Ketika Pura Berganti Vila

Wadepak! Ternyata sudah lima hari tidak ngeblog. Padahal kemarin ada beberapa ide yang masuk. Cuma karena lima hari ini ngurus adik yang lagi liburan di Bali, liputan kuliner di akhir deadline, dan ngurus rumah di akhir pekan, jadinya lupa nulis.

Yowis. Nulis saja yang ada di kepala. Maunya tadi nulis soal Pantai Bias Putih di Desa Bugbug Karangasem, eh, aku lupa bawa fotonya. Padahal seperti kata beberapa teman, nulis jalan-jalan tanpa skrinsut itu sama dengan bull shit. 😀 Jadinya nulis soal pantai keren ini ditunda saja dulu.

Continue reading “Ketika Pura Berganti Vila”

Menang Kalah Tidak Masalah

Yap, akhirnya aku pun milih hari ini. Pilihanku pasangan Gede Winasa – Alit Putra. Ini sebagai bagian dari keterbukaan. Kenapa juga harus malu-malu dengan pilihan kita. Toh, tiap pilihan selalu ada risikonya. Begitu juga dengan Pilgub Bali kali ini.

Pilihanku sebenarnya antara Winasa dan Pastika. Sebab kalau CBS sudah jelas tidak jelas programnya. Dalam beberapa kali debat, aku tidak pernah nemu hal menarik dari apa yang disampaikan CBS – Suweta.

Continue reading “Menang Kalah Tidak Masalah”

Xenophobia itu Ada di Mana Saja

Apa boleh buat, liyan (the others) masih saja dianggap sebagai sesuatu yang harus diwaspadai karena dianggap sebagai ancaman. Atau malah dijadiin musuh. Atau, bila perlu, dilenyapkan. Maka, begitu pula yang terjadi di negeri tercinta bernama Indonesia ini.

Kalau ada orang berbeda jalan, dan dianggap tersesat, maka tidak ada cara lain selain dikuamplengi alias dicak-cak. Aduh, kasihan bener. Inilah nasib mereka yang memilih jalan bernama Ahmadiyah. Selalu saja dikuyo-kuyo, dianggap sesat dan harus kembali ke jalan yang benar.

Padahal, salah benar itu kemudian larinya pada jumlah.

Continue reading “Xenophobia itu Ada di Mana Saja”

Antem Cang Ngeling Ci

Bondres, tetanggaku di gang, berseru lantang pada William, teman mainnya. “Antem cang ngeling Ci,” teriak Bondres sambil mengepalkan tangan ke arah William. Sore sekitar seminggu lalu dua anak tetangga yang umurnya sekitar tujuh tahun itu sedang main layangan.

William mengambil layangan Bondres lalu membawanya lari. Hanya untuk bercanda. Begitu juga ancaman Bondres ke William dalam bahasa Bali kasar tersebut. Keduanya hanya bercanda.

Teriakan Bondres ke William itu mengingatkanku lagi soal struktur bahasa Bali yang mungkin terdengar aneh di telinga rasa Bahasa Indonesia. “Antem Cang Ngeling Ci” adalah bahasa Bali kasar. Kalau diterjemahkan per kata maka artinya “Pukul Aku Nangis Kamu.” Tentu saja kalima itu sangat aneh terdengar kalau diterjemahkan menurut struktur kalimat bahasa Indonesia.

Continue reading “Antem Cang Ngeling Ci”

Tegang dan Lucu Kecak di Uluwatu

Hampir sebelas tahun hidup di Bali dan belum pernah sekali pun menonton tari kecak di Uluwatu, ah, betapa menyedihkan hidup saya. Padahal tarian di sana saat sunset sungguh mengesankan..

Tidak hanya tariannya yang spektakuler, tapi lokasinya juga demikian. Rabu dua pekan lalu, saya akhirnya bisa melihat sendiri bagaimana tarian Bali itu disajikan dengan latar belakang matahari tenggelam. Kami dan para penari itu di atas tebing Uluwatu, setinggi sekitar 20 meter dari permukaan air laut.

Continue reading “Tegang dan Lucu Kecak di Uluwatu”

Prat Prit Prat Prit Nodong Duit

Ini cerita usang yang terus berulang. Aku sudah pernah membacanya di blog Suryawan soal ini. Juga, rasanya buanyak banget orang di Denpasar yang pernah mengalami. Maka dijamin ini isu yang basi banget. Tapi ya daripada hanya disimpan di kepala, lalu jeblug, kepalaku mbledos, jadi ya ditulis saja.

