Berbagi Jotan Saat Galungan

Met Galungan

Sekitar pukul 7 pagi ini. Saya beserta anak dan istri masih lagi asik main di dapur untuk bikin sarapan. Gede Santika, tetangga kami, sudah mengetuk pintu gerbang rumah. Saya beranjak keluar membuka pintu. Menemuinya.

Gede, murid kelas II SMP yang hampir tiap hari main di ruangan depan rumah kami seperti sebagian besar anak di gang kami, sudah berpakaian adat madya. Berbaju safari dengan bawahan kamen (sarung) dan udeng di kepala. Dia membawa jotan untuk kami.

Continue reading “Berbagi Jotan Saat Galungan”

Perkembangan yang Ada. So Far..

Tumpukan sumbangan di rumahku terus bertambah. Barusan Novan datang bawa satu tas plastik pakaian. Tadi sore, pas pulang kerja aku juga bawa dua plastik besar sumbangan dari Raras dan Budi, dua teman di tempat kerja paruh waktu. Pakaian bekas itu akan kami sumbangkan ke Rumah Sakit Jiwa (RSJ) Bangli pas Pitulasan nanti.

Yap, persiapan BBC Goes to RSJ sepertinya makin lancar.

Tiga sumbangan itu menambah daftar panjang sumbangan yang sudah terkumpul. Di rumahku sudah ada sumbangan dari Fenny, Bli Pande, Wasti, dan Bani. Semuanya pakaian bekas. So far sih masih berupa pakaian bekas, belum ada yang nyumbang duit, alat kebersihan, sabun, odol, dan lain-lain. But, setidaknya ini kabar menggembirakan, Sodara-sodara..

Continue reading “Perkembangan yang Ada. So Far..”

Ketika Pura Berganti Vila

Wadepak! Ternyata sudah lima hari tidak ngeblog. Padahal kemarin ada beberapa ide yang masuk. Cuma karena lima hari ini ngurus adik yang lagi liburan di Bali, liputan kuliner di akhir deadline, dan ngurus rumah di akhir pekan, jadinya lupa nulis.

Yowis. Nulis saja yang ada di kepala. Maunya tadi nulis soal Pantai Bias Putih di Desa Bugbug Karangasem, eh, aku lupa bawa fotonya. Padahal seperti kata beberapa teman, nulis jalan-jalan tanpa skrinsut itu sama dengan bull shit. ๐Ÿ˜€ Jadinya nulis soal pantai keren ini ditunda saja dulu.

Continue reading “Ketika Pura Berganti Vila”

Menang Kalah Tidak Masalah

Yap, akhirnya aku pun milih hari ini. Pilihanku pasangan Gede Winasa โ€“ Alit Putra. Ini sebagai bagian dari keterbukaan. Kenapa juga harus malu-malu dengan pilihan kita. Toh, tiap pilihan selalu ada risikonya. Begitu juga dengan Pilgub Bali kali ini.

Pilihanku sebenarnya antara Winasa dan Pastika. Sebab kalau CBS sudah jelas tidak jelas programnya. Dalam beberapa kali debat, aku tidak pernah nemu hal menarik dari apa yang disampaikan CBS โ€“ Suweta.

Continue reading “Menang Kalah Tidak Masalah”

Tegang dan Lucu Kecak di Uluwatu

Hampir sebelas tahun hidup di Bali dan belum pernah sekali pun menonton tari kecak di Uluwatu, ah, betapa menyedihkan hidup saya. Padahal tarian di sana saat sunset sungguh mengesankan..

Tidak hanya tariannya yang spektakuler, tapi lokasinya juga demikian. Rabu dua pekan lalu, saya akhirnya bisa melihat sendiri bagaimana tarian Bali itu disajikan dengan latar belakang matahari tenggelam. Kami dan para penari itu di atas tebing Uluwatu, setinggi sekitar 20 meter dari permukaan air laut.

