Child workers fly under official radar

Thu, 10/30/2008 10:32 AM  |  Surfing Bali

Cenik is just one of many child laborers in Bali. Her life reflects the hardships these children must endure and survive.

Ni Putu Suartini, a member of the island’s Commission for the Protection of Children (KPAI), said the child tukang suun of Peken Badung had never received their basic rights — the right to proper education and the right to healthcare services.

The 2002 Law on the Protection of Children stipulates that children under the age of 18 have the rights to healthcare services, social security, education and play and recreational activities.

Continue reading “Child workers fly under official radar”

Drought, poverty haunt Kubu village

Anton Muhajir, Contributor, Denpasar | Thu, 10/23/2008 10:58 AM | Bali

It was a scorching hot day in Bal, a hamlet in Kubu, one of the poorest villages in Bali. The wind that swept past the village brought nothing but dry dust.

Seventeen-year-old Wayan Teken scooped water from a pond in front of his house with a pail. It was a shallow pond. The water was opaque in color and littered with dried leaves and other garbage. Teken, however, drank the water without hesitation.

Continue reading “Drought, poverty haunt Kubu village”

Mengenal Kuta dari Sudut Berbeda

“Tidak terbayang kalau tidak ikut field trip,” kata Eka Darma Saputra, anggota Bali Blogger Community (BBC) ketika kami sedang di areal Pura Dalem Celuk Waru siang tadi. Senang juga mendengar komentar Eka, mahasiswa Fakultas Kedokteran Hewan (FKH), itu. Sebab itu berarti ada gunanya juga bikin kegiatan Blogger Day Out, jalan-jalan ala blogger ini.

Blogger Day Out adalah kegiatan BBC dalam rangka Kuta Karnival. Sekitar 15 blogger lain juga ikut kegiatan pada Sabtu (18/10/08) ini. Jalan-jalan ala blogger ini berawal dari keinginan BBC untuk turut serta dalam kegiatan Kuta Karnival. Ya, sekali-kali mendukung pariwisata Bali lah.

Continue reading “Mengenal Kuta dari Sudut Berbeda”

Muslim village, Balinese culture

Anton Muhajir, Contributor, Buleleng | Thu, 09/25/2008 1:07 PM | Surfing Bali

Night descended slowly on Pegayaman, a village nestled in a hilly region in the southern part of Buleleng. The quiet ambience was gradually filled with the noise of people getting ready to break their fast.

Groups of children walked along the village’s dusty main road. In their hands were plastic bags filled with cakes and fruits. They chatted animatedly as they delivered the plastic bags to the homes of their relatives and neighbors.

Continue reading “Muslim village, Balinese culture”

'Nyenggol' tradition enlivens Ramadhan at Pegayaman

Anton Muhajir, Contributor, Buleleng | Sat, 09/20/2008 11:36 AM | Bali

After breaking fast and conducting evening prayer, Nyoman Alvin Gautama, 7, and his sister Made Eva Nadya, 12, hurriedly left their house, carrying with them their precious merchandise.

It was a large sheet of white paper upon which the two kids had fastened various candies, crackers, sachets of instant powdered drinks — things that children would love to get their hands on.

Continue reading “'Nyenggol' tradition enlivens Ramadhan at Pegayaman”

Aneka Rupa Judi di Bali

“Waah, angka yang keluar pasti sapi nih,” kata satu ibu tetanggaku Jumat lalu. Celetukan itu keluar ketika kami mengerubungi sapi yang masuk sumur di gang kami. Kami tertawa mendengarnya.

Celetukan itu mengingatkanku lagi soal ideku untuk menulis soal banyaknya judi di Bali. Soale ini memang agak mengusik pikiran. Setahuku, judi di Bali memang buanyak sekali. Inilah jenis-jenis judi yang aku tau di Bali.

Continue reading “Aneka Rupa Judi di Bali”

Mengunjungi Petani Kopi di Kintamani

Dari tiga tempat lain yang dikunjungi peserta partner meeting VECO Indonesia Selasa ini, aku pilih ke petani kopi di Kintamani. Sebab dua tempat lain, pengolahan kakao di Selemadeg Tabanan dan petani sayur di Pancasari Bedugul, aku sudah pernah kunjungi. Dan, menurutku, perjalanan ini memang sangat menarik.

Kunjungan lapangan ke tiga tempat ini merupakan bagian dari agenda partner meeting VECO Indonesia, tempat di mana aku kerja paruh waktu. Pertemuan mitra tahunan ini diadakan di Lovina antara 24-28 Agustus ini. Pada hari ketiga pertemuan, sekitar 90 peserta itu dibagi jadi tiga kelompok untuk berkunjung ke tiga lokasi. Aku pilih yang ke Kintamani karena aku belum pernah ke sini.

Continue reading “Mengunjungi Petani Kopi di Kintamani”

Berbagi Jotan Saat Galungan

Met Galungan

Sekitar pukul 7 pagi ini. Saya beserta anak dan istri masih lagi asik main di dapur untuk bikin sarapan. Gede Santika, tetangga kami, sudah mengetuk pintu gerbang rumah. Saya beranjak keluar membuka pintu. Menemuinya.

Gede, murid kelas II SMP yang hampir tiap hari main di ruangan depan rumah kami seperti sebagian besar anak di gang kami, sudah berpakaian adat madya. Berbaju safari dengan bawahan kamen (sarung) dan udeng di kepala. Dia membawa jotan untuk kami.

Continue reading “Berbagi Jotan Saat Galungan”

Ketika Pariwisata Mengalahkan Mereka

Atas nama apa pun, pembangunan selalu melahirkan korban. Begitu juga pariwisata Bali. Di antara gemerlapnya, ada juga suara-suara rintihan mereka yang kalah.

I Wayan Rebo salah satunya. Atas nama pembangunan lapangan golf dan fasilitasnya, petani di kawasan Bukit Pecatu, Kuta Selatan ini harus terusir dari tanahnya sendiri. Dua kali dia masuk penjara karena dianggap melawan Negara. Dia menolak menjual tanahnya. Maka, Rebo dianggap mengkhianati pariwisata, yang sudah kadung jadi mantra sakti di Bali.

Continue reading “Ketika Pariwisata Mengalahkan Mereka”