Pemicu tulisan ini adalah perilaku tukang parkir di depan Super Ekonomi (SE) Gatsu Denpasar.

Kemarin aku ambil duit di ATM SE Gatsu, yang memang tidak jauh dari rumahku. Ketika mau cabut, satu tukang parkir segera datang. Tapi bukannya menarik motorku atau sekadar membantu, dia hanya berdiri di belakang dengan peluit di mulutnya. Prit prit. Tanpa basa-basi dia menodongkan tangan. Meminta aku bayar parkir. Lalu, dengan santai dia nyelonong pergi tanpa memberi karcis parkir.

Continue reading “Prat Prit Prat Prit Nodong Duit”

Kenyataan itu di Lapangan, Bukan di Belakang Meja

Perjalananku ke Bedugul hari ini membuatku makin yakin: belajarlah dari lapangan, bukan dari balik meja. Sebab ketika kita hanya membacanya dari balik meja, kita hanya menemukan teori. Tapi di lapangan, kita akan menemukan kenyataan bukan hanya cerita.

Hampir setahun bekerja part time di majalah advokasi pertanian berkelanjutan, aku merasa jarang sekali bergaul dengan petani, yang selalu jadi objek tulisan kami tiap edisi. Majalah ini sih memang lebih mirip jurnal daripada karya jurnalistik. Tugasku di sana pun lebih banyak di belakang meja seperti mencari naskah tiap edisi, mengedit tulisan orang, dan mengupload tulisan ke website.

Continue reading “Kenyataan itu di Lapangan, Bukan di Belakang Meja”

Perusakan atas Nama Pembangunan

Minggu-minggu ini berita tentang perusakan lingkungan di Bali terus menggangguku. Di danau Buyan, Bedugul banyak villa sedang di bangun. Padahal Buyan adalah salah satu dari empat danau terbesar di Bali yang tidak hanya mengaliri sawah-sawah di sekitarnya. Buyan juga tempat di mana petani Bali Hindu menghaturkan sembah pada penguasa air.

Lalu di Wongaya Betan, Tabanan juga baru saja diletakkan batu pertama pembangunan villa atas nama pariwisata. Villa yang katanya untuk terapi spiritual itu dibangun di kawasan hijau. Tidak hanya tempat petani bercocok tanam, tapi juga tempat masyarakat Bali menggantungkan sumber pangan selain Jatiluwih.

Continue reading “Perusakan atas Nama Pembangunan”

Jangan Baca Berita dengan Tanda (*)

jangan-baca-1.jpg

Gerakan ini didedikasikan untuk pembaca surat kabar yang telah dibodohi karena membaca tulisan pesanan. Perhatikan tiap berita yang mencoba memanipulasi pembaca dengan menyertakan tanda bintang (*) di akhir artikel.

Makin banyak media yang berani menurunkan berita pesanan (yang bisa dibeli) tanpa memberi tanda bahwa itu advertorial atau berita iklan. Bahkan, berita itu tidak biberi garis api-tanda tegas untuk membedakan iklan dan berita.

Continue reading “Jangan Baca Berita dengan Tanda (*)”

Menatap Puing, Mengingat Rusuh

Sore tadi aku jalan-jalan sama Bani ke Taman Kota Denpasar dekat Lapangan Lumintang Denpasar utara. Meski namanya keren, “Taman Kota”, tempat ini tak lebih dari lapangan kosong dengan pohon-pohon yang baru ditanam. Ada beberapa petak tanah luas dengan semak-semak tidak terurus di pinggir lapangan.

Meski tidak seramai di Lapangan Puputan Renon atau Puputan Badung, namun sore itu puluhan orang lain juga sedang berjalan-jalan di sana. Ada yang sekadar lari, jalan-jalan, sepak bola, main skate board, atau malah jalan-jalan sama anjing. Aku dan Bani sih jalan sambil cuci mata. Mumpung tidak ada Bunda, jadi kami bebas jadi laki-laki. Hehehe..

Jalan-jalan di tempat itu, aku masih bisa melihat puing-puing sisa kerusuhan di Denpasar pada 1999 lalu. Maka, sambil jalan-jalan sore itu, aku jadi inget peristiwa tujuh sembilan tahun lalu itu.

Continue reading “Menatap Puing, Mengingat Rusuh”