Berdaya dengan Jurnalisme Warga

Dalam waktu sekitar 15 jam, anak autis yang hilang itu pun ditemukan.

Ryan, anak laki-laki berusia 10 tahun yang tidak bisa bicara itu, ditemukan di Bandara Ngurah Rai, Denpasar pada Selasa, 3 Juni lalu. Sehari sebelumnya, dia kabur dari rumahnya dengan naik sepeda.

Kabar hilangnya Ryan berawal dari pesan di media sosial maupun layanan pesan singkat (instant messenger). Informasi beredar di Facebook, Twitter, BBBM Group, dan Whatsapp Group. Aku tahu pertama kali justru dari Mbak Ivy Sudjana di group Whatsapp Bali Blogger.

BaleBengong, media jurnalisme warga di Bali, turut menyebarkan informasi itu lewat akun twitter @BaleBengong. Pada sore dan malam hari sebelumnya, belum ada respon apapun.

Namun, esok paginya, @BaleBengong kembali berkicau mengabarkan Ryan belum ditemukan. Berselang sekitar 30 menit kemudian, salah satu pengguna Twitter @OgekKupit menjawab twit tersebut. Dia menyertakan foto si anak hilang itu.

Setelah dicek ke orang tua si anak hilang, ternyata benar. Anak yang tak bisa bicara di Bandara Ngurah Rai, berjarak sekitar 15 km dari rumahnya, tersebut adalah Ryan.

“Media sosial membantu menemukan anak saya, karena ada yang peduli dan memerhatikan informasi kehilangan ini,” ujar Mursiana, orang tua Ryan.

Media jurnalisme warga, meskipun pasti bukan satu-satunya, berperan untuk menemukan Ryan. Tapi, kasus itu menarik karena menunjukkan bagaimana warga berbagi dan berdaya melalui jurnalisme warga seperti BaleBengong.

BaleBengong, media jurnalisme warga di Bali mulai sejak 4 April 2007 lalu. Portall ini bermula dari nebeng layanan gratis Blogspot milik Google sebelum berdiri dengan domain sendiri di BaleBengong.net

Di portal tersebut, hingga saat ini sekitar 300 kontributor berbagi tulisan dan foto. Kontributor datang dari beragam latar belakang seperti jurnalis, aktivis, dosen, ibu rumah tangga, mahasiswa, desainer, programmer, dan lain-lain.

Seiring maraknya media sosial seperti Facebook dan Twitterm, BaleBengong pun mulai aktif menggunakan saluran informasi tersebut. Namun, dalam penggunaan sehari-hari, Twitter jauh lebih baik dibandingkan di Facebook Page ataupun Group. Bisa jadi karena karakter penggunaan Twitter memang lebih cepat dan ringkas.

Melalui penyedia layanan pesan 140 karakter ini pula para warga terlihat jauh lebih aktif dibandingkan di portal. Sekitar 24.000 follower @BaleBengong aktif berbagi informasi, pandangan, pertanyaan atau sekadar curhat tentang apa saja yang terkait dengan Bali.

Diskusi dan interaksi ini menarik karena memperlihatkan bagaimana warga bisa saling berbagi melalui media semacam BaleBengong. Di sana ada pula diskusi yang sesekali bahkan cenderung panas. Warga aktif mengendalikan dan membagi informasi yang mereka miliki, sesuatu yang tidak ada di media arus utama.

Melalui media jurnalisme warga, warga (dunia maya) berdaya atas informasi itu sendiri. Tak hanya pasif menerima layaknya di media arus utama tapi juga bisa memproduksi dan menyebarluaskan informasi mereka sendiri.

Dalam konteks berbeda, media jurnalisme warga ini juga membentuk sikap kritis pada warga (di Bali). Dulu, warga Bali terkenal dengan kebiasaan koh ngomong atau malas ngomong. Kini, melalui media jurnalisme warga seperti BaleBengong, mereka bisa bebas menyampaikan apa saja.

No Comments Yet.

Leave a Reply

Your email address will not be published.