Yes, Weed (I) Can’t

Setelah mondar-mandir melihat beberapa bangunan menarik di Hilversum, menikmati pasar murah, sampai memotret tanda dilarang blow job di toilet umum, aku dan salah satu teman akhirnya mampir di coffee shop. Di dalamnya, para penghisap ganja guyub berbicara dalam Bahasa Arab diiringi irama musik Timur Tengah. What?

“Pengajian kok sambil ngisep ganja?” aku tertawa sendiri di pikiranku.

Continue reading “Yes, Weed (I) Can’t”

Let's Stoned, Drunk, and Horny in Amsterdam

Di Belanda, atau setidaknya Amsterdam, agama dan kesenangan bukan hal yang dipisahkan. Mereka berdampingan. Maka, bar-bar yang menyajikan ganja (coffee shop) bisa berdampingan dengan gereja, perempuan berjilbab lalu lalang –atau bahkan melihat-lihat– toko peralatan seks (sex shop), desah rayuan perempuan di Red Light District bersahutan dengan genta gereja..

Coffee shop dan Red Light sepertinya memang jadi merk dagang Amsterdam. Buktinya, aneka souvenir di ibu kota Belanda ini berisi tulisan atau pesan tentang dua hal tersebut. Kaos-kaos tentang ganja dan gemerlap dunia malam tak hanya mudah ditemukan tapi juga mendominasi toko-toko souvenir yang berderet-deret sepanjang jalan.

Continue reading “Let's Stoned, Drunk, and Horny in Amsterdam”

Mudahnya Masuk Negeri Belanda

Yes. Akhirnya kami sampai juga di Belanda Sabtu pagi sekitar pukul 9 waktu Belanda. Setelah terbang selama sekitar 14 jam, termasuk transit dua jam di Kuala Lumpur, Malaysia, pesawat Malaysia Airlines kami mendarat di Bandara Schipol, Belanda.

Ada 18 orang dalam rombongan ini. Kami semua anggota Aliansi Jurnalis Independen (AJI) yang akan mengikuti kursus new media di Hilversum, Belanda. Kursus di Radio Nederland Training Centre (RNTC) ini diadakan oleh AJI Jakarta dan Neso Indonesia.

Continue reading “Mudahnya Masuk Negeri Belanda”

Oalah. Ternyata Sumba Itu…

Tiap kali mendengar nama Sumba, Nusa Tenggara Timur (NTT) yang terlintas di kepalaku selama ini adalah pantai. Tidak tahu juga. Mungkin karena beberapa teman pernah bercerita soal ombak di sana yang bagus untuk selancar. Setahuku, turis juga suka datang ke pulau ini untuk menikmati ombaknya.

Maka, ketika akhirnya aku ke sana Rabu lalu, aku masih mikir soal pantai ini. Aku bayangkan akan bisa tinggal di dekat pantai menikmati deburan ombak. Lalu, pada pagi harinya bisa liputan. Kalau ini yang terjadi maka akan jadi kombinasi yang tepat antara bekerja dan jalan-jalan.

Tapi, apa yang aku alami ternyata jauh dari yang aku bayangkan.

Continue reading “Oalah. Ternyata Sumba Itu…”

Saya Tak Pernah Menuduhnya sebagai Pencuri

Tulisan ini untuk menjawab tulisan Merry Magdalena di blog maupun Facebooknya perihal kutipan tanpa izin untuk tujuan komersial. Tulisan ini saya buat dengan kacamata saya jadi tentu saja akan subjektif. Tapi saya sudah berusaha lebih banyak memberikan fakta agar tidak terlalu banyak beropini.

Selain itu, tulisan ini saya buat untuk menyelesaikan “polemik” di antara kami. Saya harap masalah ini bisa selesai tanpa harus dipanjanglebar dan dibesar-besarkan..

Continue reading “Saya Tak Pernah Menuduhnya sebagai Pencuri”

Remembering an innovative rights advocate

Published @ Asia Catalyst Blog

After three weeks of hospitalization, Bali and Indonesia’s best-known drug user rights advocate I Gusti Ngurah Wahyunda passed away in early March. Wahyu, 31 years old, was the founder of the Indonesian Drug User Solidarity Association (IDUSA) and coordinator of Ikatan Korban Napza (IKON), a network of drug victims in Bali.

I honor him as a friend, activist, and an innovative fighter who built a movement to defend the human rights of drug users.

Continue reading “Remembering an innovative rights advocate”

Berbaringlah, Kawan. Berbaringlah dengan Tenang..

Wahyu

Seorang kawan telah berpulang. Ketika membaca SMS Gendo dan Moyong, Sabtu pagi lalu pukul 5.30an Wita, aku hanya bisa menyesali diri. Aku seharusnya di sana. Ikut mengantarkan akhir hidup seorang kawan itu, Wahyunda. Dia kembali menghadap Sang Hyang Widhi untuk entah kapan akan kembali bereinkarnasi.

Jumat malam sekitar pukul 8, aku mendapat SMS dari Gendo. Dia mengabarkan kondisi Wahyu yang kritis di Rumah Sakit Sanglah. Wahyu sudah dirawat di Sanglah sejak tiga minggu sebelumnya karena diare dan komplikasi lain-lain. Aku ingin ke Sanglah malam itu. Tapi niat ini aku batalkan karena kepalaku pusing bukan kepalang.

Continue reading “Berbaringlah, Kawan. Berbaringlah dengan Tenang..”

Sudah Dicuri, Dipermalukan Lagi

Ketika pertama kali dikasih tahu Lode, istriku, aku tak terlalu peduli. “Kok bisa sih kamu pakai RBT BCL,” katanya. RBT singkatan dari ring back tone, nada tunggu yang terdengar si penelpon jika dia menelpon kita. Kalau RBT normal yang terdengar adalah suara panjang, tuuut, maka dengan adanya RBT tersebut suaranya akan berganti.

Adapun BCL singkatan dari Bunga Citra Lestari, model yang juga penyanyi dan artis sinetron. Sukses jadi bintang shitnetron, eh, sinetron, BCL kemudian ikut menyanyi dengan lagu yang bertema sendu. Kecantikan BCL sih memang jelas masuk selera semua orang. Tapi lagunya, aduh, nanti dulu. Aku jelas tidak suka dengan lagu-lagunya.

Continue reading “Sudah Dicuri, Dipermalukan Lagi”

Besok Itu Apa, Yah?

Pagi ini kami sudah siap berangkat ke Bedugul. Sloka Institute mengadakan pelatihan tentang parlemen untuk kader muda partai politik di Bali mulai hari ini sampai Rabu depan. Aku tidak masuk panitia, hanya pembantu umum untuk program pendidikan parlemen bekerja sama dengan Indonesian Parlemantary Centre (IPC) dan Uni Eropa tersebut. Aku dan Bani kebagian ke sana belakangan karena harus menunggu fasilitator yang baru datang dari Jakarta.

Sejak dari rumah aku sudah tidak tega mengajak Bani. Dari dua hari lalu dia agak batuk dan demam. Maunya biar dia istirahat saja. Tapi kemarin dia malah hampir seharian ikut pelatihan internet di Yakkum dengan teman-teman Bali Blogger Community (BBC) karena tidak mau ditinggal di rumah.

Continue reading “Besok Itu Apa, Yah?”

Kami yang Terus Bercerita dan Berbagi

Ini tentang orang-orang yang, setidaknya menurutku, punya dedikasi. Mmm, tentang mereka yang bersedia melintas batas-batas formalitas. Tak usah terlalu formal dengan sebuah ikatan. Semata kemauan bersama untuk berbagi dan bercerita.

Ini tentang teman-teman di Bali Blogger Community (BBC). Tentang teman-teman yang tak selalu menyenangkan, sebenarnya. Sebab kadang-kadang ada pula teman yang seperti hanya menunggu untuk bertepuk tangan ketika kami bisa menjebol gawang lawan. Tapi toh tepuk tangan pun tetap diperlukan dalam sebuah pertandingan.

Continue reading “Kami yang Terus Bercerita dan Berbagi”