Pakai Twitter Agar Lebih Pinter


Ketika semakin jarang ngeblog, aku justru makin rajin mantengin Tweetdeck.

Di aplikasi Tweetdeck, pengguna bisa mengatur banyak akun jejaring sosial. Selain Facebook dan Twitter, pengguna bisa menambah akun Foursquare (penanda lokasi), Myspace (musik), Buzz (mikroblogging ala Google), dan Linkedin (profil profesional).

Continue reading “Pakai Twitter Agar Lebih Pinter”

Perbanyak Semut untuk Menandingi Gajah


Kita tak punya modal melawan gajah. Maka, cukuplah perbanyak semut. Setidaknya dia akan memberikan pilihan.

Ini bukan soal hewan-hewan koleksi di kebun binatang. Ini soal strategi membuat wacana berbeda di antara media-media arus utama di Bali. Sebab, kurangnya media alternatif itu membuat suara-suara alternatif masyarakat sipil juga tak terlalu muncul di media.

Continue reading “Perbanyak Semut untuk Menandingi Gajah”

Tak Perlu Penanda untuk Pewarta Warga

Seorang teman pernah dengan bersemangat menunjukkan “kartu pers”-nya sebagai pewarta warga. Tapi, kartu itu untuk apa?

Menurutku, seorang pewarta warga tidaklah perlu mendapat identitas khusus sebagai pewarta, seperti kartu pers. Ada, setidaknya, dua alasan.

Continue reading “Tak Perlu Penanda untuk Pewarta Warga”

Pers Mahasiswa, Gunakanlah New Media

Ketika media arus umum bergairah mengantisipasi gelombang new media, pers mahasiswa justru tenggelam.

Karena itu, pers mahasiswa (Persma) harus lebih sigap menghadapi perubahan ini. Mereka tak boleh melulu mengandalkan romantisme sebagai pers alternatif dari media arus utama (mainstream) saat ini.

Continue reading “Pers Mahasiswa, Gunakanlah New Media”

Mereka yang Mesum, Bukan Erwin!

Siang ini Erwin Arnada akhirnya resmi ditahan oleh Kejaksaan Negeri Jakarta Selatan. Erwin, mantan Pemimpin Redaksi Playboy Indonesia, dituduh melanggar kesusilaan.

Vonis ini masih kontroversi. Sebagian orang, terutama pegiat kebebasan pers di Indonesia, menilai vonis tersebut tidak tepat karena tidak menggunakan Undang-undang (UU) Pers No 40 tahun 1999. Majalah Playboy Indonesia adalah produk jurnalistik. Karena itu dia pun harus diadili dengan UU yang mengatur tentang pers.

Continue reading “Mereka yang Mesum, Bukan Erwin!”

Setengah Mati Mendorong Keterlibatan Warga

Minggu ini hari terakhir kelas menulis jurnalisme warga oleh Sloka Institute. Maka, berakhir pula kegiatan dua bulanan kami sepanjang tahun 2010 ini.

Kelas Menulis Jurnalisme Warga, kami biasa menyingkatnya Kamis, merupakan upaya kami untuk terus mengampanyekan jurnalisme warga di Bali. Kami berharap melalui kelas ini, warga akan tahu tentang jurnalisme warga. Setelah tahu, kami berharap mereka akan bersedia dan bisa menuliskan ceritanya ke balebengong.

Continue reading “Setengah Mati Mendorong Keterlibatan Warga”

Lomba Jurnalistik Kompas untuk Mahasiswa

Hadiahnya menarik. Selain duit juga kesempatan ikut kursus jurnalistik.

Harian Kompas mengadakan Lomba Jurnalistik untuk mahasiswa se-Bali. Kegiatan ini bertema “Mungkinkah Bali jadi Pulau Hijau”. Lomba terbagi jadi dua, yaitu tulisan feature dan foto jurnalistik. Akan ada pemenang di masing-masing kategori dengan hadiah Rp 3 juta untuk juara I, Rp 2 juta untuk juara II, dan Rp 1 juta untuk juara I.

Continue reading “Lomba Jurnalistik Kompas untuk Mahasiswa”

KISS agar Tulisan Lebih Manis


Bukan lagi media yang mengendalikan pembaca, tapi sebaliknya, pembaca yang mengendalikan media.

Begitulah prinsip media online. Terlalu banyak pilihan media bagi pembaca. Kalau pembaca tak suka, dia tinggal klik, memindahkan alamat yang dia baca. Dari situs di Indonesia, dia bisa langsung pindah ke negeri antah berantah.

Continue reading “KISS agar Tulisan Lebih Manis”

Kelas Menulis Jurnalisme Warga Angkatan IV

Kembali hadir dengan semangat baru dan pemateri baru…

Pemateri:
1. Pande Komang Yanes Setat (Wartawan Kantor Berita Antara Bali)
2. I Wayan Juniartha (Wartawan The Jakarta Post)
3. I Putu Hendra Brawijaya (Anggota Bali Blogger Community)

Continue reading “Kelas Menulis Jurnalisme Warga Angkatan IV”