Bali is Like a Home

“So, how was your impress about Bali? Is it like what you’ve thinked before?” kataku.

“Ya, ya. It’s absolutely different. I was travelled around some places. I went to India, Srilanka, Ghana. But, Bali is different. I don’t know how. In Bali i feel like coming home,” katanya.

*obrolan dengan basa Inggris ala kadarnya di mobil dalam perjalanan ke Ubud pagi tadi dengan Bu Edith, bos dari tempat kerja part time*

Rwa Bhineda di Pulau Dewata

Tadi siang ada diskusi kecil dengan Win, semeton blogger Bali yang lagi studi di Pittsburgh, Amrik sono. Obrolan via Yahoo Messenger ini bermula dari tulisan dia di blognya soal kekerasan di Bali. Win mempertanyakan apakah orang Bali sudah berubah sehingga sudah demikian akrab dengan kekerasan?

Pemicu pertanyaan itu adalah tawuran di Kuta pas tahun baru lalu. Pas pergantian tahun itu, dua orang tewas akibat tawuran di salah satu kafe. Sebatas yang aku baca di media lokal, hanya disebut tawuran. Tapi Jun, teman wartawan The Jakarta Post, menyebut itu sebagai tawuran antar-preman.

Continue reading “Rwa Bhineda di Pulau Dewata”

Mengawali Tahun dengan Puja

Puja pagi mengawali tahun baru 2008. Ketika hari masih gelap dan orang-orang mungkin masih terlelap, kami duduk bersila di ruang belakang gedung pertemuan. Bale puja yang biasa digunakan untuk berdoa agak basah karena hujan yang mengguyur semalam. Udara pun masih lembab. Dingin.

Sekitar 15 menit sebelumnya aku sudah ke tempat itu. Kadek Dian, koordinator murid-murid di ashram, semalam bilang puja pagi akan dimulai pukul 5. Tapi ketika aku ke sana pukul 5 pagi itu, belum ada satu orang pun. Aku lalu kembali ke kamar ashram di lantai dua gedung Taman Kanak-kanak. Aku kembali merebahkan badan, menarik selimut, lalu berbaring sambil melihat Bani dan Bunda di kasur sebelahku.

Continue reading “Mengawali Tahun dengan Puja”

Kampanye Nyepi Melalui Dunia Maya

Hiruk pikuk Konferensi Tingkat Tinggi (KTT) tentang Perubahan Iklim sudah berlalu pertengahan Desember lalu. Selain jadi tuan rumah yang baik, keberhasilan Bali lainnya di konferensi yang diikuti sekitar 10 ribu peserta dari 189 negara itu adalah masuknya kampanye World Silent Day sebagai salah satu upaya untuk mengurangi emisi penyebab perubahan iklim.

Pertanyaannya kemudian, setelah UNFCCC lalu apa? Bagaimana meneruskan kampanye World Silent Day, yang bersumber dari pelaksanaan Nyepi di Bali, pada tingkat lebih global?

Continue reading “Kampanye Nyepi Melalui Dunia Maya”

Bukan Hak Jawab, Harap Diposting

Masih soal tulisan Ada Uang Anda Masuk Koran. Hari ini ada email masuk ke inbox-ku mengomentari tulisan tersebut. Pengirimnya Retno Endah Kadarwati Sadar Retno. Aku tidak tahu hubungan Bu Retno ini dengan Bali Post atau Kelompok Media Bali Post. Dia juga tidak menyebut hubungannya dengan Bali Post. Namun dari isi emailnya, sepertinya Bu Retno ini bekerja di sana.

Aku tidak mengedit tulisan itu. Hanya memilah beberapa paragraf karena terlalu gemuk. Selebihnya tidak ada sama sekali yang berubah.

Continue reading “Bukan Hak Jawab, Harap Diposting”

Nyepi Sehari untuk Mengurangi Emisi

Mari melihat Nyepi sebagai kearifan lokal untuk memberi bumi sejenak beristirahat. Meski hanya sehari, itu jelas sangat berarti. Maka, marilah dukung usaha agar Nyepi bisa jadi momen internasional meski tidak harus serempak, meski tidak harus ala Bali.

