Musik, Rambut, dan Pemberontakan

ADA gejala menarik di Bali seiring tumbuh suburnya kelompok musik punk akhir-akhir ini. Agak prematur mungkin untuk menyebutnya, tetapi ada kecenderungan bahwa diterimanya kelompok musik punk semacam Superman Is Dead (SID) membuat atribut-atribut punk menjadi sesuatu yang tak lagi asing. Lihatlah, misalnya, pada penggunaan kalung rantai, gelang bergerigi tajam, atau atribut punk lainnya yang dipakai remaja di Bali. Sekali lagi, perlu dikaji lebih dalam hubungan sebab akibat popularitas punk dengan maraknya atribut ini. Namun dalam sejarah, mode — sebagai sesuatu yang mapan, memang berhubungan erat dengan simbol-simbol gerakan (atau ideologi bahkan) musik tertentu.Katakanlah rock n’roll tahun 1970-an, yang dilambangkan oleh kelompok semacam Beatles, Queen, Rolling Stone, dan seangkatannya. Identitas kelompok ini diwujudkan melalui rambut gondrong, celana ketat, jaket kulit, dan semacamnya. Reggae dengan rasta-nya bisa dikenali lewat baju pantai berwarna-warni, rambut panjang dan gimbal, serta kacamata pantai. Bob Marley kemudian menjadi semacam ikon kelompok ini. Atau musik R&B yang tergambarkan oleh mereka yang memakai baju dan celana gombrong serta kalung perak panjang.

Continue reading “Musik, Rambut, dan Pemberontakan”