudah menetap di masing-masing tempat tersebut.
Alarm belum berbunyi ketika Bani membangunkanku pagi itu.
Jam di Galaxy S masih pukul 04.50 Wita. Alarm di ponsel pintar ini aku atur berbunyi pada pukul 05.00. Namun, Bani sudah menggoyang-goyang tubuhku. “Ayah. Bangun. Sepakbolanya sudah mau main,” kata Bani sambil menarik selimutku.
Dengan mata masih berat aku bangun. Cuci muka. Ambil selimut lagi. Lalu duduk manis di ruang tamu bareng Bani. Di luar masih gelap pada dini hari yang dingin itu. Tapi, kami sudah siap menikmati pertandingan Barcelona lawan Real Madrid.
Selama sekitar dua jam kemudian, kami sama-sama bersemangat memberi dukungan pada Barcelona. Kami sama-sama pendukungnya. Hingga akhir pertandingan kemudian sih skor akhirnya 2-2 setelah Barcelona sempat menang 2-0 hingga akhir babak pertama.
Empat tahun setelah kelahirannya, Bali Blogger Community (BBC) makin rekat sebagai sebuah keluarga.
Tak hanya keluarga di antara para anggotanya tapi juga anak-anak mereka. Maka, bagiku, BBC tak hanya tentang blog semata tapi juga tempat berbagi cerita dan pengalaman sebagai orang tua muda.
Sekali-kali, mari sok religius. Mumpung momentumnya juga pas. 🙂
Judul di atas merupakan gubahan dari ayat dalam Al-Quran. Seingatku sih dia bertebaran di beberapa surat. Bunyi tepat ayat tersebut adalah, “Maka nikmat Tuhanmu yang mana lagi yang kau dustakan?”.
Continue reading “Maka, Pencapaian Apa Lagi yang Kau Dustakan?”