Cerita Warga yang Tak Biasa

Secara resmi, kami sudah menutup kelas pukul 4.30, Minggu (6/6) sore itu. Kami harus mengakhiri materi tentang blog itu 30 menit lebih awal dari jadwal. Tapi, bukannya bubar, hampir seluruh peserta malah minta kelas dilanjutkan.

Maka, hari terakhir Kelas Jurnalisme Warga di Sloka Institute, pun berlanjut. Aku, dengan senang hati, menemani sembilan peserta yang masih mau belajar tersebut bersama Eka Dirgantara dan Intan Paramitha.

Continue reading “Cerita Warga yang Tak Biasa”

Making citizen journalism works

Citizen journalism team after visit unieuws.nl. (Photo: Edy Can)

Yesterday, we visited RTV Utrecht. It is a media centrum in Utrecht, the Netherlands. We, five of participants of media online training in Hilversum, discussed and explored mainly about citizen journalism website. It was very interesting to know more about how it’s website, uniews.nl, works.

Here is the presentation we have based on the visit. This material compiled by us: Edy, Komang, Imung, Iman, and me. We presented the material in Corner Room today.

Media visit to RTV Utrecht

Tak Semua Informasi Layak Dipercaya

Dunia maya adalah belantara tempat jutaan informasi terserak. Jika tak hati-hati memeriksa, kita mudah tersesat di dalamnya.

Maka, kita perlu memeriksa, memeriksa, dan memeriksa lagi tiap informasi yang kita peroleh dari internet. Salah satunya dengan melihat sejauh mana sumber informasi, blog maupun website, di internet itu bisa kita percaya.

Continue reading “Tak Semua Informasi Layak Dipercaya”

Balinese girl triumphs at international photo contest

Dressed in a white traditional Balinese kebaya (blouse) and long blue skirt, Wayan Mertayani says she never thought she could win the Anne Frank Foundation international photo contest in Amsterdam.

The work of the 14-year old girl was chosen from among 200 contestants from across the world. This year’s competition was themed “What’s Your Dream?”

Continue reading “Balinese girl triumphs at international photo contest”

Dari Rimbun Hutan Menjaga Kebebasan

Senin, 3 Mei ini minggu kedua bagi kami di Hilversum, Belanda. Kami, 18 anggota Aliansi Jurnalis Independen (AJI), sedang mengikuti kursus New Media for Independent Journalism di Radio Nederland Training Centre (RNTC) di kota berjarak sekitar 25 km selatan Amsterdam ini. Kursus yang diadakan AJI Jakarta dan Neso Indonesia ini pada 26 April hingga 14 Mei 2010.

Bagiku, tugas-tugas kursus makin hari makin menarik. Hari ini, misalnya, kami mendapat tugas untuk mengambil foto dan -kemudian- video di kawasan Radio Nederland Worlwide (RNW). Aku bersama Komang Wahyu Dhyatmika, wartawan TEMPO yang juga Ketua AJI Jakarta, dalam satu kelompok.

Continue reading “Dari Rimbun Hutan Menjaga Kebebasan”

In citizen (journalism) we trust

When I started building Bale Bengong, a Bali-based citizen journalism website in June 2007, I wasn’t really optimistic. At that time, I only thought that journalism I knew had a lot of lack or even contradictions.

Therefore, I believed that we should bring a new approach to journalism. And I think, citizen journalism is one of the answers.

Continue reading “In citizen (journalism) we trust”

Mudahnya Masuk Negeri Belanda

Yes. Akhirnya kami sampai juga di Belanda Sabtu pagi sekitar pukul 9 waktu Belanda. Setelah terbang selama sekitar 14 jam, termasuk transit dua jam di Kuala Lumpur, Malaysia, pesawat Malaysia Airlines kami mendarat di Bandara Schipol, Belanda.

Ada 18 orang dalam rombongan ini. Kami semua anggota Aliansi Jurnalis Independen (AJI) yang akan mengikuti kursus new media di Hilversum, Belanda. Kursus di Radio Nederland Training Centre (RNTC) ini diadakan oleh AJI Jakarta dan Neso Indonesia.

Continue reading “Mudahnya Masuk Negeri Belanda”

Setelah Benih Kami Semai

Kelas Jurnalisme Warga Sloka Institute Bali

Sabtu ini hari terakhir Kelas Jurnalisme Warga di Sloka Institute. Pelatihan ini kami adakan selama empat hari tiap Jumat dan Sabtu. Hari pertama pada Jumat, 22 Januari kemudian disambung pada 23, 29 dan 30 Januari 2010. Pelatihan jurnalistik bukan hal baru bagi kami di Sloka. Tapi pelatihan dalam bentuk kelas dan agak intensif, inilah yang pertama kali. Ada beberapa hal yang membuatnya berbeda dari pelatihan-pelatihan yang pernah kami adakan sebelumnya.

Pertama, peserta. Kalau dalam pelatihan sebelumnya jumlah peserta sekitar 20 atau bahkan lebih, maka kali ini hanya separuhnya, 10 orang. Dengan peserta yang sedikit, kami merasa bisa lebih intensif. Tiap tulisan yang dibuat peserta bisa kami diskusikan di kelas, meski agak buru-buru karena waktu yang hanya sekitar 30 menit. Tapi aku sendiri, sebagai fasilitator, bisa membahasnya kemudian dengan lebih panjang seusai pelatihan.

Continue reading “Setelah Benih Kami Semai”