Memang Kamu Mau Google Terus Memantaumu?

1 , Permalink 0

My Activity Google

Sesekali cobalah buka rekaman jejak di Google.

Terus, lihat apa saja aktivitas menggunakan Google yang terekam di sana. Kata kunci yang kita cari. Lokasi yang kita kunjungi. Video YouTube yang kita tonton.

Nah, sekarang bayangkan kalau itu semua diketahui orang lain sebagaimana Google melakukannya.

Peluangnya mungkin kecil, rekaman itu diketahui orang. Tapi, jika Google bisa merekamnya, dan tentu saja melihatnya, maka peluang untuk dilihat orang lain juga sangat terbuka.

Apalagi jika ada yang juga kurang kerjaan dengan mencoba masuk akun kita atau diam-diam membukanya saat kita bersama mereka.

Gung Kayon, seorang teman, menganalogikan pemantauan dan rekaman itu layaknya CCTV, kamera yang selalu mengintai terutama di ruang publik. Kita sebagai warga tak sepenuhnya sadar bahwa kamera pengintai, bahasa lebih lugas dan jelas dari CCTV, itu mengawsi kita.

Sebagian malah merasa bangga memasangnya. Padahal, kata si teman itu, di negara penjualnya sana, kamera pengintai justru banyak ditentang.

Kebanggaan diintai melalui Google ataupun media sosial itu kadang justru terjadi pada sebagian orang. Menurut Mas Yos, teman lain, mereka yang bangga saat pamer begitu biasanya social climber. Seolah-olah semua orang kepo pada apa yang dia lakukan, terutama kalau sudah ada di mall terkenal.

“Padahal ya di mall cuma ngadem karena di kosnya tidak ada penyejuk ruangan. Hehehe…,” begitu kurang lebih Mas Yos menulis.

Masuk atau Tidak?

Teman lain, memberikan komentar. Rekaman di Google itu hanya bisa dilihat oleh si pengguna. Kalau tidak login di Google, tidak akan terekam aktivitasnya atau jadi anonymous. Sama saja halnya dengan di Facebook ada activity log. Bedanya di Google merekam aktivitas di browser pengguna dan di smartphone Android.

Sebatas yang aku tahu, tidak sepenuhnya begitu. Seperti halnya Facebook, Google punya hak untuk memiliki dan mengizinkan data-data pengguna jika kita mengizinkannya atau jika kita tidak menyadari bahwa kita membiarkannya terekam.

Dalam kebijakaan penggunaan dan privasinya, Google sudah menyatakan soal apa saja informasi yang mereka kumpulkan itu. Berikut ringkasan untuk sekadar mengingatkan lagi.

Informasi yang kami kumpulkan.

Ada dua cara untuk mengumpulkan informasi: informasi yang kita serahkan kepada mereka dan informasi yang mereka dapatkan dari kita.

Informasi yang kita serahkan itu biasanya hal-hal personal. Misalnya, nama lengkap, alamat email, nomor telepon, atau bahkan nomor kartu kredit. Dan, kita terlalu jujur dengan menyerahkan itu semua begitu saja.

Adapun informasi yang mereka dapatkan setidaknya ada enam: perangkat yang kita gunakan, kegiatan yang kita lakukan (apa yang kita cari, siapa yang kita telepon, atau bahkan IP address), lokasi yang kita kunjungi, aplikasi yang kita pakai, penyimpanan lokal, dan kukis atau teknologi semacamnya.

Repotnya kan kita sebagai pengguna tak pernah baca detail petunjuk pemakaian begitu pas pertama kali menggunakan layanan Google. Antara tidak peduli atau tidak sadar atau tidak tahu.

Nah, balik soal apakah rekaman itu hanya terjadi saat masuk (login) atau tidak (log out), itu ada benarnya. Tetapi, cobalah refleksi. Apakah kita sebagai pengguna, terutama laptop, sudah serajin itu kalau buka perambah (browser), dengan login tiap masuk dan logout tiap suud?

Apalagi kalau di android. Setahuku hampir mustahil pakai Android tanpa login di Google. Lha wong Android, yang milik Google itu, sudah dibuat sedemikian rupa biar nempel 24 jam sama pengguna.

Damn! Ternyata setiap gerak-gerik diawasi.

Komentar Tamba Budiarsana, teman lain, ada benarnya. Tapi, Google masih memberikan pilihan kok.

Cara paling sederhana, matikan saja rekaman otomatis yang ada di MyActivity Google itu. Jadi, tidak semua hal yang kita cari, lakukan, tonton, ataupun kunjungi akan terekam di sana.

Ada cara mengendalikan apa yang bisa kita bagi. Di sana akan terlihat apakah kita membiarkan atau mematikan rekaman terhadap website dan aplikasi yang kita buka, lokasi yang kita kunjungi, video yang kita tonton di YouTube, dan seterusnya.

Matikan saja jika tak ingin terekam oleh Google. Geser ke kiri tombol di sebelah kanan agar padam dan tidak terus merekam. Biar kita tidak terus kelihatan seperti orang telanjang tanpa pakaian..

*Catatan: tulisan ini versi panjang dari status di Facebook yang dikembangkan dari komentar ataupun pertanyaan di sana.

1 Comment
  • IB Teguh
    August 6, 2017

    akhirnya menemukan juga orang berpikir sama tentang privacy. seberapa parah orang-orang yang belum mengerti privacy sekitar anda ?

    ReplyReply

    [Reply]

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *