Mengabarkan Perjuangan Odha Lewat Gambar

-huh, sibuk ngurusi persiapan pameran hingga hari H dan pasca. sampe lupa terus utk posting. jd ya posting press release ajalah. sptnya belum telat-

Enam fotografer memamerkan foto kehidupan Odha. Menggambarkan optimisme. Sekaligus membongkar mitos bahwa HIV/AIDS adalah akhir segalanya.

Sabtu (20/1) menjelang tengah malam, seorang wartawan bertanya di sela-sela persiapan pameran foto ini, “Kenapa pameran ini tidak memperlihatkan orang-orang kena AIDS yang kurus dan tinggal tulang?” Kami terhenyak. Pertanyaan ini makin membuktikan bahwa masih banyak kesalahpahaman dan mitos tentang HIV/AIDS. Karena itulah kami berharap bahwa pameran foto ini bisa menjawab kesalahpahaman dan mitos itu.

Continue reading “Mengabarkan Perjuangan Odha Lewat Gambar”

Gimana Kalau Dunia Nyepi? Sehari Aja..

Nyepi udah dua hari lalu. Meski telat, tetap saja selamat melaksanakan catur brata penyepian untuk yg ngrayain.

Ini Nyepi pertama setelah married. Biasanya aku pilih keluar Bali kalo ada waktu, dan duit tentu saja. Kali ini di rumah aja. Berdua sama nyonya.

Sehari menjelang Nyepi, namanya Pengerepukan, aku ketawa2 sendiri ngeliat anak2 kecil semangat banget bawa ogoh2. Ogoh2 tuh patung besar berwujud raksasa jahat. Tapi sekarang wujudnya bisa macam2. Taun ini ada berwujud anak punk. Tahun 2003 lalu malah ada yang berwujud Amrozi. :)) Ya, sama jahatnya lah dia sama betarakala. Cuma kalo anak punk dianggap jahat juga, ah, itu mah setereotype.

Continue reading “Gimana Kalau Dunia Nyepi? Sehari Aja..”

Orphaned due to HIV/AIDS in North Bali village

The Jakarta Post , Jakarta | Thu, 08/04/2005 9:05 AM | Life

Anton Muhajir, Contributor/Singaraja

Eleven-year-old Gede Edi Suantara was once a happy and healthy boy. His life turned dark and miserable when his beloved mother Kadek Widiasih died a year ago following his father who also died two years ago.

Raised by his uncle, Komang Sunetra, the orphaned boy is a depressed teenager. “”He was once a very smart boy who often got the top grade in his class. But since his mother died of HIV/AIDS, he drastically changed,”” the uncle said.

Continue reading “Orphaned due to HIV/AIDS in North Bali village”

Property boom can have negative impact on local people

The Jakarta Post , Jakarta | Thu, 02/17/2005 11:27 AM | Life

Anton Muhajir, Contributor, Denpasar

It was drizzling that Saturday, but Ketut Karja and his two friends were still working in their rice field in Legian, on the outskirts of north Kuta. Across the street, several Westerners were seen sitting in the gazebo of a restaurant. They were separated only by several rice fields and a highway known as “”Sunset Road””.

It is a new road that connects Legian, Kerobokan and nearby areas with Nusa Dua, Jimbaran and other tourist areas in the south.

Continue reading “Property boom can have negative impact on local people”

Cerita tentang Bunga Kematian

Sejak tiga hari lalu, tiba-tiba aku agak terobsesi dengan bunga kamboja. Aku gak tau kenapa. Aku ngerasa ada sesuatu yang membuatku tiba-tiba suka banget sama bunga itu. Dan aku juga gak tau persis “sesuatu” itu apa.

Pohon bunga kamboja, bahasa latinnya Plumeria alba, ada di depan kosku. Orang Bali menyebutnya bunga jepun. Dan itu sama dengan nama ibu kosku, juga nama ibu mantan cewekku. 🙂 Pohonnya tinggi, sekitar 3 meter, dengan banyak cabang. Daunnya hijau terbagi dua, seperti daun pohon pisang tapi ukurannya jauh lebih kecil. Bunganya putih dengan ruas-ruas membentuk lingkaran, mirip terompet. Tapi ya ukurannya lebih kecil. Baunya harum tapi nyiumnya harus deket.

Continue reading “Cerita tentang Bunga Kematian”

Dunia Memang Tidak Adil

Jumat sampe Minggu lalu liputan – apa liburan ya? 🙂 – di Desa Pemuteran, Kecamatan Gerokgak, Kabupaten Buleleng. Dari Denpasar sekitar 200 km, perlu waktu sekitar 3 jam naik mobil pribadi. Kalau dengan kendaraan umum mungkin lebih lama. Pemuteran desa kecil di bibir pantai utara Bali. Ada jalan raya besar menghubungkan Gilimanuk dan Singaraja. Gilimanuk pintu masuk utama ke Bali jika lewat darat. Sedangkan Singaraja, dulunya ibukota Bali sebelum kemudian pindah ke Denpasar.

