Konsumen adalah Raja? Lupakan Saja!

Sehari sebelum berangkat, penerbangan dari Ende ke Denpasar dibatalkan. Mati cang!

Maka, paniklah aku. Sambil jalan-jalan di Desa Bena, Kecamatan Jerebu’u, Kabupaten Ngada, Nusa Tenggara Timur (NTT), aku pun meminta sopir kami mencarikan tiket balik ke Bali dengan maskapai lain. Kami menelpon petugas di Ende, berjarak sekitar 4 jam perjalanan dari Ngada, agar dapat tiket tersebut.

Continue reading “Konsumen adalah Raja? Lupakan Saja!”

Harmoni Tradisi di Ketinggian Kelimutu

Tak hanya danau berwarnanya, budaya masyarakat di Kelimutu juga unik dan menarik.

Masyarakat setempat punya tradisi menghormati Gunung Kelimutu dengan tiga danau warna di atasnya. Tradisi ini dilakukan masyarakat yang juga beragam etnis dan agamanya.

Continue reading “Harmoni Tradisi di Ketinggian Kelimutu”

Menikmati Pesona Danau Tiga Warna


Setelah ketiga kalinya ke Ende, aku baru bisa mampir ke Kelimutu, danau tiga warna di sini.

Danau Kelimutu berjarak sekitar 60 km dari Ende, kota di pesisir selatan Pulau Flores bagian tengah pulau di Nusa Tenggara Timur ini. Lama perjalanan sekitar 2 jam dengan kendaraan pribadi, seperti motor atau mobil.

Continue reading “Menikmati Pesona Danau Tiga Warna”

Agar Petani Berdaya Mengakses Informasi

Meski baru kenal komputer, para peserta sudah bisa menggunakan email dan blog.

Kami “menguji” beberapa peserta setelah pelatihan di Ende, Nusa Tenggara Timur (NTT) pada 15-17 Maret ini. Kamis petang ini, setelah selesai seluruh materi tentang menulis di internet, membuat email, serta tata cara mengelola blog selesai, kami minta beberapa peserta mempraktikkannya di depan kami.

Continue reading “Agar Petani Berdaya Mengakses Informasi”

Satu Pulau Ratusan Bahasa

Di Flores, bahkan, satu desa bisa punya tiga bahasa. Mereka berbicara satu sama lain dengan bahasa berbeda.

Mungkin ini kesimpulan terlalu dini. Tapi, itu yang dikatakan para petani ketika kami ngobrol di sela-sela pelatihan publikasi dan internet di Ende, Flores pada 15-17 Maret ini.

Continue reading “Satu Pulau Ratusan Bahasa”

Pemandangan Langka Ujung Timur Pulau Bunga

Di sisi kanan kami ada kebun kering dengan model terasering, di sisi kiri ada pantai, di depan sana ada gunung berapi. Keren sekali….

Kami baru balik dari Dusun Hokobopo, Desa Bokang Wolomatang, Kecamatan Titehena, Kabupaten Flores Timur. Aku dan Ibrahim, teman dari Yayasan Ayu Tani, selesai liputan tentang petani kacang mete di ujung timur pulau Flores, Nusa Tenggara Timur (NTT) ini.

Continue reading “Pemandangan Langka Ujung Timur Pulau Bunga”

Farmers and consumers benefit from sustainable agriculture

by Anton Muhajir
Published at Third World Resurgence

While figures and statistics are increasingly showing that sustainable agriculture is viable in ensuring food security and rural livelihoods, it is important to note that agriculture is also about human experiences.  Sustainable agriculture is a story about lives, about how farmers struggle to make changes for a better future.  Drawing on the Indonesian experience, this article presents a set of such stories about farmers in Indonesia who have proven that sustainable agriculture works.

Organic rice farming helps children’s education
JENIA, a woman farmer from Munting village on Flores island, Indonesia, can now plan her children’s education better as she does not have to worry about food for her family. She and other farmers from the village have benefited from sustainable agriculture on an island which is known to suffer from annual food shortages.

Continue reading “Farmers and consumers benefit from sustainable agriculture”

Wajah Bali di Rumah Pengasingan Soekarno

Rumah Pengasingan Soekarno Ende

Menjelang balik ke Bali setelah selesai jadi fasilitator di Bajawa, Ngada (23/4) lalu, aku harus mampir ke Ende, kabupaten lain di Flores, Nusa Tenggara Timur. Jarak antara Ende dan Bajawa sekitar empat jam perjalanan lewat darat naik mobil. Aku harus ke Ende dulu karena dari kota di tepi pantai selatan Flores ini ada penerbangan ke Denpasar. Kalau di Bajawa tidak ada.

Aku dan Ana, teman seperjalanan, sampai di Ende lebih awal sekitar dua jam sebelum check in untuk penerbangan. Pesawat Merpati dari Ende ke Kupang akan berangkat pukul 11.55 Wita, berarti kami harus check in 10.55 Wita. Kami sampai di Ende sekitar pukul 9 pagi. Karena itu setelah mengambil tiket pesanan di kantor Yayasan Tananua, LSM lokal di Ende, kami memilih jalan-jalan dulu.

Continue reading “Wajah Bali di Rumah Pengasingan Soekarno”

Mengagumi Batu Megalit Desa Bena

Batu Megalit Bena

Upacara dan pesta adalah hal tak terpisahkan dari ritual leluhur kita, Indonesia. Misalnya di Bali. Galungan, yang adalah ritual upacara agama Hindu Bali, bagiku adalah juga pesta. Selain makanan berlimpah di rumah masing-masing, upakara yang diberikan adalah juga simbol dari pesta. Penjor, semacam umbul-umbul, dipenuhi dengan aneka hasil bumi: buah, bunga, dan umbi-umbian.

Begitu pula di Desa Bena, Kecamatan Jerubu’u, Kabupaten Ngada, Flores yang aku kunjungi pekan lalu. Tata desa tua yang berumur sekitar 300 tahun ini pun sepertinya memang dibuat untuk memenuhi kebutuhan pesta dan upacara tersebut.

Continue reading “Mengagumi Batu Megalit Desa Bena”

Berkunjung ke Desa Tua Bena

Desa Bena

Awalnya sih aku tidak berniat berkunjung ke Desa Bena. Apalagi aku tidak terlalu tahu tentang desa ini. Aku hanya samar-samar pernah mendengar namanya. Nah, ketika Raras, teman di kantor, bilang bahwa desa itu cantik, aku terpengaruh juga. Begitu sampai di Bajawa pekan lalu, Desa Bena jadi salah satu target yang akan aku kunjungi.

Hari ketiga di Bajawa, usai workshop pembuatan buku advokasi petani kopi Watuata, aku langsung bilang ke teman-teman Lembaga Advokasi dan Penyadaran Masyarakat (Lapmas) kalau aku ingin ke tempat ini. Ketika itu sudah pukul 2 sore. Waktunya agak mepet. Dengan senang hati teman-teman aktivis LSM setempat itu menjadi guide kami sekaligus memberi transportasi. Gratis lagi. Hehe..

Continue reading “Berkunjung ke Desa Tua Bena”