
Bentrok antarpreman terjadi kembali di Bali.
Pemicunya, menurut berita-berita di media massa, bermula dari Penjara Kerobokan, Kamis siang kemarin. Dua kelompok preman di sana berkelahi di dalam penjara.
maka, menulislah untuk berbagi, agar ceritamu abadi.

Bentrok antarpreman terjadi kembali di Bali.
Pemicunya, menurut berita-berita di media massa, bermula dari Penjara Kerobokan, Kamis siang kemarin. Dua kelompok preman di sana berkelahi di dalam penjara.
Bangunan kotak-kotak menjulang tinggi di Sanur itu terlihat aneh.
Selama ini, ada ciri khas tiap wilayah pariwisata Bali. Sanur terkenal dengan akulturasi Bali tradisional dengan modern. Kuta identik dengan Bali modern. Ubud sebagai Bali tempo doeloe.
Continue reading “Berubahnya Arsitektur dan Karakter (Orang) Bali”
Menjelang berakhir, diskusi kami ternyata malah memanas.
Dua pihak berargumentasi dengan keras. Bahasa tubuh keduanya pun sama. Sony si fotografer berbicara dengan lantang. Dia berdiri bangkit dari kursi ketika semua peserta duduk. “Tidak bisa. Jurnalis itu seharusnya melaporkan kasus itu ke polisi,” kata Sony.
Pada awalnya, nenek moyang manusia dilahirkan bersama batu.
Lalu, si nenek moyang itu bermain bersama batu, si benda mati tersebut. Sebagai makhluk kesayangan Tuhan, maka dia mendapat hak istimewa dari Tuhan untuk meminta apa saja.
Pelajaran ketika masih kuliah: berpura-puralah.
Pura-pura itu biasanya jadi pilihan kami, sebagian mahasiswa yang ingin nebeng sepeda motor teman tapi tak bawa helm. Kami kuliah di Kampus Bukit Universitas Udayana di Jimbaran. Continue reading “Ketika Agama Cuma Kedok Semata”
Refleksi usai mendampingi istri melahirkan lewat water birth.
Mendampingi istri melahirkan ini merupakan pengalaman pertamaku. Pada kelahiran anak pertama kami, Bani Nawalapatra, aku tak terlalu banyak mendampingi. Salah satunya karena proses kelahirannya lewat operasi sesar.
Continue reading “Water Birth, Melawan Mitos Memelihara Kesakralan”
Nulis tentang periboga Lombok mengingatkanku pada NTT.
Setiap kali ke Nusa Tenggara Timur (NTT), seperti Sumba, Flores ataupun Timor, aku selalu kecewa untuk urusan lidah.
Ketika kekayaannya menghidupi kota, desa justru merana.
Desa memang hanya mendapat sisa-sisa dari rempah yang diisap kota. Begitulah perjalanan ke Gunung Batur dan sekitarnya pertengahan April lalu mengingatkanku.
Paris adalah ironi. Ini mungkin generalisir berlebihan. Tapi, itulah yang aku simpulkan.
“Are you speak English?” tanya seorang perempuan paruh baya padaku ketika kami baru saja sampai di depan Notre Dame, Paris, Sabtu lalu. Perempuan berusia sekitar 40 tahun itu memberikan kartu pos padaku.