Mari melihatnya dari sudut pandang bumi yang kian letih. Usaha ini pula yang dilakukan melalui delegasi resmi kawan-kawan NGO Bali maupun kelompok lain di KTT Perubahan Iklim di Nusa Dua Bali yang sedang berlangsung. Ini pula yang kawan-kawan teriakkan pada Parade Budaya 8 Desember lalu.

Continue reading “Nyepi Sehari untuk Mengurangi Emisi”

Namanya Saja Penggembira. Jadi ya..

Setelah Republik Mimpi selesai, ribuan orang itu seperti sudah tidak sabar lagi. Mereka segera beranjak dari wantilan DPRD Bali, meski kelompok Krishna Balaram sedang bersiap-siap dengan musiknya.

Sabtu sore itu, sekitar pukul 13.30 Wita, suasana makin hiruk. Aktivis LSM, petani, nelayan, korban lumpur Lapindo, mahasiswa, pelajar, buruh, pemuda, tokoh agama, masyarakat adat, dan banyak lagi. Semuanya tumplek blek di halaman DPRD Bali di daerah Renon.

Continue reading “Namanya Saja Penggembira. Jadi ya..”

Bali Serasa Darurat Militer

Konferensi PBB tentang perubahan iklim (UNFCCC) resmi dibuka hari ini di Nusa Dua. Ini narasi besar tentang pemanasan global. Dan, yang terjadi di lapangan hanyalah ketidaknyamanan.

Aku mulai merasakannya minggu-minggu ini. Paling terasa sih di Sanur pas habis mandi di pantai sama anak istri kemarin. Agak aneh juga melihat polisi bersenjata lengkap berdiri siaga menghadap ke jalan di perempatan Jl Hang Tuah – Jl By Pass Ngurah Rai. Bukannya ini tempar bersantai. Tapi kok polisi bermuka serem itu berdiri dengan tegaknya di sana? Bagiku sih tidak menimbulkan rasa nyaman, malah sebaliknya: perasaan seperti terancam.

Continue reading “Bali Serasa Darurat Militer”

Ada Uang, Anda Masuk Koran

Oke. Oke. Akhirnya toh aku harus menulis juga soal “dosa-dosa” Bali Post di mataku. Ingat, ini di mataku. Belum tentu di mata orang lain. Pikiran soal ini sudah lama banget. Tapi aku tahan-tahan terus. Ya jelas saja karena tidak enak hati dan tidak berani. Lha wong Bali Post gitu loh..

Tapi lama-lama aku takut jadi bisul di otak lalu meledak -hahaha- kalau disimpen terus. Makanya yowislah. Ditulis saja. Kata orang bijak, kebenaran tetap harus disampaikan meski menyakitkan. -Hatjing!-Jadi ya aku tulis saja.

Continue reading “Ada Uang, Anda Masuk Koran”

Selamat Datang Dua Stasiun TV Baru

Aha, akhirnya siaran juga. Malam ini aku lihat Jimbarwana TV sudah siaran di UHF 51. Di pojok kanannya masih ada tulisan Siaran Percobaan. Tapi meski masih percobaan, siarannya oke juga. Pas aku nonton pukul 19.30an tadi acaranya Indonesian Hits. Ada Slank, Repvblik, dan Kangen (ehm!).

Kelar lagu mellow dari Kangen Band ganti acara Ilen-Ilen. Tidak terlalu jelas soal apa acara ini. Pas aku nonton sih ada Lolak dan Bogler (?) lagi nglawak di pentas. Mirip acara Agustusan. Lawakannya asik. Setidaknya bisa mengimbangi Extravaganza di Tran TV. Cuma ya namanya TV punya Pemkab Jembrana, jadi ya isinya sebagian nyanjung-nyanjung bupati Jembrana Gede Winasa. Jimbarwana TV memang punya Pemkab Jembrana yang sekarang dipimpin bupati Gede Winasa.

Continue reading “Selamat Datang Dua Stasiun TV Baru”