Biar Kere Asal Bebas

Ketika kami lagi berbaring sambil baca koran, istriku menceritakan keinginannya untuk bekerja tetap di salah satu media yang akan segera terbit di Bali. Koran punya grup Media Citra Nusantara itu katanya akan terbit Januari nanti. Beberapa temanku di sana. Salah satunya yang kemudian ngobrol sama Lode, istriku, untuk kerja di sana saja.

Hmm, ini masalah yang sudah berkali-kali kami diskusikan. Aku juga kadang-kadang iri melihat teman kerja terikat. Sepertinya enak dengan rutinitas berangkat pagi, kerja sepanjang hari, dan pulang ketika petang. Lalu tiap akhir atau awal bulan kita dapat gaji atas pekerjaan tersebut. Besar kecilnya relatif. Yang jelas kita dapat pendapatan tetap. Dan, inilah yang dicari istriku.

Continue reading “Biar Kere Asal Bebas”

Tanggapan terhadap Hak Jawab soal Bali Post

Kritikku terhadap jual beli berita oleh Bali Post ternyata lumayan membuat repot. Tapi ini menyenangkan. Mendapat kritik sama menyenangkannya dengan menulis itu sendiri. Kata William Shakespeare, ”Tanpa kritik, kita bukanlah apa-apa.”

Makanya aku sampai nulis berhari-hari -cailah!- untuk bikin tanggapan terhadap tanggapan dua penanggap seperti di tulisan-tulisan sebelumnya. Jadi ini sudah kayak zaman Piala Dunia kemarin. Ada pemain, ada komentator, ada pengomentar komentator, ada lagi orang yang mengomentari komentar dari orang yang mengomentari komentator. Bingung kan? 🙂

Continue reading “Tanggapan terhadap Hak Jawab soal Bali Post”

Nyepi Sehari untuk Mengurangi Emisi

Mari melihat Nyepi sebagai kearifan lokal untuk memberi bumi sejenak beristirahat. Meski hanya sehari, itu jelas sangat berarti. Maka, marilah dukung usaha agar Nyepi bisa jadi momen internasional meski tidak harus serempak, meski tidak harus ala Bali.

Mari melihatnya dari sudut pandang bumi yang kian letih. Usaha ini pula yang dilakukan melalui delegasi resmi kawan-kawan NGO Bali maupun kelompok lain di KTT Perubahan Iklim di Nusa Dua Bali yang sedang berlangsung. Ini pula yang kawan-kawan teriakkan pada Parade Budaya 8 Desember lalu.

Continue reading “Nyepi Sehari untuk Mengurangi Emisi”

Halo, Siapa Pemilik Rumah Tulisan?

Awalnya isi tulisan di posting ini adalah SMSku dengan seorang teman terkait isi blog. Tidak ada maksud untuk mengecewakan pihak lain, apalagi seorang teman, dengan posting itu.

Lalu aku baru tahu kalau teman tersebut keberatan. Hmm, ini pukulan telak bagiku. Aku pikir SMS itu tidak jadi soal kalau dimasukkan di blog. Ternyata asumsi itu salah.

Continue reading “Halo, Siapa Pemilik Rumah Tulisan?”

Namanya Saja Penggembira. Jadi ya..

Setelah Republik Mimpi selesai, ribuan orang itu seperti sudah tidak sabar lagi. Mereka segera beranjak dari wantilan DPRD Bali, meski kelompok Krishna Balaram sedang bersiap-siap dengan musiknya.

Sabtu sore itu, sekitar pukul 13.30 Wita, suasana makin hiruk. Aktivis LSM, petani, nelayan, korban lumpur Lapindo, mahasiswa, pelajar, buruh, pemuda, tokoh agama, masyarakat adat, dan banyak lagi. Semuanya tumplek blek di halaman DPRD Bali di daerah Renon.

Continue reading “Namanya Saja Penggembira. Jadi ya..”

Seandainya Saja Pacar Koming Pakai Kondom

Sejak awal saya tahu kalau Koming, tetangga saya di Denpasar, memang tidak terlalu “normal”. Saya tidak tahu persis bagian mana dari perilakunya yang menunjukkan “ketidaknormalan” itu. Saya hanya bisa merasakan, tidak bisa menjelaskan. 

Meski begitu, saya tetap kaget ketika melihat perilaku Koming, cewek berumur 20 tahun, itu tiba-tiba berubah. Tatapan matanya kosong. Ketika saya sapa, dia diam saja. Raut wajahnya sama sekali bukan Koming yang saya kenal sebelumnya. Muram. Bahkan ketika ketemu dengan anak saya, yang biasa membuatnya tertawa lalu menyorongkan tangan untuk menggendong, dia tak bereaksi apa pun.

Continue reading “Seandainya Saja Pacar Koming Pakai Kondom”

Bali Serasa Darurat Militer

Konferensi PBB tentang perubahan iklim (UNFCCC) resmi dibuka hari ini di Nusa Dua. Ini narasi besar tentang pemanasan global. Dan, yang terjadi di lapangan hanyalah ketidaknyamanan.

Aku mulai merasakannya minggu-minggu ini. Paling terasa sih di Sanur pas habis mandi di pantai sama anak istri kemarin. Agak aneh juga melihat polisi bersenjata lengkap berdiri siaga menghadap ke jalan di perempatan Jl Hang Tuah – Jl By Pass Ngurah Rai. Bukannya ini tempar bersantai. Tapi kok polisi bermuka serem itu berdiri dengan tegaknya di sana? Bagiku sih tidak menimbulkan rasa nyaman, malah sebaliknya: perasaan seperti terancam.

Continue reading “Bali Serasa Darurat Militer”

Terus Berjuanglah, Semua Teman

Hari AIDS Sedunia tiba kembali. Hmm, lalu apa ya yang menarik dari momen tahun ini. Temen-temenku yang positif HIV, atau malah sudah pada fase AIDS, atau bahkan yang sudah kena infeksi oportunistik belum banyak berubah. Mereka masih saja bertarung dengan masa depan yang suram. Belum banyak harapan.

Rey, teman paling dekat, baru minggu lalu bertemu. Tubuhnya makin kurus. Dia harus lebih banyak istirahat karena ketahanan tubuhnya makin rendah. Rambutnya mulai rontok. Aku lihat tubuhnya juga makin lemah dengan cahaya mata makin redup meski aku tahu dia berusaha terus menunjukkan semangat.

Continue reading “Terus Berjuanglah, Semua Teman”