Pada masa Perang Dunia II, Emmerich am Rein luluh lantak karena pengeboman. Kini, kota di pinggiran Jerman itu tetap menawan.
Menghabiskan sisa satu hari sebelum meninggalkan Belanda, aku memutuskan berkunjung ke Emmerich am Rein, kota kecil dekat perbatasan Belanda dan Jerman. Aku memilih kota di distrik Cleves, Provinsi Dusseldorf ini dengan pertimbangan dekatnya lokasi, mepetnya waktu, murahnya biaya.
Author: a!
Silang Sengketa Dua Bahasa di Belgia
Papan keterangan jurusan kereta itu membingungkanku.
Di sana tertulis Louvain, nama kota yang baru aku tahu pertama kali di sini. Sementara di tiket yang aku pegang, tertulis jurusan kereta tersebut adalah Lueven, kota kecil berjarak sekitar 45 km dari Brussels.
Patung-patung Tua yang Bercerita
Semula aku hanya berniat melihat Manneken Pis, patung anak kecil sedang kencing ikon Belgia. Ternyata aku malah menemukan banyak patung lain di antara menawannya lansekap ibukotanya, Brussels.
Tak banyak yang aku persiapkan ketika berencana berkunjung ke Brussels, Belgia. Aku hanya berniat mampir tak lebih dari setengah hari sebelum melanjutkan perjalanan ke Leuven, kota berjarak sekitar 30 km dari Brussels.
Tujuan utamaku ke Belgia memang bukan untuk jalan-jalan tapi berkunjung ke kantor pusat Vredeseilanden, lembaga swadaya masyarakat (LSM) internasional yang berkantor pusat di Leuven. Lembaga ini memiliki kantor regional di tujuh negara termasuk VECO Indonesia, tempatku kerja paruh waktu.
Dua Kejutan di Kota Persinggahan
Kafe tempat Karl Marx pernah membaca manifesto komunisme di Belgia itu membuatku senang bukan kepalang. Inilah kejutan kedua mampir di Brussels, Belgia.
Kejutan sebelumnya adalah Town Hall. Bangunan berumur lebih dari 600 tahun ini berada di tengah Grand Palace, kawasan paling populer di Brussels, ibukota Belgia. Jaraknya tak sampai lima menit jalan kaki dari stasiun pusat Brussels.
Bangunan gothic yang dibangun pada tahun 1402 ini tak langsung terlihat ketika kami keluar dari stasiun pusat Brussels. Dia tersembunyi di antara hotel, restoran, kafe, toko souvenir, dan bangunan lain di kawasan ini. Tapi, setelah melewati hiruk pikuk turis dan sekitar tiga gang, kami sampai kawasan Grand Palace.
Selain Egois, Mereka juga Sinis
Merasa sebagai borjuis, orang Perancis malas bicara dalam Bahasa Inggris.
Karena ingin tahu di mana tempat lain untuk membeli tiket, aku bertanya pada petugas di stasiun Gaellani, Paris bagian barat pagi itu. Dia menjawab dalam bahasa yang tak ku mengerti. Dari dialeknya, aku yakin itu Bahasa Perancis. Ini toh juga di Paris.
Aku mengajaknya bicara dalam Bahasa Inggris. Dia tetap saja ngomong dalam bahasa yang tak kumengerti itu. Karena aku tak mengerti apa maksudnya, dan dia juga tak mau diajak ngomong Bahasa Inggris, aku lalu pergi mencari sendiri tempat membeli tiket itu.
Ironi Pengemis di Kota Paris
Paris adalah ironi. Ini mungkin generalisir berlebihan. Tapi, itulah yang aku simpulkan.
“Are you speak English?” tanya seorang perempuan paruh baya padaku ketika kami baru saja sampai di depan Notre Dame, Paris, Sabtu lalu. Perempuan berusia sekitar 40 tahun itu memberikan kartu pos padaku.
Menjadi Tikus Keliling Paris

Bermodal 4,5 euro, kami keliling Paris dari bawah tanah. Sayang, karcis dan bukuku hilang.
Begitu keluar dari stasiun metro di kawasan Museum Leuvre Sabtu pekan lalu, kami semua langsung girang bukan kepalang. Persis di depan kami berdiri museum tempat menyimpan lukisan Monalisa karya Leonardo di Vinci itu. Kami semua berseru kompak, “Waaaoow..”
Bagian museum yang kami lihat pagi itu tingginya sekitar 10 meter. Bangunan ini awalnya adalah benteng. Karena itu bentuknya seperti kotak raksasa dengan ukiran-ukiran di bagian depan yang sangat detail. Warnanya dominan putih susu.
Making citizen journalism works

Yesterday, we visited RTV Utrecht. It is a media centrum in Utrecht, the Netherlands. We, five of participants of media online training in Hilversum, discussed and explored mainly about citizen journalism website. It was very interesting to know more about how it’s website, uniews.nl, works.
Here is the presentation we have based on the visit. This material compiled by us: Edy, Komang, Imung, Iman, and me. We presented the material in Corner Room today.
Tak Semua Informasi Layak Dipercaya
Dunia maya adalah belantara tempat jutaan informasi terserak. Jika tak hati-hati memeriksa, kita mudah tersesat di dalamnya.
Maka, kita perlu memeriksa, memeriksa, dan memeriksa lagi tiap informasi yang kita peroleh dari internet. Salah satunya dengan melihat sejauh mana sumber informasi, blog maupun website, di internet itu bisa kita percaya.
Balinese girl triumphs at international photo contest
Dressed in a white traditional Balinese kebaya (blouse) and long blue skirt, Wayan Mertayani says she never thought she could win the Anne Frank Foundation international photo contest in Amsterdam.
The work of the 14-year old girl was chosen from among 200 contestants from across the world. This year’s competition was themed “What’s Your Dream?”
Continue reading “Balinese girl triumphs at international photo contest”



