Mendadak Gagap saat Wawancara Seleksi Beasiswa

1 , , Permalink 0

Perubahan posisi bisa membalik emosi.

Kali ini aku mengalaminya saat wawancara untuk seleksi penerima beasiswa Chevening dari Pemerintah Inggris. Wawancaranya di Kedutaan Inggris di Jakarta, 19 April kemarin.

Wawancara sudah menjadi bagian dari pekerjaanku sebagai wartawan. Sudah lebih dari 15 tahun jadi jurnalis, aku sudah kenyang makan asam garam bagaimana melakukannya. Aku tahu bagaimana mengajukan pertanyaan, membuat obrolan dengan narasumber agar tetap mengalir, sampai menanyakan hal-hal sensitif dengan teknik tersendiri.

Dengan sedikit jemawa, aku yakin punya keahlian di bidang itu.

Cuma, semua keahlian itu seperti hilang entah ke mana ketika aku berada pada posisi sebaliknya, sebagai orang yang diwawancara.

Sebenarnya, ini kedua kali aku masuk tahap wawancara dalam proses mencari beasiswa. Aku sudah pernah ikut seleksi sampai tahap wawancara ketika mencari beasiswa Prestasi dari Ford Foundation pada 2010 silam. Waktu itu wawancaranya di Kupang.

Kalau tak salah dari delapan orang kandidat yang diwawancara, mereka hanya mencari empat orang. Aku dan Bunda gagal.

Bermodal pengalaman sudah pernah diwawancara untuk seleksi beasiswa tujuh tahun silam, plus saran dari teman-teman penerima beasiswa Chevening baik hati yang rajin memberi dorongan, aku kira akan lebih baik.

Ternyata tidak juga.

Perasaan grogi sudah muncul begitu masuk kawasan Kedutaan Inggris. Untungnya para petugas di pintu masuk amat baik hati dan ramah. Sikap mereka berbeda dari sebagian besar petugas keamanan yang biasanya garang. Keramahan mereka bisa mencairkan rasa dag-dig-dug-der yang ada sepanjang perjalanan.

Begitu duduk manis di ruang tamu Kedutaan Inggris, rasa grogi makin bertambah. Aku gelisah sepanjang menunggu hampir satu jam sebelum wawancara.

Shit! Tak kusangka akan begitu mendebarkannya.

Pukul 14.00 WIB, mundur 15 menit dari jadwal yang diberikan, aku dipanggil masuk ruangan wawancara. Ada tiga pewawancara, dua perempuan dan satu laki-laki. Kedua perempuan warga Indonesia, laki-lakinya dari Inggris. Ada alumni penerima beasiswa Chevening, ada staf Kedutaan Inggris di bagian beasiswa Chevening.

Seluruh wawancara dilakukan dalam bahasa Inggris. Topiknya tentang motivasi yang sudah ditanyakan dalam formulir beasiswa, semisal kepemimpinan, rencana dan alasan studi, rencana setelah beasiswa, dan seputar itulah..

Nah, pada bagian wawancara ini terasa sekali perlunya latihan. Aku sudah sempat baca-baca lagi jawaban yang aku berikan di formulir lamaran beasiswa. Tapi, karena grogi, jawabannya kok rasanya tidak meyakinkan.

Jawaban-jawaban yang aku berikan rasanya kurang tajam. Tidak mendalam. Sedikit berbeda dengan apa yang sudah aku tuliskan.

Rasanya memang lebih mudah menyampaikan informasi lewat tulisan daripada lisan.

Refleksi dari itu, aku jadi mengalami sendiri bagaimana wawancara sebenarnya tidak bisa menjadi satu-satunya cara untuk menggali fakta atau opini. Padahal, inilah salah satu cara yang selalu aku lakukan, menggali informasi dari wawancara.

Ajaibnya, informasi hasil wawancara sering dianggap sebagai satu-satunya kebenaran tentang sesuatu. Padahal bisa jadi bias, bisa jadi sengaja dibiaskan, bisa jadi narasumber tidak dalam kondisi benar-benar siap untuk wawancara.

Banyak hal yang mempengaruhi apakah narasumber bisa menyampaikan jawaban dengan baik atau tidak. Itu berpengaruh pula pada sejauh mana narasumber bisa “mengungkap” fakta untuk melengkapi informasi yang digali pewawancara.

Khusus untuk wawancara dalam seleksi beasiswa, kemampuan untuk “menjual diri” dan menyampaikan ide juga amat penting. Parahnya aku terlalu pemalu dan sok rendah hati untuk bisa menjual diri ini.

Hasilnya, aku merasa kurang mampu meyakinkan selama wawancara seleksi beasiswa kali ini.

Semoga saja dalam wawancara beasiswa semacam ini akan ada proses verifikasi atau double check seperti halnya dalam kerja-kerja jurnalisme. Agar informasi yang mereka peroleh tidak hanya dari wawancara kandidat tapi juga narasumber lain, katakanlah pemberi referensi.

Dengan begitu informasi yang mereka dapatkan akan lebih lengkap. Dengan cara itu, siapa tahu aku lebih beruntung kali ini. Setelah gagal belasan kali, siapa tahu kali ini aku beruntung lolos dapat beasiswa.

Biar bisa menjadi hadiah ulang tahun ke-38 sekaligus obat kecewa setelah kekalahan Ahok di Pilkada Jakarta kali ini.

Catatan: Sumber foto ilustrasi dari website Universitas Brawijaya. Kemarin ga boleh bawa ponsel pas wawancara. Jadi tidak mungkin bisa motret.

1 Comment
  • pandebaik
    April 28, 2017

    Mungkin kerana targetnya harus bisa lolos mangkanya degdegan mas… coba kalo targetnya ya nothing to lose, mungkin bisa lolos tanpa grogi :p

    ReplyReply

    [Reply]

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *