AJI Denpasar, Nasibmu Kini..

SMS dari Ervi pagi ini mengusikku. Ervi, teman di Aliansi Jurnalis Independen (AJI) Denpasar itu mengabarkan tentang kegiatan Perhimpunan Jurnalis Indonesia (PJI) Bali di Hotel Niki Denpasar hari ini. “Acr PJI hr ini dihadiri bnyk sekali wartawan Bali. Nada2nya, AJI Dps bakal kehilangan anggota ni. Ketua PJI Bali, Justin. Panitinya jug org2 AJI. Weleh2.”

Hari ini pengurus PJI Bali dilantik di hotel Niki Denpasar. Sebagai sesama jurnalis, ini menyenangkan bagiku. Makin banyak organisasi wartawan semoga akan membuat wartawan makin sadar bahwa berorganisasi itu penting. Nantinya juga semoga makin meningkatkan kualitas jurnalis ataupun media itu sendiri.

Continue reading “AJI Denpasar, Nasibmu Kini..”

Blep. Pergilah Kesaktianku..

Jumat ini adalah hari kerja terakhir bulan ini. Waktunya gaji tiba. Aah, senangnya. Tabunganku mungkin bertambah. Maka, dalam perjalanan ke rumah, aku mampir ke ATM BNI di Jalan Veteran Denpasar. Aku hendak ngecek saldo tabungan. Apalagi duit di dompet juga tinggal di bawah Rp 50 ribu.

Pas aku masuk ruang ATM, eh, ternyata mesin ATM mati. Aku tidak peduli. Aku pencet tombolnya masih berbunyi, “Tut.”

“Sepertinya masih bisa dipakai,” pikirku. Aku pun cuek gen masukin kartu ATM ke lubang mesin yang layarnya gelap karena mati itu. Layar tetap gelap. Malah kartuku masuk tertelan. Aku pencet-pencet tombol ATM, tetep saja tidak mau hidup.

ATM-ku tertelan. Bukannya bisa ngecek saldo, apalagi ambil duit, kartuku malah hilang. Seketika itu pula aku seperti kehilangan separuh nyawa (halah!). Tanpa kartu itu, aku benar-benar merasa kehilangan kesaktian. Aku memang goblok!

Mood Itu Menurun Tajam

Kok aku ngrasa minggu-minggu ini aku makin males blogging ya. Padahal baru saja punya rumah baru. Dulu aku rajin ngeblog sampe malem-malem, jalan-jalan ke blog orang, kasih komentar, lalu nulis lagi. Kadang bisa sampe pukul 2an pagi.

Tapi rasanya sudah lama aku tidak melakukan itu. Aku makin jarang blogging malem-malem. Banyak ide yang mau aku tulis tapi gak juga aku tuliskan.

Sepertinya mood untuk ngeblog lagi turun drastis nih. Heran..

Kematian Kelahiran Datang Bergantian

Minggu ini tiba-tiba kematian dan kelahiran datang silih berganti.

Sabtu (15/3) lalu, ayahnya Geg Ary, teman sejak di Pers Mahasiswa Akademik, meninggal karena bronchitis dan stroke. “Kombinasi yang tepat untuk segera mengakhiri hidup,” kata Geg ketika aku telepon Minggu malam setelah aku dapat kabar dari Happy, teman kami, dan aku ricek ke Toni, pacar Geg yang juga temanku.

Kematian itu bener-bener mengagetkanku. Sebab setahuku bapaknya Geg sehat-sehat saja. Ternyata dia sudah dirawat di RS Sanglah hampir sebulan. “Aku memang sengaja merahasiakannya pada kalian,” kata Dung Dung, panggilanku pada teman yang juga karibnya Bunda ini. Geg tinggal di Mengwi, jadi kami tidak bisa langsung main ke rumahnya setelah dapat kabar itu.

Continue reading “Kematian Kelahiran Datang Bergantian”

Ya, Mari Menikmati Hidup. Itu saja Cukup..

– kado ulang taun bagi diri sendiri-

Taun ini sepertinya memang waktunya menikmati hidup.

Tidak usahlah berpikir terlalu berat tentang masa depan. Cukup nikmati apa yang kau dapat. Dan rasakan betapa enaknya hidup ketika kita merasa cukup.. Ah, jadi kayak Gde Prama. He.he.

Continue reading “Ya, Mari Menikmati Hidup. Itu saja Cukup..”

Satu Pintu Lagi Telah Terbuka

Pas lagi buka puasa ma sodara di Bali dua hari lalu, masuk SMS dari sepupu yg lagi ngambil master di Australian National University (ANU) Australia. “Udah baca pengumuman IFP. Congrat! Namamu masuk yang lolos tahap berikut.” Gitu SMS-nya.

Tentu saja senang bukan kepalang. Malam itu juga, setelah buka dan maghriban tentu saja, dengan senang hati aku ke warnet. Cek www.iief.or.id. Liat news, dan waaah, ternyata bener. Namaku dengan manisnya ada di urutan 79. Lalu, besoknya surat+formulir lengkap dalam basa Indon dan English itupun tiba.

Setelah nunggu sejak Juli lalu, akhirnya ada juga pengumuman pra-pendaftaran calon penerima beasiswa IFP. Dan, Thanx God, aku lolos juga meski masih tahap yang sangat awal. Paling tidak, satu pintu udah kebuka meski masih ada tiga atau empat pintu lain yang belum tentu bisa kulewati. Gak ada salahnya dicoba. Kalau toh nanti gak lulus, paling gak aku udah pernah mencobanya.

Ceritanya, begitu lulus S1 Mei lalu -(akhirnya, setelah 8 tahun kuliah!)-, aku kirim lamaran fellowship ke Ford Foundation. Nothing to loose. Toh cuma modal kirim email. Niatnya pengen belajar jurnalisme kalo lolos nanti. Dan, ternyata lolos juga.

Tinggal sekarang ngurus semua syarat pendaftaran itu. Selain itu juga mikir jadinya kira2 belajar dimana ya soal jurnalisme? Hal yang paling penting sih di negara yang pake English untuk percakapan sehari-hari. Soale niat belajar tuh cuma biar Englishku lancar aja. Bukan cari titel. 🙂