
Awalnya sih aku tidak berniat berkunjung ke Desa Bena. Apalagi aku tidak terlalu tahu tentang desa ini. Aku hanya samar-samar pernah mendengar namanya. Nah, ketika Raras, teman di kantor, bilang bahwa desa itu cantik, aku terpengaruh juga. Begitu sampai di Bajawa pekan lalu, Desa Bena jadi salah satu target yang akan aku kunjungi.
Hari ketiga di Bajawa, usai workshop pembuatan buku advokasi petani kopi Watuata, aku langsung bilang ke teman-teman Lembaga Advokasi dan Penyadaran Masyarakat (Lapmas) kalau aku ingin ke tempat ini. Ketika itu sudah pukul 2 sore. Waktunya agak mepet. Dengan senang hati teman-teman aktivis LSM setempat itu menjadi guide kami sekaligus memberi transportasi. Gratis lagi. Hehe..


