Rebo, Ironi Lapangan Golf Itu

Seorang teman pernah bilang bahwa tidak ada yang bernama kebetulan. Semuanya sudah terhubung satu sama lain tanpa kita sadari. Ada sesuatu yang mengatur itu semua di luar kehendak kita. Kadang aku percaya, kadang tidak. Tergantung situasi dan kondisi saja. 😀

Setelah aku ngobrol dengan Pak Wayan Rebho hari ini, aku percaya dengan itu. Entah esok hari, entah lusa nanti. (Kok kayak lagu Iwan Fals. Hehe). Sore tadi aku liputan tentang petani di kawasan Bali Pecatu Graha (BPG) Kuta Selatan. Proyek besar milik Tommy Soeharto itu dibangun sejak 1996 dan sempat terhenti akibat krisis ekonomi 1997 dan diikuti kemudian jatuhnya Soeharto pada 1998.

Continue reading “Rebo, Ironi Lapangan Golf Itu”

Hilang Jatah, Gundullah Kepalaku

Pan Belog pun ingkar janji. Selesai Nyepi lalu dengan sangat yakin dia bilang akan rajin cerita tentang hal-hal yang dia alami padaku. Kalau tidak salah sih dia bilang cerita itu pengennya dimuat setiap Sabtu atau Minggu di blogku atau di balebengong.net. Ternyata pekan ini dia telat. Padahal, dia sudah merasa diri seperti Goenawan Mohamad yang punya Catatan Pinggir tiap edisi di Majalah Tempo. Atau, ya setidaknya, sama dengan Sudira alias Aridus penulis tetap rubrik Obrolan Bale Banjar di Bali Post Minggu yang obrolannya lebih mirip obrolan mahasiswa S3 daripada di bale banjar karena saking tinggi dan beratnya tulisan di sana. Hehe..

But, ya begitulah. Pan Belog bisanya hanya mencela orang. Padahal dia sendiri nulis pun enggan, atau jangan-jangan malah tidak bisa sama sekali. Hihihi..

“Tidak mau tidaklah berarti tidak bisa,” kelitnya.

Continue reading “Hilang Jatah, Gundullah Kepalaku”

Gaya Bicara Pastika, Sueta, dan Winasa

Sabtu (15/3) lalu aku bantuin Pers Mahasiswa Akademika untuk jadi moderator seminar yang mempertemukan tiga bakal calon (balon) gubernur Bali. Diskusi ini dilaksanakan dalam rangka ulang tahun lembaga pers mahasiswa di Universitas Udayana Bali tersebut. Sebagai alumni yang baik dan berbakti (hehehe) maka aku pun mengiyakan meski aku grogi bukan kepalang.

Bagaimana tidak grogi. Ini kali pertama aku jadi moderator diskusi politik yang serius banget. Biasanya kan lebih banyak diskusi sama temen-temen LSM yang suasananya jauh lebih cair dan santai. Selain itu, setahuku ini kali pertama para bakal calon itu ada di satu meja untuk ”debat terbuka” terkait pencalonan mereka.

Hal lain yang membuatku grogi banget kemarin itu karena kadang-kadang aku ini suka ngomong nglantur atau becanda yang kelewatan. Takut saja gara-gara candaan itu lalu pendukung bakal calon akan macem-macem ke aku. *Hehe, dasar aku memang paranoid soal beginian.*

Continue reading “Gaya Bicara Pastika, Sueta, dan Winasa”

Selamat Datang Kemenangan Bobotoh

Kekuasaan memang menyilaukan. Maka, tidak peduli harus menelan ludah sendiri, para calon gubernur Bali pun kini bergandeng mesra dengan bebotoh. Tapi yang paling memalukan bagiku memang Made Mangku Pastika. Aku heran saja baca tulisan di Bali Post bahwa dia akan merangkul para bebotoh, orang yang suka main adu ayam alias tajen ini.

Ini bener-bener mengagetkanku. Setahuku pas zaman jadi Kapolda Bali, Ketua Tim Investigasi bom Bali ini adalah orang yang paling kenceng memerangi tajen. Salah satu yang aku ingat adalah ketika dia mendatangi tempat tajen paling tersohor di Denpasar di daerah Yangbatu. Wih, sampai ada satu orang yang mati ketika tajen dibubarkan polisi.

Continue reading “Selamat Datang Kemenangan Bobotoh”

Nyepi Kok Malah Liburan

Nyepi tinggal tiga hari. Tahun ini kebetulan Nyepi pas hari Jumat. Seingetku ini sudah yang kesekian kali Nyepi barengan dengan Jumatan. Unik aja sih. Jadi meski yang Hindu melaksanakan Nyepi, yang muslim tetep bisa Jumatan. Ini pengalaman yang asik bagiku tentang bagaimana saling menghargai di tengah perbedaan. Malah kadang-kadang yang Jumatan itu ada yang sok-sokan seperti Hendro. Jadi mumpung bisa keluar pas Nyepi, dengan ajum-nya dia tidur di tengah jalan. Hehe..

Sebenarnya aku pengen Nyepi keluar Bali. Tidak tahu kenapa pengen banget main ke Alas Purwo, Banyuwangi. Rasanya asik saja menembus hutan itu naik Landrover nyebur lumpur seperti tiga tahun lalu. Kalau tidak ke Banyuwangi bolehlah melali ke Lombok menikmati ayam bakar taliwang. Tapi sayangnya niat hanya jadi niat. Keinginan ini ditunda saja deh dulu. Nanti kalau Bani sudah gede saja jalan-jalan lagi. Syukur-syukur jadi ke Bandung.

Continue reading “Nyepi Kok Malah Liburan”

Akhirnya BBC Launching Juga

Ya, akhirnya Bali Blogger Community launching juga petang tadi. Meski ada beberapa hal yang tidak sesuai harapanku, namun secara umum, launching tadi memuaskan. Mungkin malah lebih.

Ada beberapa hal memang yang tidak sesuai harapan. Misalnya master of ceremony alias pembawa acara. Jauh-jauh hari aku sudah minta tolong Bonar, teman penyiar di Hard Rock FM, untuk jadi MC. Teman sejak zaman miskin moral ini awalnya sudah oke. Eh, seminggu menjelang hari H, dia bilang ternyata tidak bisa. Soale dia harus jadi MC di audisi Indonesian Idol. Ya, piye maneh. Jelas saja dia tidak bisa jadi MC di launching. Sempat cari beberapa orang lain, tapi ternyata susah juga.

Continue reading “Akhirnya BBC Launching Juga”

Nak Jawa Belajar Bahasa Bali

Nyempal dikit dari tulisan bersambung soal perjalanan ke Flores. Tiba-tiba aku pengen nulis soal bahasa.

Jawa dan Bali itu memiliki karakter yang tidak jauh beda. Misalnya soal feodalisme. Menurutku keduanya memiliki budaya yang bertingkat-tingkat dalam interaksi, termasuk soal bahasa. Kalau di Jawa, terutama Mataraman alias Jawa Timur bagian barat daya dan Jawa Tengah bagian selatan serta Yogyakarta, masyarakatnya mengenal tingkatan dalam bahasa, maka begitu pula Bali. Berbicara dengan orang yang lebih tua harus menggunakan tingkat bahasa lebih halus dibanding dengan bahasa untuk orang yang sepantaran.

Setahuku ini berbeda dengan bahasa Melayu atau bahasa Indonesia yang tidak ada tingkatan bahasanya. Jadi kita bisa menggunakan bahasa yang sama untuk siapa saja dengan bahasa Melayu.

Continue reading “Nak Jawa Belajar Bahasa Bali”

Ubud organic market needs more space

Features – January 31, 2008

Anton Muhajir, Contributor, Denpasar

The front yard of Pizza Bagus in Pengosekan, Ubud, was bustling with activity one recent morning.

Vendors had transformed the cramped yard into Ubud’s first organic market. Buyers carefully scoured piles of various organic food products, from fruits and vegetables to bread, honey, and ice cream.

Dutch national Edith van Walsum, a mother of two children, said shopping the organic market was quite exciting.

Continue reading “Ubud organic market needs more space”

Inclusive ashram open to all religious traditions

Features – January 24, 2008

Anton Muhajir, Contributor, The Jakarta Post, Karangasem

Students of Ashram Gandhi Candi Dasa in Karangasem regency, Bali, have to practice their spiritual beliefs amid the constant noise produced by the bars, restaurants and cafes that are located just a few meters away from the ashram building.

The 2008 New Year’s celebrations showed just how difficult the situation could become for them.

While others celebrated the end of the year by partying, the 13 students of Ashram Gandhi sat cross-legged, trying to enjoy a moment of silence, while embracing the coming of the new year.

They chanted the holy mantrams (Hindu’s traditional prayers) by heart. They tried hard to act as if they were not aware of the festivities outside.

The year may change but not the students and the ashram.

Established in 1976 by prominent spiritual Balinese figure, Gedong Bagoes Oka, Ashram Candi Dasa — located in a part of Bali popular with tourists — is now the headquarters for two other ashrams: the Ashram Gandhi Vidyapith Denpasar, which was established in 1996 and the Ashram Gandhi Vidyapith Yogyakarta, established in 1997.

Ibu Gedong, as she was familiarly known, was an ardent activist for interfaith dialogue activities.

Many of Indonesia’s well-known religious figures came to the ashram when Ibu Gedong was running the place. Former president Abdurrahman Wahid, or Gus Dur, was one of the frequent attendees.

Even though an ashram is meant to be a place to learn about Hinduism, Ibu Gedong imposed a totally different set of rules, permitting others with different religions, or sometimes also people with no religions, to learn and live in the ashrams.

Besides religious teachings, the ashrams have also taught other skills needed in life, such as embroidery, craftsmanship and farming.

I Nyoman Sadra took the lead over the ashrams after Ibu Gedong passed away in 2002. He was one of Gedong’s first batch of students and also a former member of the Sarvodaya International Trust, a Bangalore-based international organization that aims to follow Gandhi’s way of life.

Sadra has also acknowledged that not all the students come to the ashram for spiritual reasons. Many of them do so simply because they cannot afford to go to school.

I Ketut Dharma Saputra is one of them. The 15-year old is the son of a poor farmer from Gianyar. His neighbor brought him to the ashram after hearing the ashram provided free schooling for its students. Ashram Gandhi gives educational assistance to all the 13 students who live in the ashram.

“We give them educational assistance from junior high school to university,” Sadra said.

He added that they had also built a kindergarten, which now has around 30 students. The learning process continues after school as these students still have to learn and practice spiritual and religious subjects in the ashram at night.

“It feels very awkward at first, but we learn to live with it,” Dharma commented on the obligation for students to practice religious teachings.

Unlike their peers, who are spoiled by television, Play Station and junk food, these teenage students eat no meat and must practice a modest way of life.

But life, however modest, requires money.

This fact has created confusion for Sadra as the ashram has no fixed income. The ashram has chosen not to get directly involved in the commercial world and this fact leaves them with no choice but to rely on donations and the savings accumulated during Ibu Gedong’s lifetime.

“Actually we have eight cottages that function as tourist accommodation in the compound, but since we don’t offer anything but a tranquil atmosphere, tourists rarely pick this place,” he said.

He realized that relying on the savings was not the best choice because the momentum of life at the ashram would flag once it was gone.

“I don’t want to beg for donations simply because Ibu Gedong did not do that,” Sadra said.

Published in The Jakarta Post