Barter Selendang dengan Uang

Bertemu dengan orang-orang baru, juga budayanya, selalu menyenangkan. Ini pula yang aku temui selama perjalanan di Flores pada 19-23 Januari lalu.

Salah satu budaya yang aku tahu adalah prosesi menerima tamu, terutama untuk orang yang pertama kali bertemu. Ritual bernama karong sanga (bener gak ya nulisnya?), upacara penyambutan tamu oleh suku Manggarai, ini aku alami tiga kali. Pertama kali di kantor Yakines, LSM lokal di Manggarai Barat. Kedua di Desa Munting, Kecamatan Lembor. Ketiga, di Desa Lontoh, Kecamatan Lembor juga.

Continue reading “Barter Selendang dengan Uang”

Nak Jawa Belajar Bahasa Bali

Nyempal dikit dari tulisan bersambung soal perjalanan ke Flores. Tiba-tiba aku pengen nulis soal bahasa.

Jawa dan Bali itu memiliki karakter yang tidak jauh beda. Misalnya soal feodalisme. Menurutku keduanya memiliki budaya yang bertingkat-tingkat dalam interaksi, termasuk soal bahasa. Kalau di Jawa, terutama Mataraman alias Jawa Timur bagian barat daya dan Jawa Tengah bagian selatan serta Yogyakarta, masyarakatnya mengenal tingkatan dalam bahasa, maka begitu pula Bali. Berbicara dengan orang yang lebih tua harus menggunakan tingkat bahasa lebih halus dibanding dengan bahasa untuk orang yang sepantaran.

Setahuku ini berbeda dengan bahasa Melayu atau bahasa Indonesia yang tidak ada tingkatan bahasanya. Jadi kita bisa menggunakan bahasa yang sama untuk siapa saja dengan bahasa Melayu.

Continue reading “Nak Jawa Belajar Bahasa Bali”

Tak Ada Kasur, Nyebur pun Jadi

Hotel Gardena, tempat aku menginap di Labuan Bajo, Manggarai Barat, Flores pada hari pertama aku di Flores (19/1) sebenarnya asik banget tempatnya. Hotelnya sederhana. Dinding kamarnya dari anyaman bambu. Tidak ada AC, hanya kipas angin. Dengan harga per kamar antara Rp 100 ribu hingga Rp 150 ribu per malam, hotel ini bisa jadi pilihan murah untuk menikmati laut dan bukit Labuan Bajo.

Namun, hotel ini juga terkesan tidak rapi. Tumbuhan tdak terawat ada di depan kamar. Tidak ada petunjuk jalan ke tiap kamar yang jaraknya satu sama lain saling berjauhan. Untuk ke kamar tamu harus meniti jalan berundak dan bercabang. Aku malah sempat kesasar ketika akan balik ke kamar. Apalagi penerangan tidak cukup. Tidak hanya temaram. Gelap bahkan.

Continue reading “Tak Ada Kasur, Nyebur pun Jadi”

Membelah Pulau Seribu Bukit

Meski melelahkan, perjalanan membelah Flores sebenarnya bisa jadi kegiatan wisata yang menarik. Pantai, bukit, dan gunung terhampar sepanjang pulau yang layak disebut Pulau Seribu Bukit ini.

Aku berniat menulis perjalanan lima hari di sana secara tematis, bukan kronologis. Tapi itu kan ide. Lain lagi praktiknya. Hehe.. Tiba-tiba hari aku ingin nulis mengalir saja. Seperti biasa, tidak usah pusing soal tetek bengek aturan nulis. Tulis saja apa yang ada di kepala.

Maka aku mau nulis panjang meski nanti bisa juga dibagi jadi beberapa bagian. Dan, kali ini aku mau memulainya dari tempat pertama yang aku datangi, Labuan Bajo.

Continue reading “Membelah Pulau Seribu Bukit”

Habis Semangat, Malasnya Kumat

Kemarin tuh aku kok sepertinya semangat banget ya untuk segera nulis catatan perjalanan ke Flores dan Jawa. Tapi hari ini kok berubah 180 derajat? Aku males banget. Padahal seharian juga udah di depan komputer terus. Maunya maksa tapi kok takut malah acak adut tidak jelas. Makanya ditunda saja. Nanti kalau moodnya sudah datang, baru nulis panjang.

