Bersembunyi untuk Keamanan dan Privasi

0 , , , Permalink 0

digital-security-and-privacy

Rasa takut mendadak menjalar di pikiranku.

Sopir taksi kami tidak terlihat membawa kami ke sebuah tempat pelatihan. Kami malah masuk ke tengah hutan. Tidak ada tanda-tanda kehidupan.

Hari sudah gelap. Sekitar pukul 7 malam waktu setempat. Jalanan berganti. Tidak ada lagi aspal. Hanya jalan tanah sedikit berkubang air sisa-sisa hujan.

Penerang jalan hanya dari lampu mobil. Tapi, sorotan terang lampu mobil di antara gelapnya suasana sekitar justru menciptakan semacam sensasi horor.

“Bagaimana kalau sopir ini justru menculik kami? Bagaimana jika dia malah menurunkan kami di tengah hutan, mengambil barang-barang kami?”

Pikiranku mulai resah.

Di dalam mobil ada lima penumpang. Tiga penumpang perempuan muda di belakang. Di kursi depan ada aku dan si sopir. Jika sopir ini saja yang berbuat jahat, sepertinya masih ada peluang untuk menang.

Tubuhnya tidak terlalu tegap. Agak cungkring. Terlihat tidak terlalu tangguh jika kami harus melawan dia bersama-sama.

Tapi, bagaimana jika di tengah hutan ada teman-temannya? Bagaimana jika di sana mereka bawa senjata?

Pikiran-pikiran aneh makin menyerbu ketika kami makin dalam masuk ke tengah hutan. Bangunan terakhir, yang semula aku pikir tempat pelatihan kami, sudah lewat. Sekali lagi kembali gelap. Hanya terang dari lampu sorot mobil.

Kami lebih banyak diam. Aku yakin tiga perempuan di belakang juga mulai takut. Mobil melewati jalan agak berkelok-kelok.

Perjalanan hanya sekitar 15 menit. Tapi, rasanya lebih lama dibanding waktu perjalanan dari Denpasar – Bangkok – Myanmar dan Yangon ke lokasi ini.

Ini di Myanmar. Negara berjarak lima jam penerbangan dari Bali dan transit di Bangkok. Hutan tempat kami berjarak sekitar 2 jam dari Yangon, ibu kota negara yang baru membuka diri pada dunia luar sejak tiga tahun lalu.

Kami masuk “negara baru”. Bisa jadi masih banyak penculik atau kelompok bersenjata.

Kami bisa saja diperjualbelikan, ditinggal di tengah hutan, atau ditembak….

Sekilas cahaya lampu muncul di depan. “Finally there is a light!!” seru teman perempuan dari Filipina. Pada saat sama, aku juga bilang, “Finally there is a life.

Kami tertawa. Finally there is a light and a life..

Benar saja. Ternyata itulah tempat kegiatan kami selama lima hari ke depan.

Tempat ini serupa green camp. Dia sebenarnya tidak berada di tengah hutan. Namun, banyaknya pohon dan semak membuatnya seperti begitu. Tempat juga terlihat tidak terlalu terawat.

Di sinilah selama lima hari ke depan kami akan belajar dan berdiskusi banyak tentang keamanan internet dan privasi. Pelaksana kegiatan sebuah lembaga berbasis di Berlin, Jerman. Pesertanya sebagian besar dari Asia Tenggara: Indonesia, Filipina, Thailand, Kamboja, Vietnam, dan tuan rumah Myanmar tentu saja.

Aku dan Wida, teman lain dari Bali, ikut atas nama Southeast Asian Freedom of Expression Network (SAFENET). Organisasi lain yang ikut dari Indonesia adalah Engage Media, Combine, dan Perempuan Mahardhika.

Organisasi non-pemerintah dari negara lain pada umumnya bekerja di isu beragam, seperti advokasi masyarakat adat, rekonsiliasi konflik, advokasi tambang, aktivis mahasiswa, kelompok LGBT, dan semacamnya. Mereka orang-orang yang bekerja untuk kelompok terpinggirkan, sesuatu yang juga membuat mereka berada di posisi rentan.

Bisa jadi inilah alasan kenapa pelatihannya di tengah hutan, bersembunyi jauh dari pusat peradaban. Mari lihat bagaimana agenda lima hari ke depan.

0 Comments

Leave a Reply

Your email address will not be published.