Perginya Satu Kaki Rehabilitasi

SMS dari Mercya Minggu kemarin mengejutkan. Bob telah pergi. Aku tidak terlalu akrab dengan Bob. Kami hanya sesekali ngobrol kalau ketemu. Namun, bagiku, Bob adalah paman bagi para pecandu ataupun mantan pecandu Napza di Bali. Aku tanya ke beberapa teman untuk kemudian aku yakin benar. Bob telah pergi..

Maka, yakinlah aku. Bali kehilangan paman para mantan pecandu narkotika, psikotropika, dan zat adiktif lain (Napza), Bob Monkhouse. Uncle Bob, demikian panggilan akrabnya, meninggal Minggu sore kemarin di Tabanan akibat serangan jantung.

Continue reading “Perginya Satu Kaki Rehabilitasi”

Besok-besok, Kasi Tau ya..

Serius. Dari awalnya sebenarnya aku tidak tertarik memberikan Disclaimer atau Peringatan di blog ini. Aku merasa blog ini ya memang untuk tempat berbagi apa saja: pengetahuan, pengalaman, perasaan. Jadi aku merasa aneh kalau harus memperingatkan orang yang membaca tulisan di blog ini.

Tapi kasus dua buku yang mengambil tulisanku di blog tersebut ibarat lubang bagi keledai. Harus jadi pelajaran. Bahwa memang sebaiknya ada peringatan. Bukan untuk membatasi orang menggunakan informasi di dalam blog ini. Tapi untuk mengingatkan pada mereka yang suka mengomersialkan karya orang lain yang sebenarnya dibebaskan untuk siapa saja tanpa harus membelinya. Besok-besok kalau mau menjual karya orang lain itu mbok ya kasih tau dulu.

Continue reading “Besok-besok, Kasi Tau ya..”

Belajar Keragaman dari Keluarga Braiden

Prince William Tall Ship

Bulan Oktober selalu mengingatkanku pada Daniel Braden, pemuda asal London, Inggris. Kami tidak pernah bertemu secara fisik. Aku hanya membaca namanya di monumen Bom Bali di jalan Legian Kuta. Braden adalah salah satu dari 202 korban peledakan bom di Bali pada 12 Oktober 2002 lalu.

Namun kematian Braden melahirkan semangat baru bagi pacarnya, Jun Hirst, tentang perlunya membuat dialog lintas budaya antar-remaja. Menurut Jun, yang juga lahir dari keragaman Jepang – Inggris, peledakan bom di Kuta lahir dari fanatisme pada identitas diri dan kebencian pada identitas orang lain.

Continue reading “Belajar Keragaman dari Keluarga Braiden”

Karena Bukan Pencuri, Maka Aku Pergi

Memenuhi permintaan tulisan kuliner dari sebuah majalah bulanan terbitan Jakarta, saya pun berkunjung ke kafe di jalan Pulau Kawe ini. Kafe ini khusus menjual mie dalam aneka olahan yang memang menggiurkan.

Saya sudah pernah menulisnya sekitar setahun lalu untuk majalah kuliner yang lain. Karena itu ketika ada permintaan menulis kembali kafe ini, saya menerimanya dengan senang hati. Sebab selain menunya yang khusus, berbagai olahan mie, itu disajikan dalam olahan enak, kafe ini juga bagus karena suasananya yang asik. Kafe ini memang layak direkomendasikan sebagai tempat bersantap.

Continue reading “Karena Bukan Pencuri, Maka Aku Pergi”

Sudah Bayar Dibentak Pula

Petugas berbaju batik putih biru itu menghalangi jalanku keluar dari gerbang Bandara Ngurah Rai Rabu pukul 9.30 Wita pagi ini. Dia berhenti dengan sepeda motornya di tengah satu-satunya jalur untuk keluar bandara tersebut.

Aku tekan bel. Dia lalu mundur dengan tatapan tak bersalah, apalagi minta maaf. Tidak apa-apa. Bukan masalah besar.

Continue reading “Sudah Bayar Dibentak Pula”

Setelah Dua Minggu Terabaikan

Naik Kuda di Bromo

Ya, aku tahu. Blog ini lama tidak terurus. Kalau dilihat dari posting terakhir sih berarti persis dua minggu lalu aku nulis di blog ini. Terlalu banyak alasan untuk dipakai ngeles. Nah, daripada hanya sibuk cari alasan, mending kasih update sajalah. Inilah kerjaan dan kegiatan yang memang bikin selama sekitar sebulan, atau malah lebih ya?

Pertama dua tulisan panjang. Tulisan pertama adalah laporan tindak kekerasan oleh polisi di kalangan pengguna heroin suntik alias injecting drug user (IDU). Ini tulisan lama yang aku janjikan buat teman-teman IDU yang tergabung di Ikatan Korban Napza (IKON) Bali. Apa daya, meski sudah lama aku janjikan, tulisan ini tertunda agak lama.

Continue reading “Setelah Dua Minggu Terabaikan”

Pesan Cumi, Cuma Mimpi

Memenuhi undangan seorang teman, aku, Bunda, dan Bani pun mencoba satu restoran baru di jalan Dewi Madri Renon. Jumat malam lalu, kami pun ke sana dengan perut keroncongan. Pokoknya sudah siap tempurlah..

Suasana restoran yang baru buka sekitar seminggu ini asik. Semua warna bantal dan sandaran kursi yang merah ngejreng mengingatkanku pada restoran Rosso Vivo, yang kemudian diikuti resto sebelahnya, Ocean Beach di jalan raya Pantai Kuta. Dua resto ini tak hanya menawarkan makanan dan minuman tapi juga suasana.

Continue reading “Pesan Cumi, Cuma Mimpi”

Perempuan Terbaik yang Pergi Itu

IMG_6358

Husnul Khotimah adalah salah satu perempuan terbaik bagiku.

Ketika aku masih SMP, atau malah SD, dia sudah mengajari tentang tak adilnya pembagian pekerjaan antara laki-laki dan perempuan. Perempuan, katanya, lebih sering hanya jadi pembantu di rumah tangga. Di sisi lain laki-laki lebih banyak menuntut.

Continue reading “Perempuan Terbaik yang Pergi Itu”

Kumpul Lagi, Ngeblog Lagi

Terima kasih untuk Dek Wah. Selamatan atas blog barunya, blog etalase foto-foto hasil jepretan dengan Canon EOS 1000nya, malam ini jadi tempat kumpul lagi untuk sebagian teman-teman blogger Bali. Tak hanya makanannya yang enak dan murah, dengan tempat yang santai, suasanya juga asik banget. Bisa serius, bisa becanda. Dan paling jelas, ada hasilnya.

Seingetku sudah lama banget kami, anggota Bali Blogger Community (BBC), tidak kumpul rame-rame dengan suasana guyub seperti yang barusan. Malam ini ada 12 orang yang ikut makan-makan dan nongkrong di lesehan Pasar Burung Sanglah. Selain Dek Wah ada Dek Didi, Bani, Lode, Bowo, Aku, Yanuar, Gus Tulank, Nyoman, Novan, Aprian, dan temannya Bowo yang aku tak tahu namanya.

Continue reading “Kumpul Lagi, Ngeblog Lagi”