Pemuteran termasuk desa kering. Buktinya pas aku ke sana, tanah desa berdebu. Kering. Pohon-pohon juga meranggas tanpa daun. Di bagian selatan desa ini, bukit Pulaki membentang dengan bentuk kaya grafik: dari paling rendah lalu naik. Cuma bukit itu keliatan kering. Di beberapa titik keliatan kerontang. Di bagian utara, desa ini berbatas pantai utara. Dan, ini yang jadi daya tarik Pemuteran.

Continue reading “Dunia Memang Tidak Adil”

Kuta Karnival yang Menyenangkan dan Liar

Biasanya pantai Kuta Bali cuma dipenuhi peselancar, turis berjemur atau jalan-jalan, serta penjual souvenir. Namun, pada 24 September -3 Oktober lalu suasana pantai indah itu berbeda. Umbul-umbul menghias sepanjang bibir pantai. Di salah satu bagian pantai juga ada ramp dan panggung gede. Ada apa gerangan?

Oalah, ternyata selama sepuluh hari tersebut digelar Kuta Karnival. Kuta pun jauh lebih rame dibanding hari lain. Tidak hanya aktivitas pariwisata sebagaimana biasa. Di sana ada juga konser musik, lomba surfing, skateboard, cheerlader, fashion show, parade, dan beragam acara lainnya. Seluruh kegiatan berpusat di Half Way Point, salah satu titik di pantai Kuta yang biasa dipake surfing.

Continue reading “Kuta Karnival yang Menyenangkan dan Liar”

Purnama Kapat dan Pengajian di Masjid Agung

Malam ini bulan masih terlihat penuh. Kemaren sih Purnama Kapat dalam penanggalan Bali. Ini hari baik, meski semua hari juga baik. Pas Purnama Kapat, banyak banget pura yang ngadain Odalan -upacara enam bulan sekali dalam penanggalan Bali.

Pas di jalan ketika aku balik dari kirim laporan di internet, aku ketemu beberapa remaja habis sembahyang di pura. Masih dengan pakaian adat mereka duduk-duduk di pinggir jalan. Ada juga yang naik motor pelukan sama pasangannya. Tiap purnama, umat Hindu di Bali memang banyak yang sembahyang di Pura Jagatnatha Denpasar.

Continue reading “Purnama Kapat dan Pengajian di Masjid Agung”

Bersembunyi di Pantai Berkarang Bali Selatan

Lupakan Kuta, Sanur, ataupun Nusa Dua. Menikmati Bali hanya dengan berjemur di pantai-pantai landai tersebut tidak lagi bergengsi. Kini saatnya Anda menikmati liburan yang lebih menantang, eskotis, dan eksklusif. Sebab pantai-pantai berikut hanya diketahui sedikit turis. Informasinya pun lebih bersifat dari mulut ke mulut. Anda tidak akan menemukannya di buku petunjuk ataupun paket perjalanan.

Pantai-pantai ini seluruhnya masuk wilayah Kecamatan Kuta Selatan seperti Pecatu dan Uluwatu. Tidak ada petunjuk resmi menuju ke sana. Arah paling gampang adalah jalan raya menuju Pura Uluwatu, salah satu pura terbesar di Bali di Desa Uluwatu, Bali bagian Selatan. Seluruh pantai berciri sama: bibir pantai pendek, dibatasi dua tebing, pasir putih, ombak besar, dan… tersembunyi! Sebab, pantai ini berada di balik bukit-bukit kecil antara objek wisata Garuda Wisnu Kencana di Bukit Jimbaran hingga Pura Uluwatu.

Continue reading “Bersembunyi di Pantai Berkarang Bali Selatan”

Exhibition explores journalistic flaws, hardships

The Jakarta Post , Jakarta | Thu, 08/26/2004 2:30 PM | Life

I Wayan Juniartha, The Jakarta Post/Denpasar, Bali

The Bali Independent Journalists Alliance (AJI Bali) has a unique way of celebrating its 10th anniversary — organizing a cartoon exhibition, where most of the work deals with the dark side of journalism, from news-spinning and insinuation to the prevailing culture of bribery among local journalists.

Titled “”Journalists in the Eyes of Cartoonists””, the exhibition features 32 works of 17 local cartoonists, including some of the island’s most respected cartoonists such as Ida Bagus Marti naya, Kadek Jango Pramartha, Wayan Gunasta and Cece Riberu. Held in the Bali Museum in downtown Denpasar, the exhibition runs through Aug. 28.

Continue reading “Exhibition explores journalistic flaws, hardships”