Selamat Bersenang-senang Kembali, Mbak..

0 , Permalink 0

Kabar duka datang malam tadi. Seorang teman kembali berpulang.

Moyong, teman di dunia HIV/AIDS dan adiksi, yang mengabarkannya lewat Facebook. “Selamat Jalan kawan, aku hanya bisa mengantarmu sampai disini. Sampaikan salamku ke teman2 yang telah mendahului. Semoga kalian bisa berkumpul kembali dialam sana dan melanjutkan rasa persaudaraan dan kebersamaan dulu. Dan menuntun kami yang masih tersisa utk berjuang dan melawan demi kebaikan anak cucu kita kedepan,” tulis Moyong .

Teman yang pergi kali ini adalah Mbak Yeni. Seperti ditulis Moyong, Mbak Yeni kini menyusul teman-teman lain yang sudah duluan pergi. Wahyu, Gung Q, Mega, dan banyak lagi.

Kepergian Mbak Yeni terasa paling mengejutkan. Aku lama sekali tak bertemu dengannya. Padahal, aku banyak belajar dari dia ketika masih hidup.

Ada kenangan khusus bersama Mbak Yeni yang hampir selalu aku ingat tiap kali berbagi pengalaman di kelas jurnalisme warga, liputan panjang hingga sekitar tiga bulan sekitar tahun 2009. Ketika itu, Mbak Yeni jadi narasumber utamaku.

Tema liputan mendalam waktu itu tentang program pembagian jarum suntik steril untuk pengguna heroin. Mbak Yeni, mantan pengguna heroin dengan jarum suntik (penasun) yang juga orang dengan HIV/AIDS (ODHA), petugas lapangan di Yakeba.

Tugasnya membagi jarum suntik sekaligus kampanye pengurangan dampak negatif penyalahgunaan narkoba suntik.

Selama sekitar tiga bulan, meskipun tidak terus menerus, aku mbebek dengan Mbak Yeni. Blusukan ke daerah-daerah kumuh di Kuta dan Seminyak, di mana para penasun berada. Ikut ngobrol dengan mereka bersama Mbak Yeni.

Sesekali, aku ikut Mbak Yeni ke kontrakannya di daerah Panjer, Denpasar di mana dia dan pasangannya, bule Australia yang juga penasun dan ODHA, tinggal. Sesekali pula aku dan teman fotografer ikut mereka sekadar ngobrol di rumah rumatan methadone, di mana pasangan ini ikut terapi.

Di tempat rumatan itu pula aku melihat bagaimana para penasun memakai heroin. Ada yang masih berpakaian adat, ada yang baru selesai sholat Jumat, ada pula polisi berpakaian lengkap. Karena Mbak Yeni, aku bisa melihat itu semua sekaligus menggali cerita di baliknya.

Selesai liputan mendalam untuk buku dan juga Playboy Indonesia itu, aku lalu jarang bertemu Mbak Yeni. Hanya sesekali ketika aku ke Yakeba atau pas bantu Ikatan Korban Napza (IKON), kelompok advokasi para penasun di Bali.

Dari Mbak Yeni aku belajar bagaimana gigihnya para petugas lapangan ini berusaha agar HIV tak makin banyak menyebar di kalangan penasun. Dengan tubuh ringkihnya, Mbak Yeni membagi jarum suntik steril itu meski kadang harus berurusan dengan polisi.

Kemudian sebuah kabar datang, Mbak Yeni masuk penjara lagi, tertangkap karena relapse, kembali pakai heroin. Aku belum pernah membesuknya sama sekali. Aku selalu kecewa ketika mendapatkan kabar teman-teman yang sudah “bersih” kemudian tertangkap masuk penjara lagi.

Setelah itu, aku tak pernah kontak sama sekali dengannya sampai kemudian datang kabar dari Moyong malam tadi, Mbak Yeni telah pergi selamanya. Dia telah kembali. Dia menyusul semua teman di dunia kami yang sudah terlebih dulu berpulang.

Selamat beristirahat, Mbak. Terima kasih sudah pernah berbagi pengalaman dan kisah hidup kepadaku. Semoga bisa bersenang-senang dengan teman-teman di dunia barumu..

No Comments Yet.

Leave a Reply

Your email address will not be published.