Jurnalisme Warga Tak Hanya untuk Berbagi Cerita

0 , Permalink 0

we-are-citizen-journalism
Catatan berikut seharusnya dimasukkan akhir September lalu.

Poin-poin berikut merupakan bahan diskusi tentang jurnalisme warga dalam konferensi tentang media online dan media sosial di Jakarta 23-24 September lalu. Forum tersebut diadakan CFI, lembaga media dari Perancis.

Aku dapat kesempatan satu forum dengan teman-teman dari media Thailand dan Filipina. Kami berbagi pengalaman dan ide tentang jurnalisme warga.

Mungkin poin-poin ini agak basi sebenarnya. Tapi tetap perlu disampaikan lagi. Biar tidak lupa. Tentang bagaimana peran jurnalisme warga di antara media arus utama.

Pertama, memperpendek rantai informasi.

Dalam jurnalisme warga, tiap orang bisa menjadi penyampai pesan kepada publik itu sendiri. Dulu, peran penyampai pesan kepada publik ini dikuasai secara eksklusif oleh jurnalis. Kini, dalam jurnalisme warga, tiap orang bisa melakukan peran yang sama.

Warga tak perlu lagi media arus utama dan jurnalis untuk berbagi informasi kepada publik. Dari warga lewat media langsung ke warga. Kalau dulu kan dari warga lewat reporter, ditulis jurnalis, diedit editor, baru kemudian disebarluaskan.

Kedua, menyediakan ruang untuk warga berbagi informasi.

Melalui media jurnalisme warga, tiap warga bebas untuk berbagi dan bertukar informasi tentang apa saja. Enaknya lagi karena nyaris tidak ada batasan informasi dalam jurnalisme warga. Informasi tentang apa pun bisa dibagi selama berdasarkan fakta.

Di media online, semacam BaleBengong, format informasi tersebut juga bisa beragam. Bahasa kerennya konvergensi. Video. Teks. Foto. Audio. Segala format informasi bisa dimasukkan di sana meskipun pada umumnya lebih banyak teks.

Ketiga, tempat warga komplain tentang layanan publik.

Ini pengalaman menarik. Pengalaman BaleBengong selama ini, terutama di Twitter, banyak sekali warga yang komplain tentang layanan publik. Apa saja. Air yang tidak mengalir lancar. Jalan rusak. Pembuatan SIM. Pejabat yang pakai kendaraan dinas untuk kepentingan pribadi. Banyak lagi.

Peran ini bisa terjadi terutama karena lembaga-lembaga publik justru tidak aktif menyediakan tempat komplain bagi warga, termasuk di media sosial.

Keempat, media alternatif di antara media arus utama.

Ada kecenderungan media arus utama untuk menampilkan hal sama. Tak hanya dari tema berita tapi juga sudut pandang. Maklumi saja. Rata-rata jurnalis di Bali memang bekerja dalam gerombolan. Lewat media jurnalisme warga, warga bisa membaca informasi berbeda dari sesama warga.

Peran ini terjadi terutama ada topik hangat dan kontroversial. Menarik untuk melihat perspektif warga terhadap topik tersebut. Lebih beragam. Jadi bisa memperkaya sudut pandang.

Kelima membangun kepercayaan sesama warga.

Karena sesama warga terbiasa saling bercerita, maka muncullah rasa saling percaya di antara mereka. Kadang di antara mereka juga ada koreksi. Dengan begitu, informasi bisa cepat segera diperbarui jika tidak akurat.

Penyebab lainnya, mereka yang berbagi informasi dalam jurnalisme warga lebih banyak adalah pelaku langsung. Dalam ilmu jurnalisme, mereka disebut sebagai sumber primer (pelaku) atau skunder (saksi mata). Jadi makin dekat dengan informasi itu sendiri.

Keenam, mengubah budaya malas ngomong.

Peran ini sih khususnya dalam konteks Bali. Ada semacam anggapan di Bali bahwa lebih baik diam daripada meributkan sesuatu. Secara umum, orang Bali dianggap koh ngomong. Malas ngomong untuk hal-hal yang dianggap bukan urusannya.

Ternyata itu tak berlaku. Jika disediakan ruang melalui media jurnalisme warga, makin banyak yang suka protes juga. Koh ngomong tinggal masa lalu. ?

No Comments Yet.

Leave a Reply

Your email address will not be published.