Komentator, Haruskah jadi Provokator?

Aku agak ragu-ragu ketika akan menulis posting ini. Pertama, ada beberapa hal yang muncul di kepala untuk ditulis. Tapi ketika sudah mau aku tulis, aku mikir lagi. Untuk apa sih aku menulisnya di blog? Lalu aku baru sadar. Ternyata aku nulis hanya karena ingin ada yang mengomentari, bukan karena aku memang ingin menulis. Kedua, aku juga takut tulisan ini akan dibaca nyinyir sama orang lain. Takut orang lain akan menuduh aku songong dan lain-lain. Ini memunculkan pertanyaan, “Aduh, sejak kapan dibaca orang harus jadi pertimbangan utama bagiku ketika akan menulis di blog? Kenapa harus takut dituduh atau dikomentari orang lain?”

Well, tulisan dibaca orang tentu menyenangkan. Apalagi sampai dikomentari. Tapi lama-lama kok aku mikir itu seperti bumerang. Memang sih, di satu sisi itu berarti tulisanku tidak jadi sekadar masturbasi. Komentar dari orang yang berkunjung berarti ada respon meski hanya beberapa orang dan kadang lebih sering basa-basi. Lalu, lama-lama kok aku makin termotivasi menulis hanya untuk sekadar mendapat komentar. Artinya, komentar sudah jadi motivasi utama. Itu sih terasa akhir-akhir ini.

Continue reading “Komentator, Haruskah jadi Provokator?”

Bali is Like a Home

“So, how was your impress about Bali? Is it like what you’ve thinked before?” kataku.

“Ya, ya. It’s absolutely different. I was travelled around some places. I went to India, Srilanka, Ghana. But, Bali is different. I don’t know how. In Bali i feel like coming home,” katanya.

*obrolan dengan basa Inggris ala kadarnya di mobil dalam perjalanan ke Ubud pagi tadi dengan Bu Edith, bos dari tempat kerja part time*

Mengawali Tahun dengan Puja

Puja pagi mengawali tahun baru 2008. Ketika hari masih gelap dan orang-orang mungkin masih terlelap, kami duduk bersila di ruang belakang gedung pertemuan. Bale puja yang biasa digunakan untuk berdoa agak basah karena hujan yang mengguyur semalam. Udara pun masih lembab. Dingin.

Sekitar 15 menit sebelumnya aku sudah ke tempat itu. Kadek Dian, koordinator murid-murid di ashram, semalam bilang puja pagi akan dimulai pukul 5. Tapi ketika aku ke sana pukul 5 pagi itu, belum ada satu orang pun. Aku lalu kembali ke kamar ashram di lantai dua gedung Taman Kanak-kanak. Aku kembali merebahkan badan, menarik selimut, lalu berbaring sambil melihat Bani dan Bunda di kasur sebelahku.

Continue reading “Mengawali Tahun dengan Puja”

Menyepi dari Waktu yang Berlari

Ketika melakukannya dua tahun lalu, aku hanya berpikir untuk lari dari ingar bingar perayaan tahun baru di Denpasar. Entahlah. Aku memang tidak bisa menikmati suasana yang ramai. Kadang-kadang malah seperti cemas di tengah kerumunan banyak orang. Begitu pula pada perayaan tahun baru.

Ketika masih jadi wartawan baik-baik, larut di dalam perayaan tahun baru seperti jadi sesuatu yang “wajib”. Tapi aku tidak bisa menikmatinya. Meski sudah mencoba kayak apa, tetap saja aku merasa terasing di sana.

Continue reading “Menyepi dari Waktu yang Berlari”

Susahnya Melawan Rasa Malas

Inilah pertempuran yang tak pernah ku menangkan: melawan rasa malas. Minggu ini misalnya. Ada beberapa hal yang ingin aku tulis. Aku bahkan sudah liputan. Ini belum termasuk ide-ide lama yang masih belum jadi juga.

Banyak ide di kepala untuk ditulis. Pameran Plush-Tick I Wayan Suja, Festival Makanan Tradisional Denpasar, acara tahun baru di Popo Danes, opini tentang banyaknya bencana di Indonesia, tentang kampanye World Silent Day, tentang dukungan pembubaran MUI, dan seterusnya dan seterusnya.

Tapi semua hanya di kepala. Ketika aku sudah di depan komputer untuk nulis, tiba-tiba semua hilang dikalahkan rasa malas. Ah, dasar!

Blogging, Nungging, Anjing

Melawan hujan dan badai (cailah..) kami tetap berangkat ke Ubud pagi ini. Sejak dari rumah, hujan campur angin tidak juga berhenti. Tapi demi sebuah janji (mmm, tepatnya kesanggupan untuk datang, sih) maka aku dan istri tetap ke sana untuk melihat pameran di Komaneka Gallery Ubud.

Pameran karya Wayan Suja bertema plush-tick ini termasuk unik. Setidaknya aku belum pernah nemu tema pameran begini. Bagaimana plastik itu menjadi penanda (tick) dari sebuah kesenangan sesaat (plush). Hmm, ini cultural studies banget..

Continue reading “Blogging, Nungging, Anjing”