Silakan Iri pada AngingMammiri

Feeling saja, sih. Ketika aku lihat dua cewek datang, lewat di depanku sambil pegang HP lalu HPku bergetar, aku menyapanya dengan tangan. Dan, ah, ternyata benar. Inilah dua perempuan dari AngingMammiri (AM), komunitas blogger Makassar. Salah satunya, Ina si Pecandu (warna) Ungu alias Purpleholic, satu-satunya blogger yang aku kenal lewat dunia maya ini sebelumnya.

Maka, kopdar sama teman-teman AM pun berlangsung di anjungan pantai Losari, Makassar petang tadi. Ada sekitar 10 teman dari AM yang ikut. Ina, Unga, Iqko, Mus, Ntan, Anhie, Made, Syahril, dan Ary.

Continue reading “Silakan Iri pada AngingMammiri”

Kok Pada Sepi ya?

Minggu tengah malam. Aku buka blogku. Ah, ternyata sudah empat hari aku tidak nulis. Hari-hari ini aku lagi keranjingan penyakit lama: main game War Craft III: Frozen Thorne. Main game ini membuatku melek sampai pagi, seperti kebiasaan sekitar empat tahun lalu, sama Toni dan Nusa.

Kebiasaan ngenet, ngeblog juga jadi berkurang.

Lalu, malam ini aku jalan juga ke beberapa blog teman. Ah, ternyata mereka juga lama tidak posting. Hmm, ada apa ya? Kok sepertinya banyak teman yang dulu suka nulis, sekarang jadi agak males. Seperti aku juga..

How Long Can U Fight?

“Begitu aku masuk dunia ini, aku tau semua orang memang anjing. Dan aku sadar, aku harus menjadi anjing juga,” kata seorang teman lewat telepon kemarin malam. Seperti biasa, teman itu berkata tegas. Teman itu pernah jadi salah satu tokoh penting gerakan jalanan pada 1998. Dia tinggal di Jakarta, di pusat kekuasaan, mungkin juga lambang kemapanan.

Aku tertawa. Antara geli dan miris. Geli dengan perumpamaan teman yang memang suka bercanda itu. Miris karena mikir, kok bisa ya seseorang berubah begitu terbalik? Tapi, mungkin, pada satu waktu, aku juga akan berada pada posisi itu. Mungkin itu hanya soal waktu: berubah pada posisi yang sebelumnya selalu kita anggap sebagai musuh, tidak hanya sebagai lawan.

Continue reading “How Long Can U Fight?”

What If

by Coldplay

What if there was no lie
Nothing wrong, nothing right
What if there was no time
And no reason, or rhyme

What if you should decide
That you don’t want me there by your side
That you don’t want me there in your life

What if I got it wrong
And no poem or song
Could put right what I got wrong
Or make you feel I belong

What if you should decide
That you don’t want me there by your side
That you don’t want me there in your life

Ooh ooh-ooh, that’s right
Let’s take a breath, jump over the side
Ooh ooh-ooh, that’s right
How can you know it, if you don’t even try
Ooh ooh-ooh, that’s right

Every step that you take
Could be your biggest mistake
It could bend or it could break
That’s the risk that you take

What if you should decide
That you don’t want me there by your side
That you don’t want me there in your life

Ooh ooh-ooh, that’s right
Let’s take a breath, jump over the side
Ooh ooh-ooh, that’s right
How can you know when you don’t even try
Ooh ooh-ooh, that’s right

Ohhh – Ooh ooh-ooh, that’s right,
Let’s take a breath, jump over the side.
Ooh ooh-ooh, that’s right,
You know that darkness
always turns into light.
Ooh-ooh, that’s right

*song of this week*

Just Take The Risk

Aku menulis ini agak emosional. Itu sah saja. Aku toh bukan malaikat yang harus sok suci dan merasa baik-baik saja ketika banyak orang seperti menuding padaku, “KAMU SALAH!” atas sesuatu yang aku lakukan dengan maksud berbuat baik. But, well, tudingan itu anggap saja seperti lagu Coldplay, “That the risk you have to take..”

Sekadar curhat saja. Aku mencoba mengambil inisiatif untuk memfasilitasi kopdar BBC, dan kemudian ada juga pernyataan sikap setelah itu. Di antara tumpukan pekerjaan minggu2 ini yang bikin aku tertekan, aku masih coba sempatkan utk ngurusi kopdar.

Continue reading “Just Take The Risk”

Pekerjaan-pekerjaan yang Menumpuk Itu

Ini memang benar-benar tumben. Biasanya, sebanyak apa pun pekerjaan, aku masih sempat untuk ngeblog. Tapi sekitar tiga minggu ini aku merasa banyak sekali hal yang menarik dan harus aku catat, namun aku tidak sempat melakukannya.

