Berharap Kualitas pada Pers Mahasiswa

0 , , Permalink 0

Media terbitan pers mahasiswa Universitas Jember

Pagi ini aku harus meralat omongan semalam.

Tadi malam, di depan sekitar 70 pegiat pers mahasiswa dari berbagai kota di Indonesia, aku bilang betapa susahnya menemukan tulisan-tulisan bagus dari media mahasiswa.

Pernyataan itu sekadar contoh penilaian sekilas terhadap kualitas anggota ataupun pers mahasiswa. Kebetulan pengurus Perhimpunan Pers Mahasiswa Indonesia (PPMI) mengundangku berbagi pengalaman tentang mengelola media komunitas dalam rapat pimpinan nasional mereka.

Selain berbicara tentang jurnalisme warga dan media komunitas, tentu saja juga ada obrolan tentang media mahasiswa. Maka, muncullah pendapatku tentang susahnya menemukan karya pers mahasiswa yang berkualitas itu.

Konteksnya begini. Aku kadang-kadang diminta teman wartawan di Jakarta jika mereka butuh jurnalis atau koresponden baru di Bali. Ada dua atau tiga kali aku pernah diminta.

Tiap kali itu pula, aku bingung menjawabnya. Aku ingat-ingat siapa ya kira-kira anggota pers mahasiswa di Denpasar yang bisa aku rekomendasikan. Jawabannya, tidak ada. Acuanku biasanya pada apakah aku kenal atau tidak dengan mereka terutama karya-karyanya.

Aku memang memberikan contoh kasus di Denpasar, Bali. Belum tentu kasus serupa terjadi di kota-kota lain. Dan, ternyata benar.

Semalam setelah diskusi, panitia memberikan satu tas media-media terbitan pers mahasiswa Universitas Jember. Media-media ini formatnya majalah. Ada ukuran A4, ada juga A5. Tahun terbit bervariasi antara 2011 hingga 2016.

Mereka antara laib Ecpose terbitan Fakultas Ekonomi, Plantarum terbitan Fakultas Pertanian, IDEAS terbitan Fakultas Sastra, dan Tegal Boto terbitan lembaga pers mahasiswa tingkat kampus.

Pagi ini aku baru membaca media-media itu meski hanya sekilas.

Setelah membaca sekilas artikel beberapa media tersebut, aku harus meralat omonganku sendiri tadi malam. Tulisan-tulisan mereka ternyata keren sekali.

Setidaknya ada dua alasan, dari sisi tema dan kualitas tulisan.

Dari sisi tema-tema, media-media pers mahasiswa ini lebih banyak mengulas topik-topik yang memang belum banyak dibahas media arus utama. Tentang kelompok difabel, korban pelanggaran hak asasi manusia (HAM), sub-etnik di kawasan Besuki, petani tembakau, atau komunitas Kristen di Lumajang, Jawa Timur.

Ini menarik. Media-media pers mahasisaw ini bisa mengangkat topik-topik lokal namun tetap relevan untuk publik lebih luas.

Dua contoh yang menarik bagiku adalah soal komunitas Pandhulungan, sub-etnik campuran Madura dan Jawa di daerah Lumajang, Probolinggo, Jember, Situbondo, dan Bondowoso. Alpha, media mahasiswa Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alama (FMIPA), membahasnya dengan menarik.

Contoh topik lain yang menurutku menarik adalah soal komunitas Kristen di Lumajang itu. Aku pun baru tahu. Ternyata ada desa bernama Tunjungrejo, Kecamatan Yosowilangun, Lumajang dengan 99 persen penduduk beragama Kristen. Ini tidak hanya menarik tapi juga relevan ketika intoleransi makin menjadi-jadi di negara ini.

Dari sisi kualitas, mereka juga keren. Tulisan-tulisan di media mahasiswa ini panjang, bagus, lengkap, dan yang paling penting, MEMIHAK!

Salah satu karya terbaik dari enam media mahasiswa yang aku baca adalah Laporan Utama Majalah IDEAS tentang para pengungsi Syi’ah di Sampang, Madura. Dua penulisnya, Kholid Rafsanjani dan Nurul Aini, menulis hingga 20 halaman dengan gaya bertutur yang enak sekali dibaca.

Ketika masih di pers mahasiswa Akademika, rasanya aku pun belum bisa membuat karya sebagus itu.

Sebagian karya di majalah lain yang aku baca pun sama bagusnya. Detail. Penuh data dan angka. Gaya tutur mengalir tentang kelompok-kelompok rentan.

Membaca tulisan-tulisan mahasiswa Jember ini, rasanya bisa deh berharap bahwa kualitas karya pers mahasiswa memang masih bisa keren dan berbeda dibanding media arus utama. Semoga saja.

0 Comments

Leave a Reply

Your email address will not be published.