Sepertinya ini akan jadi tulisan panjang memang. Jadi ya harus dibagi-bagi dalam banyak bagian. Semula aku berniat nulis kronologis saja. Urutannya menurut waktu. Tapi kok sepertinya kurang asik. Maka, maunya nanti aku nulis tematis saja. Misalnya place, people, panganan alias pood (maksa banget sih?), dan seterusnya. Tapi ya, sekali lagi, karena aku pemalas, jadi nulisnya juga tergantung mood. Kalo lagi semangat nulis, nulis saja. Kalo giliran males tidak usah dipaksa.

Bukankah karena itu sebuah blog ada. *Ngeles teruuusss*

Solo, Timlo, dan Loyo

Di tengah perjalanan minggu ini, aku nemu warnet juga. Maka aku girang bukan kepalang. Meski badan sangat loyo, bisa online seperti mengalahkan itu semua. *Alamak, heroik sajaaaaaan!*

Yup, ini lagi Solo. Seharian tadi jalan ke tiga lokasi. Begitu turun dari Bandara Adi Sucipto Jogja, aku dan Jelle langsung ke Solo. Di sana ngobrol sama temen2 LSKBB, LSM mitra tempatku kerja part time. Kami ngobrol soal program mereka di bidang consumer awareness untuk produk pertanian organik. Ini masih sisa pekerjaan membuat dokumentasi program sustainable agriculture chain development, advocacy, dan consumer awareness untuk tempat kerja part time. Lanjut setelah di Flores lima hari.

Continue reading “Solo, Timlo, dan Loyo”

Akhirnya Ngeblog Juga

Kemarin petang, sekitar pukul 6, akhirnya aku tiba juga di rumah. Lima hari menyusuri pulau Flores, meski belum semua, cukup membuat tubuhku remuk redam. Jalanan naik turun berkelok-kelok dan belum bagus ternyata melelahkan. But, ketika melihat senyum Bani dan Bunda, ilanglah semua capek itu. Hehehe..

Lalu, pagi ini, setelah istirahat semalam, kurang daru 12 jam di rumah, aku harus ke Solo dan Boyolali. Hmm, pekerjaan ternyata belum selesai. Besok malam mungkin baru beristirahat setelah menyelesaikan semua liputan.

Continue reading “Akhirnya Ngeblog Juga”

Kantor Baru, Buruklah Nasibku

Setelah tertunda hampir sebulan, akhirnya bisa juga aku nulis soal pindah kantor. Sebenarnya sudah mau nulis sejak awal pindah. Namun ada saja masalahnya. Beres-beres kantor, ngurus pameran, libur panjang akhir tahun, hingga internet tidak beres juga. Dan, akhirnya sekarang bisa juga.

Sejak akhir tahun lalu, tempatku kerja part time pindah kantor. Semula kantor kami di daerah Yang Batu, Denpasar Timur. Tapi karena dianggap tidak cocok lagi, misalnya terlalu sempit dan banyak bocor, maka para bos besar sepakat pindah kantor. Sejak pertengahan Desember lalu, kami pun mengangkat semua barang satu per satu ke kantor baru. *Eh, diangkut pake pick up ding. Niat amat kalau angkut sendiri. Hehehe..*

Continue reading “Kantor Baru, Buruklah Nasibku”

Dadong, Beristirahatlah dengan Tenang

Sejak pertama kali bertemu dengan dadong, aku merasa ada sesuatu yang mengikatku dengannya. Rasa ini seperti halnya ketika aku pertama kali lewat di daerah Pekarangan, Manggis, Karangasem. Melihat bukit, sawah, dan laut yang menyatu di desa ini, aku seperti melihat Mencorek, kampungku di Lamongan. Melihat dadong, bisa jadi juga seperti melihat nenekku sendiri.

Mungkin karena aku memang kehilangan kakek dan nenek sejak kecil. Aku tidak terlalu mengenal nenek dan kakekku. Kakek nenek dari bapak tidak pernah ku kenal sama sekali. Keluarga dari bapakku memang agak misterius. Hampir semua saudara tidak pernah bertemu dengan kakek nenek dari bapak. Kakek dari ibu sudah meninggal sejak aku belum lahir. Lalu, nenek dari ibu sudah meninggal ketika aku mungkin masih TK. Aku tidak ingat persis kapan. Satu hal yang jelas, aku tidak terlalu dekat dengan nenekku. Dia lebih akrab dengan cucu-cucu lain. Maklum, aku punya banyak sepupu.

Continue reading “Dadong, Beristirahatlah dengan Tenang”