Maka, aku hanya bisa mengeluh.

Inilah pekerjaan-pekerjaan yang menumpuk itu sekitar tiga minggu terakhir.

– Persiapan international editor meeting (dua pekan lalu)
– International editor meeting (pekan lalu)
– Diskusi tematis majalah dan evaluasi semesteran tempat kerja part time (pekan ini)

Akibatnya, beberapa pekerjaan lain pun belum selesai juga:

– Tulisan untuk Jurnal WACANA (sudah lewat deadline)
– Tulisan Bali Journey dan Travel Lokal untuk Appetite Journey (hampir deadline)

Factory workers, journalists unite for May Day rally

Jakarta Post – May 2, 2008

Dicky Christanto, Denpasar – Protesters at a May Day rally held in Denpasar on Thursday accused the government of failing to protect Indonesians working longer hours for no extra pay.

The alliance of organizations commemorating the May 1 International Workers’ Day displayed dozens of banners while activists gave speeches about how “unfriendly” government policies had jeopardized workers’ lives.

Continue reading “Factory workers, journalists unite for May Day rally”

Butuh Ojek, Panggil Saja Motor Taxi

Biasanya ada dua pilihan saya untuk ke bandara Ngurah Rai Bali. Kalau tidak diantar teman atau istri, saya pilih naik taksi. Ini tergantung pihak yang mengundang acara. Kalau pengundang akan mengganti biaya taksi berapa pun besaranya, maka saya akan naik taksi. Tapi kalau pengundang hanya mengganti uang transport, maka saya akan pilih diantar teman atau istri.

Oya, mohon maklum. Sebagian besar perjalanan saya yang menggunakan pesawat adalah karena pekerjaan atau kegiatan yang dibayar orang lain. Jadi, faktor biaya ke bandara itu jadi penting. Kalau biaya naik taksi diganti, berapa pun besarnya, tentu tidak masalah. Tapi kalau hanya diganti sebagai uang transport lokal yang sudah pasti besarnya, maka biaya ini harus dihitung dengan hati-hati. Saya kan tidak mau tekor.

Continue reading “Butuh Ojek, Panggil Saja Motor Taxi”

Aku Makin Terasing dari Tulisanku

Bunda benar. Makin hari, aku makin merasa tulisan-tulisanku di blog memang makin tidak asik. Aku sendiri menyadari itu. Tiga atau empat tulisanku terakhir di blog memang seperti sesuatu yang lahir tidak dari hati. Aku menulisnya sekadar biar ada tulisan di blog. Tulisanku hanya karena biar ada, bukan karena aku benar-benar ingin menulisnya.

Aku lalu ingat kutipan Thomas Carlyle di buku kado pernikahan temanku, I Ngurah Suryawan. “Jika sebuah buku lahir dari hati, ia akan berusaha menjangkau banyak hati yang lain.” Buku hanya sebuah idiom. Dia bisa juga berupa tulisan, masakan, ucapan, dan apa saja. Jika sesuatu itu memang sesuatu yang tulus, muncul dari hati, maka akan terasa bagaimana sesuatu itu mengalir. Lalu meraih hati yang lain untuk larut di dalamnya.

Continue reading “Aku Makin Terasing dari Tulisanku”

Ketidakramahan yang Selalu Terulang

Seperti sudah kuduga, sambutan tidak ramah menyambut kami ketika masuk Hard Rock Cafe Minggu sore kemarin. Dengan muka galak dan tanpa senyum sama sekali, pelayan berseragam hitam-hitam itu bertanya pada kami. “Mau ngapain?” tanyanya dengan muka menyelidik seperti kami ini tiga orang yang harus dicurigai karena membawa penyakit sampar atau bom di balik baju kami.

Aku sedang nganterin dua anak tetangga, Gede dan Ayu, untuk menukarkan vocuher mereka di cafe tersebut. Mereka dapat hadiah voucher setelah menang lomba menghias bunga Nak Nik Community dua pekan lalu.

“Mau pinjem toliet,” kataku dalam hati. Ya, makan atau minumlah. Masak masuk cafe mau ngapain. Atau kalau memang mau nanya baik-baik, kan bisa saja sambutannya adalah, “Selamat sore. Ada yang bisa kami bantu?”. Hi, Guys. Pariwisata adalah tentang keramahan pada orang lain, tidak hanya pada orang-orang berkulit putih, jangkung, yang kalian sebuat sebagai turis itu.

Continue reading “Ketidakramahan yang Selalu Terulang”