Perjalanan Panjang ke Kampung Halaman

Baiklah. Mari kita mulai lagi menulis semua cerita. Meski bawaan liburan masih saja terasa, jadi ada alasan untuk males nulis, menulis toh tetep harus dilakukan. Kalau tidak, semuanya akan menguap begitu saja.

Sebagai awalan, aku nulis soal mudik pas Lebaran kemarin saja. Pertama soal perjalanan saja dulu. Besok-besok lanjut soal kampung halaman, potensi ekonomi, petani garam, dan tradisi Kupatan.

Continue reading “Perjalanan Panjang ke Kampung Halaman”

Blog Sweet Blog

Setelah seminggu menikmati candu bernama keluarga besar di Lamongan, Kamis kemarin kami tiba kembali di rumah kecil kami di Subak Dalem, Denpasar. Bukannya istirahat, pas nyampe rumah kami langsung ngebut bersih-bersih rumah. Nyapu, nyuci baju, dan seterusnya.

Lalu seharian tadi kami ke Pekarangan, Karangasem. Ada ngaben dadong di kampung. Karena besok pagi Bunda ada kerjaan di Denpasar, maka sorenya kami langsung balik ke Denpasar.

Continue reading “Blog Sweet Blog”

Happy Birthday, Our Beloved Bani

Tak ada kue ulang tahun yang mewah malam ini. Karena krisis keuangan internasional yang sedang terjadi di negara adi daya Amrik sana juga ternyata berimbas ke ekonomi mikro keluarga kami. Hehehe..

Kami membatalkan beberapa rencana. Pertama, niat untuk beli hutan hitam alias black forest di Tante Ninok tidak jadi. Maaf, ya, Tante. Kapan-kapan deh Bani beli kue ultah di Tante sekalian kapling hutan hitam di sana. Lumayan kan untuk mencegah dampak climate change pada keluarga. Hwahahaha..

Continue reading “Happy Birthday, Our Beloved Bani”

Demonstran Sejati Sejak Bayi

Ribuan orang di Bali ikut aksi menolak Rancangan Undang-undang Pornografi Rabu lalu. Bunda ikut di dalamnya. Sayang, Bani tak diajak serta. Padahal Bani juga punya beberapa alasan untuk menolak RUU ini.

Alasan itu, misalnya, buat apa punya tubuh bagus kalau bukan untuk diperlihatkan pada orang. Itu kan bagian dari cara mensyukuri nikmat Tuhan. Masak malah dilarang? Kalau orang lain terangsang, ya itu urusan dia. Jaga pikiran dong biar kalian tidak melihatnya dengan ngeres.

Continue reading “Demonstran Sejati Sejak Bayi”

Lalu, Dia Terlelap Bersamaku

Hampir pukul 1 pagi. Aku sedang nglembur untuk beberapa kerjaan yang lewat deadline. Asik di depan komputer.

Bani nangis, bangun di sela tidurnya. Jam biologisnya bekerja seperti biasa, minta susu. Kalau tengah malam begini, apalagi Bunda sudah terlelap, giliranku bikin susu.

Continue reading “Lalu, Dia Terlelap Bersamaku”

Dua Puluh Bulan Setelah Kelahiran

Setelah sempat panas, hari ini suhu badan Bani kembali turun. Meski batuknya masih saja mengganggu, Bani terlihat lebih sehat. Dan, seperti ditulis Bunda, Bani memang lagi seneng-senengnya jadi pengikut setia ayahnya. Hehe..

Mumpung ngomongin Bani, aku jadi pengen nulis soal anakku ini. Lama juga tidak nulis soal Bani. Apalagi kemarin (23/5) adalah persis 20 bulannya Bani.

Memang tidak terasa. Bani Nawalapatra, anak kami sudah berumur 20 tahun bulan. Rasanya baru kemarin dia dibawa keluar dari ruang operasi. Seperti baru kemarin aku menanam ari-arinya yang kubungkus dengan kertas koran berisi bola dunia dan pulpen. Tapi ya begitulah. Anakku pelan-pelan tumbuh sebagaimana dia seharusnya tumbuh.

Continue reading “Dua Puluh Bulan Setelah Kelahiran”

Seperti Biasa, Biarkan Mengalir Saja

Tulisan “Happy Birthday” dari kertas yang menggantung di bawah lukisan menyambutku ketika baru membuka pintu. Hari sudah larut, hampir pukul 11 malam Wita. Rasa capek setelah perjalanan hampir sepuluh jam dari Bandung – Jakarta – Bali langsung hilang. Aku memeluk Bunda. Bani sudah terlelap.

Kami menyanyi lagu ulang tahun dengan agak lirih. Lalu kutiup lilin kecil di atas kue itu. Kuambil kertas kecil di atas kue dan kubaca.

Ayahku 29 tahun.
Lotta Love

19 April 08

Bunda + Bani

Hmm, aku makin tua. Inilah ulang tahun yang ke-29. Tidak banyak yang berubah satu tahun ini. Aku merasa tidak banyak lagi yang perlu aku cari selain hidup bersama Bunda dan Bani. Keluarga kecil ini, di rumah kecil kami, dengan semua yang kami miliki adalah segalanya bagiku untuk saat ini.

Maka, seperti biasa. Biarkan semua mengalir saja.