Setelah tertunda hampir sebulan, akhirnya bisa juga aku nulis soal pindah kantor. Sebenarnya sudah mau nulis sejak awal pindah. Namun ada saja masalahnya. Beres-beres kantor, ngurus pameran, libur panjang akhir tahun, hingga internet tidak beres juga. Dan, akhirnya sekarang bisa juga.
Sejak akhir tahun lalu, tempatku kerja part time pindah kantor. Semula kantor kami di daerah Yang Batu, Denpasar Timur. Tapi karena dianggap tidak cocok lagi, misalnya terlalu sempit dan banyak bocor, maka para bos besar sepakat pindah kantor. Sejak pertengahan Desember lalu, kami pun mengangkat semua barang satu per satu ke kantor baru. *Eh, diangkut pake pick up ding. Niat amat kalau angkut sendiri. Hehehe..*
Kantor baru kami ada di sekitar Sidakarya, Denpasar Selatan. Dan, ini tentu membawa beberapa akibat (tidak enak) padaku.
Pertama makan waktu. Dari rumahku di daerah Jalan Subak Dalem Denpasar Utara kantor baru lebih jauh dibanding kantor lama. Akibatnya perlu waktu lebih lama pula untuk pergi pulang kerja. Dulu tidak sampai 15 menit jalan. Sekarang dua kali lipatnya. Parahnya, bukannya berangkat lebih pagi, aku malah berangkat lebih siang. Dulu pukul 7.40an dari rumah, sekarang 8 lebih sekian. Dulu paling cepat sampai kantor, sekarang (hampir) paling telat terus.
Kedua, karena jarak lebih jauh, aku lebih cepat stress karena jalanan macet. Dulu hanya lewat Jl Gatsu – Jl Nangka – Jl Patimura – Jl Melati – Jl Hayamwuruk – Jl Kapten Japa lurus sampai Jl Letda Kajeng. Sekarang muter-muter. Jl Gatsu – Jl Nangka – Jl Melati – Jl Surapati – Jl Letda Made Putra – Jl Sudirman – Jl Waturenggong – Jl Tukad Pakerisan – Jl Tukad Petanu – Jl Kerta Dalem. Di jalanan ini banyak banget macetnya. Jadinya lebih cepat sakit hati dan bisa memicu stress. Sayangnya aku hanya kerja paruh waktu. Jadi tidak dapat asuransi kesehatan. Paling hanya kerjaan yang makin banyak. 😀
Ketiga, aku cepat kere. Soale kan jarak lebih jauh jadi bensin lebih cepat habis. Kalau dulu hanya satu minggu sekali isi bensin dalam kondisi normal, maka sekarang lima hari sekali. Parahnya harga bensin terus naik. Kadang-kadang aku juga males antri jadi harus beli Pertamax yang harganya sampai 8 ribu per liter (bener ga ya?). Ya, pokoke kalau bensin Rp 15 ribu tangki motorku sudah penuh tapi kalau Pertamax Rp 20 ribu masih ada sisa ruang kosong.
Penyebab cepat kere lainnya adalah karena aku tidak bisa lagi makan siang masakan istri. Kalau dulu kan tinggal ke Sloka, kantorku yang lain di Renon, kalau mau makan siang. Dan, istri dengan setia bawa makan ke sana. Jadi tidak perlu keluar duit untuk makan siang. Lha sekarang tidak. Kalau mau makan harus ke warung. Mana makanannya mahal lagi. Atau kalau toh murah, mataku pasti minta makan yang lebih banyak. Hehehe..
Sudah makin banyak pengeluaran, eh, honor per bulan tetap saja sama. Kemarin minta bonus akhir tahun malah dijawab sama bos kalau tidak ada aturan bonus akhir tahun untuk staf paruh waktu. Hmm, inilah nasib anak buah. Kalau menuntut harus ada aturannya. Tapi kalau bos ngasih tambahan kerjaan, tidak perlu sesuai aturan. Apeslah sudah nasibku.
*But, soal bonus akhir tahun itu aku belum menyerah. Sebentar lagi aku pasti akan menuntut lagi. Toh, memang ada dasar hukumnya. Lagian belajar praktik advokasi. Masak teori terus..*
Tahun baru, kantor baru, sepertinya memperburuk nasibku. 🙁
Leave a Reply