Continue reading “Tegang dan Lucu Kecak di Uluwatu”

Kenyataan itu di Lapangan, Bukan di Belakang Meja

Perjalananku ke Bedugul hari ini membuatku makin yakin: belajarlah dari lapangan, bukan dari balik meja. Sebab ketika kita hanya membacanya dari balik meja, kita hanya menemukan teori. Tapi di lapangan, kita akan menemukan kenyataan bukan hanya cerita.

Hampir setahun bekerja part time di majalah advokasi pertanian berkelanjutan, aku merasa jarang sekali bergaul dengan petani, yang selalu jadi objek tulisan kami tiap edisi. Majalah ini sih memang lebih mirip jurnal daripada karya jurnalistik. Tugasku di sana pun lebih banyak di belakang meja seperti mencari naskah tiap edisi, mengedit tulisan orang, dan mengupload tulisan ke website.

Continue reading “Kenyataan itu di Lapangan, Bukan di Belakang Meja”

Perusakan atas Nama Pembangunan

Minggu-minggu ini berita tentang perusakan lingkungan di Bali terus menggangguku. Di danau Buyan, Bedugul banyak villa sedang di bangun. Padahal Buyan adalah salah satu dari empat danau terbesar di Bali yang tidak hanya mengaliri sawah-sawah di sekitarnya. Buyan juga tempat di mana petani Bali Hindu menghaturkan sembah pada penguasa air.

Lalu di Wongaya Betan, Tabanan juga baru saja diletakkan batu pertama pembangunan villa atas nama pariwisata. Villa yang katanya untuk terapi spiritual itu dibangun di kawasan hijau. Tidak hanya tempat petani bercocok tanam, tapi juga tempat masyarakat Bali menggantungkan sumber pangan selain Jatiluwih.

Continue reading “Perusakan atas Nama Pembangunan”

Butuh Ojek, Panggil Saja Motor Taxi

Biasanya ada dua pilihan saya untuk ke bandara Ngurah Rai Bali. Kalau tidak diantar teman atau istri, saya pilih naik taksi. Ini tergantung pihak yang mengundang acara. Kalau pengundang akan mengganti biaya taksi berapa pun besaranya, maka saya akan naik taksi. Tapi kalau pengundang hanya mengganti uang transport, maka saya akan pilih diantar teman atau istri.

Oya, mohon maklum. Sebagian besar perjalanan saya yang menggunakan pesawat adalah karena pekerjaan atau kegiatan yang dibayar orang lain. Jadi, faktor biaya ke bandara itu jadi penting. Kalau biaya naik taksi diganti, berapa pun besarnya, tentu tidak masalah. Tapi kalau hanya diganti sebagai uang transport lokal yang sudah pasti besarnya, maka biaya ini harus dihitung dengan hati-hati. Saya kan tidak mau tekor.

Continue reading “Butuh Ojek, Panggil Saja Motor Taxi”

Menatap Puing, Mengingat Rusuh

Sore tadi aku jalan-jalan sama Bani ke Taman Kota Denpasar dekat Lapangan Lumintang Denpasar utara. Meski namanya keren, โ€œTaman Kotaโ€, tempat ini tak lebih dari lapangan kosong dengan pohon-pohon yang baru ditanam. Ada beberapa petak tanah luas dengan semak-semak tidak terurus di pinggir lapangan.

Meski tidak seramai di Lapangan Puputan Renon atau Puputan Badung, namun sore itu puluhan orang lain juga sedang berjalan-jalan di sana. Ada yang sekadar lari, jalan-jalan, sepak bola, main skate board, atau malah jalan-jalan sama anjing. Aku dan Bani sih jalan sambil cuci mata. Mumpung tidak ada Bunda, jadi kami bebas jadi laki-laki. Hehehe..

Jalan-jalan di tempat itu, aku masih bisa melihat puing-puing sisa kerusuhan di Denpasar pada 1999 lalu. Maka, sambil jalan-jalan sore itu, aku jadi inget peristiwa tujuh sembilan tahun lalu itu.

Continue reading “Menatap Puing, Mengingat Rusuh”