Prayitno, Mewujudkan Museum Topeng Indonesia

Sang Pionir:
Prayitno, Mewujudkan Museum Topeng Indonesia

Mimpi Prayitno untuk mewujudkan museum topeng tinggal selangkah lagi. Di salah satu ruangan rumah seni di Banjar Tengkulak Tengah, Desa Kemenuh, Kecamatan Sukawati, Gianyar, Bali Prayitno menyimpan hampir seribu topeng dari berbagai daerah. Topeng-topeng itu disusun berdasarkan daerah asal topeng tersebut. Mulai Madura, Jawa, Bali, Lombok, Batak, Kalimantan, hingga Papua.

Saat ini, selain masih berburu topeng dari daerah-daerah lain maupun jenis tertentu, pria kelahiran Bojonegoro, 23 Juli 1946 ini juga menyiapkan referensi masing-masing topeng. Keterangan tentang jenis, asal, dan bagaimana pembuatan topeng itu nantinya digunakan melengkapi tiap topeng yang akan dipamerkan di musem. “Agar mereka yang berkunjung bisa tahu informasi tentang topeng yang dilihat,” katanya. Bagi Pak Prayit, panggilan akrabnya, museum topeng itu nanti tak hanya sebagai media konservasi tapi juga edukasi. Continue reading “Prayitno, Mewujudkan Museum Topeng Indonesia”

Ketika Pecandu Narkoba Akhirnya Aksi

Setelah ngomong2 sejak lima bulan lalu, akhirnya aksi demo pun dilakukan ke Kejaksaan Negeri Denpasar dan Pengadilan Negeri Denpasar Kamis kemarin. Ikatan Korban Napza (IKON) Bali menuntut agar hakim tidak lagi menjatuhkan vonis hukuman penjara bagi pecandu narkoba. Sebab, nyatanya penjara memang bukan jawaban. Di dalam penjara, pecandu makin mudah dapat heroin dan narkoba jenis lain.

Demo kemarin mungkin bukan hal luar biasa. Massa sekitar 40 orang. Tuntutan penghapusan vonis penjara. Tujuan PN dan Kejari Denpasar. Orasi. Nyanyi2. Tidak ada yg istimewa. Continue reading “Ketika Pecandu Narkoba Akhirnya Aksi”

Perempuan di Sarang Penasun [8]

***

Toh, dengan semua masalah itu, usaha Yeni dan PL NEP Yakeba lain termasuk berhasil. Indikator paling jelas adalah makin banyaknya jumlah klien NEP Yakeba. Bulan pertama program berjalan ada 42 penasun dijangkau. Juni lalu ada 359 penasun klien NEP Yakeba. Sebagian klien juga ikut voluntary conselling testing (VCT) atau konseling dan tes secara sukarela. Bulan pertama hanya lima klien ikut VCT di Yakeba. Hingga Juni lalu sudah 63 orang ikut VCT, 58 di antaranya tes HIV. Hasilnya 28 penasun positif HIV. Continue reading “Perempuan di Sarang Penasun [8]”

Perempuan di Sarang Penasun [7]

***

Kecurigaan tetangga hanya satu masalah Yeni sebagai PL NEP. Dia pernah pula ditegur pimpinan PRM Sandat karena lokasi penjangkauannya terlalu dekat, bahkan sempat masuk areal terapi. Sebagian klien PRM Sandat kadang-kadang memang masih pakai heroin (occasional). Jarumnya mereka dapat dari PL NEP di situ termasuk Yeni. Karena Yeni satu-satunya PL NEP yang juga klien methadone, maka dia yang kena getah paling parah. Dia dipanggil pimpinan PRM Sandat dan diminta agar tidak lagi membagi jarum di lingkungan tersebut. Continue reading “Perempuan di Sarang Penasun [7]”

Perempuan di Sarang Penasun [6]

***
Ngobrol santai lebih sering dilakukan saat klien mengembalikan jarum. Misalnya Yeni mengajak klien ikut kelompok dampingan sebaya (KDS) atau client meeting. Atau kalau sudah tahu statusnya positif diajak Positive Chat. Bahan obrolan kadang termasuk soal keluarga atau pasangan. “Biar pun statusnya ODHA, mereka terbuka. Masalahnya cuma lingkungan keluarga atau rumah masih ada yang belum bisa nerima sepenuhnya,” tambahnya. Continue reading “Perempuan di Sarang Penasun [6]”

Cerita Puputan Tanpa Kesimpulan

-tulisan terakhir di GATRA, meski buatnya sudah sejak akhir September lalu-

Buku tentang Puputan Badung dari persepektif Belanda dan Bali. Tanpa kesimpulan jadi pilihan mengambang.

Peringatan seabad perang antara Belanda dan kerajaan Badung diperingati di Denpasar, Bali Rabu pekan lalu. Ribuan orang mengiringi arak-arakan Gerebek Aksara sepanjang sekitar 100 km dari Karangasem ke Denpasar. Selain mengarak benda-benda pusaka, termasuk buku Sutasoma dan Negara Kertagama, juga ada parade kerajaan-kerajaan nusantara. Perang yang dikenal dengan nama Puputan Badung itu dikenang sebagai salah satu peristiwa besar, setidaknya bagi warga Denpasar.

Meski dianggap peristiwa besar, catatan sejarah tentang perang pada 20 September 1906 itu termasuk kurang. Kalau toh ada, berupa bahasa Belanda atau geguritan Bali dan Jawa kuno, bahasa yang susah dimengerti sebagian besar orang Bali saat ini. Maka, peneliti sejarah Bali University of Queensland Australia Helen Creese, guru besar Sejarah Asia Erasmus University Rotterdam Belanda Henk Schulte Nordholt, dan dosen Fakultas Sastra Universitas Udayana Bali Darma Putra menghimpun bahan-bahan tentang Puputan Badung dalam satu buku. Buku itu diluncurkan sehari sebelum puncak peringatan seabad Puputan Badung.

Continue reading “Cerita Puputan Tanpa Kesimpulan”

Data Saja Salah, Gimana Pembangunannya?

Udah lama aku pengen nulis panjang tentang Kuta. Tema tentang Kuta ini sama halnya dengan tema kemiskinan di Bali. Niatnya udah lama, tapi liputannya di kepala terus. Tak pernah reportase atau cari bahan. :))

Lalu minggu ini ide liputan tentang Kuta itu muncul lagi. Ada beberapa pemicu. Pertama karena September ini akan ada Kuta Karnival, perayaan -atas apa ya?- di Kuta. Agendanya dua tahun lalu ada pawai bersama, macam-macam lomba, dst. Kedua, Oktober nanti pasti akan ada peringatan peledakan bom di Kuta. 12 Oktober 2002 lalu teroris Amrozi dkk meledakkan bom di Kuta. Aku pikir peringatan bom 12 Oktober bisa jadi momentum untuk nulis soal Kuta.

Continue reading “Data Saja Salah, Gimana Pembangunannya?”