Belajar dari (Pariwisata) Vietnam Menangani Virus Corona

0 Permalink 0

Pagi ini ada berita tentang sembuhnya orang-orang positif virus korona di Vietnam.

Berita itu bersumber dari Jawa Pos daring. Menurut berita tersebut, 16 pasien positif virus corona di Vietnam telah dinyatakan sembuh dari Covid-19, nama resmi penyakit akibat virus corona tersebut. Mereka sebelumnya sudah dirawat selama 15 hari terakhir.

Kabar baik itu mengingatkan pada pengalaman kami selama berlibur di sana dua pekan lalu, 18-23 Februari 2020. Ini hanya pengalaman sebagai turis selama enam hari di negara sosialis itu.

Selama liburan di Vietnam, kami lebih banyak di Ho Chi Minh City, ibu kota bisnis negara ini. Kami menginap dan menikmati objek-objek wisata populer di kota ini. Hanya sehari pergi ke tempat piknik warga lokal berjarak sekitar 40 km dari Distrik 1, pusat kota Ho Chi Minh City.

HCMC, nama pendek kota yang dulunya bernama Saigon ini, bisa disebut sebagai pusat wisata Vietnam bagian selatan. Pada 2018 setidaknya 36,5 juta turis berkunjung ke kota ini dengan 7,5 juta adalah turis asing dan 29 juta turis domestik.

Jumlah itu tergambar selama enam hari kami di sana. Turis berkulit putih dan berwajah Kaukasian memenuhi tempat-tempat yang kami kunjungi, seperti Museum Sejarah Vietnam, Kantor Pos Pusat, Musem Perang Vietnam, dan lain-lain.

Tak banyak wajah Asia, terutama Cina di antara turis yang lalu lalang. Padahal, seperti halnya di Bali, turis dari Cina dan Australia adalah yang terbanyak. Hanya sesekali ada turis dari Jepang dan India. Turis dari Indonesia? Kami tidak pernah menemukannya.

Tidak adanya turis Cina tentu saja karena memang negara itu sedang melarang warganya untuk keluar negeri setelah merebaknya virus corona. Provinsi Wuhan, Cina adalah tempat ditemukannya virus ini pertama kali. Vietnam, negara tetangga Cina, pun terkena dampaknya.

Meskipun demikian, Vietnam terlihat siap sekali mengantisipasinya. Ini hanya sejumlah penanda bagaimana kesiapan tersebut. Sekali lagi dari kacamata turis, bukan jurnalis apalagi ahli kesehatan.

Pertama, pengumuman dan imbauan di mana-mana.

Di semua tempat yang kami kunjungi, terutama di dalam kota, selalu ada poster atau spanduk perihal coronavirus. Meskipun lebih banyak dalam bahasa Vietnam, toh aku masih bisa memahami sedikit-sedikit. Sebab, imbauan itu juga disertai gambar.

Malahan di tempat-tempat pariwisata, poster semacam itu ditempel di tempat menonjol. Misalnya di tempat pembelian tiket disertai terjemahan dalam bahasa Inggris.

Kedua, penyediaan tempat membersihkan tangan.

Tempat-tempat publik di HCMC menyediakan pembersih tangan (hand sanitizer) ataupun tempat untuk mencuci, semacam wastafel. Di Museum Perang Vietnam atau War Remnant Museum, aku lihat selalu ada meja khusus dengan petugas yang menyediakan pembersih tangan ini.

Hal serupa juga terlihat di jalan pusat buku di dekat Gereja Katedral Notre Dame. Tidak hanya di ujung jalan, tetap juga di beberapa toko di jalan sepanjang sekitar 150 meter ini. Karena itu, para turis atau warga biasa juga bisa dengan mudah membersihkan tangan jika jalan-jalan.

Ketiga, penggunaan masker.

Mungkin karena sudah menemukan kasus terlebih dulu, warga di Vietnam pun terbiasa memakai masker di mana-mana. Bisa jadi karena memang sudah kebiasaan juga sih mengingat tingkat polusi di HCMC memang termasuk tinggi akibat kendaraan bermotor.

Menariknya, pemerintah Vietnam menyediakan masker gratis ini kepada turis. Aku sendiri tidak pernah menemukannya, tapi para petugas di tempat-tempat turis jelas mengenakannya. Sebagai bagian dari pencegahan, tindakan semacam ini cukup memberi ketenangan.

Tiga hal di atas, sekali lagi, hanya berdasarkan apa yang terlihat secara kasat mata. Ketika aku cek lebih lanjut di situsweb Kementerian Pariwisata Vietnam mereka juga melakukan upaya lain, seperti penundaan festival, penutupan tempat wisata untuk sementara, dan tentu saja aktif membagi kabar-kabar terbaru untuk penanganan.

Sebagai turis, aku merasa lebih tenang. Percaya bahwa negara ini memang serius menghadapi virus corona.

Namun, begitu balik ke Bali, rasanya kok belum ada upaya pencegahan serius. Masuk bandara hanya dipindai suhu tubuhnya, itu pun tak tahu bagaimana teknisnya, dan pengisian kartu kewaspadaan kesehatan. Sudah itu saja.

Tak ada informasi lebih detail bagaimana pencegahan atau penanganan virus corona di Bali, terutama bagi para turis. Jadi, ya, wajar kalau bertanya-tanya: serius gak sih Bali ini menghadapi ancaman virus corona?

No Comments Yet.

Leave a Reply

Your email address will not be published.