Muhadloroh, di Mana Anak Muda Belajar Bicara

0 , Permalink 0
Sumber foto mbs-3.blogspot.com

Sumber foto mbs-3.blogspot.com

Nely, sepupuku, menodong ketika aku pulang kampung pekan lalu.

Tumben ada yang menodong untuk berbagi pengalaman dan motivasi begini. Jadi ya terima saja meskipun tidak terlalu percaya diri.

Sebenarnya, aku memang tak terlalu percaya diri jika berbagi motivasi. Juga tidak terlalu suka. Menurutku tiap orang punya jalannya sendiri-sendiri. Satu cerita keberhasilan bagi satu orang belum tentu berlaku sama bagi orang lain.

Gara-gara ditodong berbagi pengalaman dan motivasi itu, aku jadi ingat kegiatan asyik ketika aku seusia mereka. Tentang kegiatan rutin yang malam itu mereka ikuti juga, muhadloroh.

Muhadloroh ini kegiatan mingguan Ikatan Pelajar Muhammadiyah (IPM), yang pada zamanku sempat berganti nama Ikatan Remaja Muhammadiyah (IRM. Setahuku semua IPM ranting mengadakan kegiatan serupa. Tempatnya bisa di masjid atau sekolah.

Kegiatannya berupa berbicara, tepatnya berceramah, di depan banyak orang, terutama sesama anggota IPM. Topiknya bisa bermacam-macam. Tergantung kebagian jadi apa. Bisa jadi belajar jadi khotib atau tukang khotbah Jumat dengan suasana lebih santai.

Secara umum, urutan kegiatan muhadloroh sebagai berikut: pembukaan, pembacaan ayat suci Al-Quran, pembicara 1 sampai 4, lain-lain, dan penutup. Acara inti adalah pembicara 1-4 tersebut. Karena itu, biasanya yang mengisi adalah anggota yang lebih seniro. Anggota baru jarang yang jadi pembicara. Biasanya mereka mengisi lain-lain.

Lain-lain itu bisa beragam. Sifatnya hiburan. Bisa baca puisi, pantun, atau menyanyi.

Adapun pembicara, biasanya membawa topik tertentu. Bisa isu sosial, agama, budaya, pendidikan, lingkungan, dan lain-lain. Bisa dengan teks atau tanpa teks.

Semua pengisi muhadloroh harus berbicara di depan. Karena itulah, mau tak mau dia juga harus belajar menguasai audiens. Bisa dengan topik atau cara ceramah yang menarik. Dan, ini tidak mudah.

Tapi, dengan cara itulah kami – setidaknya aku sendiri – tertantang belajar berbicara di depan. Bagaimana bisa menemukan topik baru dan tidak garing tapi juga berbicara dengan gaya dan intonasi yang semoga menarik perhatian peserta lain.

Menurutku, sekali lagi menurutku, ini berpengaruh terhadap keberanian dan kemampuan peserta untuk berbicara di depan umum. Makin sering maka makin terlatih dan terbiasa. Dari terbiasa akan bisa. Ala bisa karena biasa.

Keberanian sering kali datang karena terpaksa. Tapi tentu lebih mudah jika karena sudah terlatih dan terbiasa.

Dari muhadloroh di tingkat kampung, belajar ngomong dan berorganisasi berlanjut ke tingkat lebih tinggi. Misalnya cabang di tingkat kecamatan atau daerah di tingkat kabupaten. Kadang ada pelatihan organisasi, diskusi, atau sekadar rapat.

Menyenangkan sih. Jadi bisa memperluas wawasan dan jaringan sekaligus menambah keberanian.

Ah, tapi kini sepertinya anak-anak muda di kampung kelahiranku tak terlalu tertarik lagi kegiatan semacam itu. Mereka ternyata menghadapi tantangan lebih besar. Begitu pula yang mengisi acara.

Dulu, saat muhadloroh, para pembicara hanya menghadapi masalah anak-anak yang ngantuk. Sekarang harus menghadapi anak-anak yang sibuk dengan gawai masing-masing. Tubuhnya di ruangan tapi pikirannya entah ke mana.

No Comments Yet.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *