Tempat Nongkrong Para Kalong

Kalong yang aku maksud adalah mereka yang suka begadang hingga larut malam. Atau bisa saja mereka yang setidaknya keluar ketika gelap sudah datang. Sebagai kota urban, Denpasar juga punya beberapa tempat untuk nongkrong ketika malam.

Tentu saja jumlahnya juga bejibun. Tapi dari sekian tempat itu, hanya sedikit tempat yang aku pilih sebagai tempat favorit. Di antaranya ada di bawah ini. Ciri khas utama tempat-tempat ini adalah sama-sama jual makanan dan murah meriah.

Continue reading “Tempat Nongkrong Para Kalong”

Kumpul Lagi, Ngeblog Lagi

Terima kasih untuk Dek Wah. Selamatan atas blog barunya, blog etalase foto-foto hasil jepretan dengan Canon EOS 1000nya, malam ini jadi tempat kumpul lagi untuk sebagian teman-teman blogger Bali. Tak hanya makanannya yang enak dan murah, dengan tempat yang santai, suasanya juga asik banget. Bisa serius, bisa becanda. Dan paling jelas, ada hasilnya.

Seingetku sudah lama banget kami, anggota Bali Blogger Community (BBC), tidak kumpul rame-rame dengan suasana guyub seperti yang barusan. Malam ini ada 12 orang yang ikut makan-makan dan nongkrong di lesehan Pasar Burung Sanglah. Selain Dek Wah ada Dek Didi, Bani, Lode, Bowo, Aku, Yanuar, Gus Tulank, Nyoman, Novan, Aprian, dan temannya Bowo yang aku tak tahu namanya.

Continue reading “Kumpul Lagi, Ngeblog Lagi”

Karena Berbagi Tak Pernah Rugi

Teman-teman ngobrolku Sabtu awal Mei lalu ada benarnya. Blogger Indonesia memang jarang berbagi tentang ilmu yang mereka miliki dan kuasai. Ini berbeda dengan blogger luar negeri, contohnya saja Amerika Serikat, yang rajin membagi keahlian mereka lewat blog.

Obrolan itu terjadi ketika kami batal main futsal. Teman-teman anggota Bali Blogger Community (BBC)Dek Didi, Gus Tulang, Agung Ardana, Aprian, dan aku- duduk lesehan di samping lapangan sambil ngobrol ke sana ke mari. Aku suka dengan suasana yang spontan, ide yang mengalir, dan tema yang kami diskusikan.

Continue reading “Karena Berbagi Tak Pernah Rugi”

Indonesian AIDS Policy: "On the ground" Isn't as Good as "On Paper"

by Anton Muhajir
Published at Asia Report

For Agus, fictitious name, the end of life was not the end of a journey. As a former injection drug user (IDU), he faced a new problem when he passed away. Two days ago, the IDU died from complications arising from AIDS. Often in Bali, a person who dies is the responsibility of not only their families, but also of the traditional local community, called banjar.

Normally, this care consists of bathing, burying, cremation, and a traditional farewell ceremony. But not for Agus.  Agus’s body was rejected not only by his family, but by his community, as well.

Continue reading “Indonesian AIDS Policy: "On the ground" Isn't as Good as "On Paper"”

Farmers and consumers benefit from sustainable agriculture

by Anton Muhajir
Published at Third World Resurgence

While figures and statistics are increasingly showing that sustainable agriculture is viable in ensuring food security and rural livelihoods, it is important to note that agriculture is also about human experiences.  Sustainable agriculture is a story about lives, about how farmers struggle to make changes for a better future.  Drawing on the Indonesian experience, this article presents a set of such stories about farmers in Indonesia who have proven that sustainable agriculture works.

Organic rice farming helps children’s education
JENIA, a woman farmer from Munting village on Flores island, Indonesia, can now plan her children’s education better as she does not have to worry about food for her family. She and other farmers from the village have benefited from sustainable agriculture on an island which is known to suffer from annual food shortages.

Continue reading “Farmers and consumers benefit from sustainable agriculture”

Kehilangan Keluarga di Dunia Maya

Makin hari aku memang makin merasakan kehilangan keluarga di dunia maya ini. Aku pernah berpikir ini mungkin hanya sementara waktu. Mungkin sebagian orang sedang jenuh dengan suasana akrab yang kadang kebablasan bagi sebagian lain.

Tapi kok aku makin merasa khawatir. Jangan-jangan keluarga baru ini memang makin ditinggalkan anggota keluarganya sendiri.

Continue reading “Kehilangan Keluarga di Dunia Maya”

Sepuluh Negara Berbahaya untuk Blogger

Akhir April lalu, Committe to Protect Journalist (CPJ), lembaga independen yang bergerak di bidang kebebasan pers, menerbitkan laporan tentang sepuluh negara berbahaya bagi blogger. Sebatas yang aku tahu, ini pertama kalinya CPJ menerbitkan laporan negara berbahaya bagi blogger.

Biasanya tiap tahun lembaga yang berpusat di New York, Amerika Serikat ini hanya memberi laporan tentang jurnalis, bukan blogger. Tapi tahun ini ternyata berbeda. Aku lihat di website mereka, lembaga ini tak hanya membuat laporan tentang negara berbahaya bagi blogger. Mereka juga menulis banyak hal terkait dengan blogger.

Continue reading “Sepuluh Negara Berbahaya untuk Blogger”

Wajah Bali di Rumah Pengasingan Soekarno

Rumah Pengasingan Soekarno Ende

Menjelang balik ke Bali setelah selesai jadi fasilitator di Bajawa, Ngada (23/4) lalu, aku harus mampir ke Ende, kabupaten lain di Flores, Nusa Tenggara Timur. Jarak antara Ende dan Bajawa sekitar empat jam perjalanan lewat darat naik mobil. Aku harus ke Ende dulu karena dari kota di tepi pantai selatan Flores ini ada penerbangan ke Denpasar. Kalau di Bajawa tidak ada.

Aku dan Ana, teman seperjalanan, sampai di Ende lebih awal sekitar dua jam sebelum check in untuk penerbangan. Pesawat Merpati dari Ende ke Kupang akan berangkat pukul 11.55 Wita, berarti kami harus check in 10.55 Wita. Kami sampai di Ende sekitar pukul 9 pagi. Karena itu setelah mengambil tiket pesanan di kantor Yayasan Tananua, LSM lokal di Ende, kami memilih jalan-jalan dulu.

Continue reading “Wajah Bali di Rumah Pengasingan Soekarno”

Mengagumi Batu Megalit Desa Bena

Batu Megalit Bena

Upacara dan pesta adalah hal tak terpisahkan dari ritual leluhur kita, Indonesia. Misalnya di Bali. Galungan, yang adalah ritual upacara agama Hindu Bali, bagiku adalah juga pesta. Selain makanan berlimpah di rumah masing-masing, upakara yang diberikan adalah juga simbol dari pesta. Penjor, semacam umbul-umbul, dipenuhi dengan aneka hasil bumi: buah, bunga, dan umbi-umbian.

Begitu pula di Desa Bena, Kecamatan Jerubu’u, Kabupaten Ngada, Flores yang aku kunjungi pekan lalu. Tata desa tua yang berumur sekitar 300 tahun ini pun sepertinya memang dibuat untuk memenuhi kebutuhan pesta dan upacara tersebut.

Continue reading “Mengagumi Batu Megalit Desa Bena”